Tidak ada pergulatan yang paling berat bagi manusia, selain pergulatan dengan dirinya sendiri. (Thuong Huo Dhuong)

HMINEWS.COM- Alkisah sepulang dari Badar, perang akbar pertama antara umat Islam dan kaum kuffar, di mana pasukan muslim yang jumlah tiga kali lebih kecil berhasil peroleh kemenangan yang gilang-gemilang. Tiba-tiba di tengah sorak-sorai dan yel-yel kemenangan, Rasulullah saww bersabda yang memecah euforia massa, “sesungguhnya kita baru saja dari jihad kecil dan bersiaplah untu jihad yang lebih besar”. Para sahabat pun heran dan bertanya; “Ya Rasulullah, perang apa lagi yang lebih besar dari perang Badar ini?”, Lelaki agung itu menjawab; “Jihad akbar (perang besar) adalah jihad melawan hawa nafsumu”.

Puasa merupakan riyadhah yang lebih ultim dari sekedar laku tapa, karena puasa memantik nalar rasional sekaligus menyuluh rasa cinta yang meluap-luap dari seorang insan. Kesadaran rasional terpantik untuk melawan bengkalai diri yang paling berpotensi menghadang jalannya hijrah kemanusiaan. Itulah hawa nafsu yang mengarahkan manusia pada bu’dul bahimi (Kecenderungan syaitaniyah) yang dehumanis. Puasa menekankan manusia untuk mengendalikan keliaran hawa nafsu, sehingga akal dapat menjadi penunggang yang baik yang mampu mengontrol diri untuk hantarkan jiwa berjalan pada jalannya.

Pada level awwam, puasa adalah sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya. Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan dan tidak terjebak pada kecenderungan pada bayang-bayang fatamorgana dunia. Pada level yang khusus, puasa adalah sebuah proses refleksi kedirian manusia untuk mendengar suara-suara kebenaran dari kedalaman nuraninya.

Itulah sebabnya, bagi kaum khawwas, puasa tidak sekedar menahan hasrat instingtif jasmaniyah secara fisikal semata, tapi juga mengendalikan kecenderungan-kecenderungan ragawiyah yang terbetik di pikiran dan dihatinya. Bagi kaum khawwas, puasa tak sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi puasa adalah proses “membunuh” segala potensi-potensi bengkalai kejiwaan.

Bagi kaum khawwasul khawwas, puasa adalah proses untuk menyingkap kebenaran sejati dari bisik sirr al-asrar dari kedalaman kalbu yang paling sublim. Oleh karena itu, puasa bagi kaum khawwasul khawwas adalah proses “peniadaan” dari segala selain DIA, agar dalam pikiran dan hati kita hanya ada DIA dan hanya tertuju padaNYA, tidak untuk selain DIA. Puasa adalah pertarungan primordial sekaligus kelana diri manusia pada kediriannya. Dan dalam kelana itu manusia harus berhadapan dengan “makhluk-makhluk” penggoda yang akan menghalangi jalannya.

Saya teringat pada sebuah kisah dalam Kitab Serat Dewa Ruci. Dikisahkan dalam kitab tersebut Bima berhasrat untuk bertemu dan menyari hikmah dari Dewa Ruci. Berjalanlah Bima ke arah gunung menembus hutan hingga akhirnya ia tiba di pinggir lautan. Dalam perjalanannya Bima dihadang oleh raksasi, naga yang menyemburkan api, dan siluman kera. Ketiganya adalah perlambang keserakahan, nafsu amarah, kelicikan dan egoisme. Setelah berhasil mengalahkan ketiganya Bima pun peroleh petunjuk bahwa Dewa Ruci adalah di dasar samudera. Menyelamlah Bima ke dasar Samudera tuk berjumpa dengan junjungannya, tapi alangkah terperangahnya Bima, ketika yang dijumpainya sebagai Dewa Ruci adalah sosok dirinya sendiri yang begitu sangat kecil.

Dalam kitab Bagavad Ghita, dikisahkan tentang Kresan yang bersabda pada Arjuna di medan kurusetra, “Wahai Arjuna sesungguhnya yang kau perangi bukanlah diri-diri yang tampak, tapi yang dibalik diri-diri yang tampak itu. Sebagai ksatria yang baik, kau diutus untuk melakukan perkelahian yang baik”. Perkelahian yang dimaksud oleh Sang Kresna itu adalah perkelahian internal antara diri kita dengan diri-diri yang tak tampak itu, yang letaknya ada “dalam” diri kita. Puasa sebagai jihad akbar, merupakan peperangan besar yang sangat dahsyat antara diri kita dengan “diri” kita sendiri.

Hidup ini adalah lingkaran derita (Samsara), Derita disebabkan oleh hasrat, Dan untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan “Meniadakan” hasrat. “Meniadakan” Hasrat dilakukan dengan melakukan delapan jalan Darma, (Sidharta Gautama).
Sabara Putera Borneo
Dosen Universitas al Asy’ariyah Mandar