HMINEWS.COM- Diawali dari kutipan sabda suci Datuknya, Rasulullah saww: “Puasa adalah perlindungan dari bencana dunia dan selubung dari hukuman akherat”. Sang guru para pemuka mazhab itu pun menjelaskan tentang hakekat puasa. Lisan suci itu bertitah: “jika kamu berpuasa, maka berniatlah menahan dirimu dari nafsu-nafsu jasmaniah dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi yang muncul dari setan dan kawan-kawannya”.

Awal dari bencana dunia dan hukuman akherat adalah keserakahan yang menguasai diri hingga membuat jiwa kita terikat dan terbelenggu pada ikatan-ikatan materi duniawi dan terlenalah kita pada kesenangan jasmaniyah yang melalaikan jiwa dari kefitriannya yang selalu merindu pada kesejatian. Dan ternodalah hati dengan keserakahan, serta terkotorilah akal dengan hawa nafsu yang terus-terusan mencari pembenaran. Walhasil bencana dunia dan hukuman akherat pun tak terelakkan. Karena jiwa sejatinya berhasrat untuk kembali pada fitrahnya yang azali namun kita membawanya pada kefanaan materi duniawi. Inilah awal dari bencana itu dan inilah permulaan dari hukuman itu.

Lisan suci cucu Nabi yang suci itu bersabda: “Puasa membunuh hasrat diri dan nafsu keserakahan dan dari situ timbul kesucian hati, kebersihan anggota-anggota badan, pengolahan jiwa dan raga, rasa syukur atas segala rahmat yang diberikan, sedekah untuk kaum miskin, meningkatnya pengharaoan yang terungkap dari kerendahan hati, kesederhanaan, penyesalan, dan selalu menyandarkan diri pada perlindungan kepada Allah swt. dan ini adalah jalan tuk patahkan egoisme diri, meringankan hal-hal yang buruk, dan melipatgandakan kebaikan”.

Maka dengan keterjagaan diri dari belitan obsesi ego pada hasrat-hasrat duniawi berarti kita telah mempersiapkan jiwa pada pembebasannya yang hakiki tuk kembali pada fitrahnya yang suci laksana bayi yang baru saja menggenggam perjanjian alastu birabbi.

Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi Sayyidina Muhammad. wa ajjil farajahum. Assalamu alaika Ya Shiddiq wal musaddiq fi qawli wal fi’li

Marhaban Ya Ramadhan

Sabara Putera Borneo

Dosen Universitas al Asy’riyah Mandar