Ramadhan Di Amerika

New York, HMINEWS.COM- Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan di Indonesia sungguh berkesan, negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Bulan Ramadhan membuat semua orang seperti terkena demam euforia Ramadhan, mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, jalan-jalan utama, sekolah-sekolah, pemerintahan, sampai kepada tayangan-tayangan televisi yang tiba-tiba saja berubah, dari sebelas bulan mengumbar aurat dengan dahsyatnya menjadi tampak manis berkerudung dan sibuk mengadakan konferensi pers bahwa mereka bertobat.

Meskipun kita tidak tahu mereka sungguh-sungguh atau tidak, tapi jelas-jelas mereka malu-malu atau tidak berani katakan “saya tidak puasa”. Pada pagi hingga siang hari rumah-rumah makan, mulai dari warteg, warung nasi sederhana sampai kepada restaurant siap saji menunjukkan toleransi mereka, dengan menutupi atau menghalang-halangi jendela atau pintu supaya tidak terlihat jelas siapa yang sedang makan di dalam dengan tujuan tidak mengganggu kekhusu’-an orang-orang yang sedang menjalankan ibadah Puasa.

Tapi sudah menjadi pemandangan biasa di siang hari bolong yakni warteg-warteg menampakkan aktivitasnya, kaki-kaki menggelayut tampak dari bawah bangku panjang. mereka berderet sedang asyik menikmati santapan siang. Ada suatu kejadian ketika mengunjungi sebuah pusat pembelanjaan di depok dalam bulan puasa, ada seorang pria berjenggot panjang bersama seorang wanita dengan lahapnya menikmati potongan pizza, dan setiap orang melihatnya dengan tatapan penuh tanya. Tapi dalam puasa kita harus positive thinking, mungkin saja pria itu sedang datang bulan…

Kalau puasa di United States of America tentu saja berbeda, karena memang minoritas beragama Islam. Tidak ada restaurant yang tertutup jendela dan pintunya, tidak ada tayangan khusus Puasa Ramadhan, tidak ada suara tadarus di corong pengeras suara, tidak ada ucapan-ucapan terpampang, tapi persis seperti hari-hari yang lain.

Kadang-kadang cukup menggoda, ketika di tengah siang terik dan panas mengendus wangi makanan dan melihat orang-orang menikmati es ditangan. Belum lagi godaan untuk mata yang sulit untuk selalu dialihkan dari pemandangan melenakan mata. Seperti kemarin, ada seorang pria dan gadis di atas kereta…tepat didepan mata, sang gadis china putih mulus yang memakai hotpant cream dan tank top putih corak bunga kecil itu berdiri membelakangiku, sedangkan sang pria sibuk memeluk dan mencium sambil juga memegangi bokong sang gadis.

Mengalihkan wajah ke kiri pantulan dinding merefleksikan adegan itu, memalingkan wajah ke kanan; ada seorang pria berkumis memakai rok panjang berwarna biru bikin hati ingin tertawa terbahak-bahak, dan ditambah lagi sideview deretan betis dan sembulan dada dengan beberapa warna dan ukuran berjejer disana. Pura-pura tidur tapi tidak mengantuk, memejamkan mata terasa serba salah…Puasa memang banyak tantangan dan cobaan.

Puasa Ramadhan tahun ini bertepatan dengan Summer, suhu udara berkisar antara 90 sampai 100 derajat Farenheit (32-37 derajat Celsius). Kadang-kadang terasa amat panas meskipun angin bertiup cukup keras. Berangkat ke tempat kerja pada siang hari dan tiba di sana pada waktu mereka sedang menikmati lunch baik itu di Cafetaria atau breaking room.

Senda gurau mengisi waktu setengah jam mereka sambil menikmati hidangan. Mereka tidak tahu apa itu puasa secara pasti dalam ajaran umat Islam, dan memang bukan kewajiban mereka untuk menghormati orang puasa. Paling tidak sehabis ambil wudhu segera sholat dzuhur dilaksanakan, kemudian pekerjaan segera berselang.

Berkerja sambil puasa memang terasa agak berat, apalagi tidak ada waktu santai, non-stop pekerjaan itu sambung menyambung, dalam hitungan detik terasa kepala tiada berisi kesadaran bak darah tiada memenuhi otak turun semua ke badan. Kadang-kadang terasa tiada sanggup menjalani 16 jam berpuasa, but this is must! dan rasa haru itu menyelinap begitu saja kedalam hati, tanpa terasa terucap “Ya Allah Puasa ini untukmu, Aku cinta padamu“.

Saat yang paling berkesan adalah ketika akan berbuka puasa (ifthar), berderet antri di coffe bar sambil bercengkerama, merasakan nikmatnya persaudaraan se-iman , sambil menanti untuk mendapatkan free Hot Tea dari pihak pimpinan toko, meskipun awalnya kami dapat gelas kertas ukuran besar, tapi akhir-akhir ini semakin mengecil saja ukuran gelas yang mereka berikan. Untuk masalah Ibadah Sholat, mereka hanya sediakan sajadah di dalam kotak hitam diujung lorong pintu darurat, sebuah gang sempit yang penuh sesak barang-barang, yang hanya cukup satu orang saja dan sulit untuk berjama’ah. Tapi bagaimanapun Puasa mengajarkan ikhlas dan sabar, dengan merasakan lapar dan dahaga ini kita belajar lebih jauh mengenai kepatuhan kepada sang Pencipta dan cinta kasih kepada sesama manusia. My God Allah, my life is only for you…Please love me and all of my beloved family, pouring us with happines in this world and after life. Amin.

New York 18:37 PM.

Ucok Saragih