NO EAT, PRAY, LOVE

HMINEWS.COM- Kenapa makan (eat)? Jawabannya karena manusia butuh makan, dengan makan organ-organ tubuh manusia yang terdiri puluhan bagian dan serba terperinci ini membutuhkan segenap energi untuk menjalankan tugas masing-masing.

Energi ini berasal dari zat-zat yang dikandung dari setiap makanan yang kita makan setiap hari. Makan, baik itu benda padat atau cair, akan memiliki pengaruh tententu terhadap kondisi keseluruhan dari organ tubuh. contohnya: jika kita minum kopi yang memiliki tingkat cafein tinggi, yang didapat adalah kita bisa terjaga cukup lama, karena zat dalam kopi memungkinkan menekan tekanan darah dengan merangsang kerja jantung untuk memompa lebih. Namun yang tidak baik dari kopi adalah, ketagihan dan high blood pressure. Begitu juga dengan minum alkohol baik itu wine, beer, champagne, vodka, martini dan sebagainya.

Minuman tersebut memberikan efek tenang yang cukup tinggi, karena alkohol bisa mengkondisikan tubuh dalam menerima sakit lebih dari normal. Namun efek dari minuman tersebut lagi-lagi ketagihan dan kerusakan sel-sel otak. Kalau makanan, kita ambil contoh jengkol (Pithecollobium Labatum). Makanan ini merupakan satu dari yang paling unik dimuka bumi, menghasilkan bau amat sangat tapi sungguh merangsang nafsu makan.

Dari penelitian zat dalam jengkol yang disebut dengan jengkolat memiliki daya rusak terhadap fungsi pembuangan air seni, zat ini bercampur dengan air seni adalah layaknya ratusan atau ribuan jarum-jarum kecil menusuki saluran pembuangan air seni.

Makanan adalah bahan bakar bagi manusia guna memenuhi kebutuhan tubuh dalam melangsungkan aktivitas sehari-hari. Dalam makanan terkandung zat karbohidrat, asam, glukosa, air, lemak, besi, vitamin, dan sebagainya. Namun apa jadinya kalau kita melaksanakan ibadah Puasa(no eat)? Tubuh menjadi kekurangan asupan, dan menjadi tidak bersemangat, lemas, dan malas. Dalam hal ini, ternyata manusia tidak melulu seperti mobil yang selalu cukup dengan bensin. Manusia memiliki satu tingkatan lebih tinggi dari makhluk lain, yakni memiliki kesadaran akan percaya kepada Tuhan.

Tuhan dalam konteks awam adalah tertinggi, terbesar, terhebat, terbaik, terkasih…

Organisasi untuk orang-orang yang mempercayai Tuhan disebut dengan agama (religion). Dalam agama manusia memiliki metode tersendiri dalam ‘mendekati’ Tuhan, yang disebut dengan do’a (Pray). Dalam do’a, manusia menggantungkan harapan, menyampaikan keluhan, membisikan rayuan, meminta balasan, menyampaikan keinginan, dan memohon ampunan.

Dalam do’a terdapat mekanisme misterius yang dapat mempengaruhi psikologi/kejiwaan manusia. Menimbulkan semangat baru, mengembalikan ketenangan, meredakan tekanan, mengisi jiwa, dan merintis senyuman. Disinilah ‘fungsi’ Tuhan mengambil peranan, manusia akan kembali dalam kesadaran awal mengenai esensi manusia bahwa Dia adalah segalanya.

Aktivitas sehari-hari cenderung membuat manusia lupa akan Tuhan. Apalagi ketika perut kenyang, manusia akan lebih mengikuti naluri hewani daripada logika. Karena energi dari dalam tubuh memungkinkan untuk beraktivitas lebih dan bertenaga. Semua cara dilakukan untuk menggapai kenikmatan, sikap intolerant, pilih kasih dan rakus.

Puasa dalam konteks ini, adalah moment sangat efektif untuk mengembalikan kesadaran akan Tuhan. Puasa menyebabkan lapar, lapar menjadikan lemah, dan dalam kondisi ini akan sangat memungkinkan untuk mengembalikan kesadaran/keinsyafan, bahwa manusia adalah makhluk lemah.

Dalam puasa kita merasakan rasanya haus dan lapar, merasakan sel-sel tubuh tidak memiliki cukup energi, serta tanpa sadar bisa menemukan cara untuk menyadari kembali akan Tuhan. Logika puasa adalah kembali, kembali menjadi makhluk yang taat kepada perintah Tuhan. Kita akan lebih intensif berdo’a, memuji, mengingat, kepada Tuhan.

Puasa juga bisa meningkatkan kepekaan sosial, dengannya bisa mengandaikan diri adalah orang-orang terlantar ataupun fakir miskin. Karena Puasa adalah mengejawantahkan cinta(Love) secara universal. Tidak pilih kasih dan egois…menjalar, merambat, melebar, membumi.

Manusia menerima cinta sejak dalam rahim, dilahirkan, disapih, dan seterusnya hingga dewasa. Namun ketika dewasa cinta itu semakin absurd, terjadinya pengikisan makna. Cinta tidak lagi murni, tapi cuma rekayasa. Ketika orang remaja atau dewasa laki-laki dan perempuan saling bertemu dan berujung kepada kamar hotel murahan atau kost-kost-an dan disana mereka menyelenggarakan tradisi primitif yang paling primitif, maka mereka sebut itu cinta.

Ketika mereka asyik masyuk dibawah pohon rindang nan teduh dan saling menyampaikan kata-kata rayuan, mereka menyebutnya cinta. Sedangkan cinta tidak seabsurd itu; karena cinta adalah pengorbanan, tanpa pamrih, dan alami. Itulah inti Puasa, No eat, Pray, and Love.

Apalagi yang terjadi di United States ini, dalam setiap aspek hidup mulai dari makanan hingga kebutuhan akan birahi. Konsumerisme besar-besaran selalu terjadi setiap saat dan waktu. Ketika kebutuhan manusia semakin meningkat, dan manusia cenderung berlebihan dan eksploitatif.

Menurut Fromm (1995). masalah eksistensi manusia adalah unik dalam keseluruhan alam. Manusia sudah mengambil jarak dengan alam, sekaligus masih berada di dalam alam, sehingga manusia sering memandang lingkungan hidup sebagai suatu sistem kehidupan di luar dirinya yang harus ditaklukkan dan dieksploitasi. Sikap dan tingkah laku yang eksploitatif ini berakar dari suatu paradigma bahwa alam diciptakan Tuhan untuk manusia, guna ditaklukan.

Berbeda dengan negara-negara dunia ke-3, yang masih sulit dan berkutat kepada prioritas pemenuhan kebutuhan sehari-hari. America sudah agak melampaui itu, mereka mulai sadar, bahwa hidup sehat adalah bukan masalah memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari tapi bagaimana meningkatkan kualitas makan (healthy eating). Mencoba mengurangi pengkonsumsian bahan pangan yang mengandung zat kimia (insektisida, fungisida, dll). Meskipun masih tahap awal, tapi terus berlangsung. Sebenarnya mudah, Puasa saja.

Tapi karena mereka tidak mengenal Puasa secara menyeluruh, sehingga penelitian dengan modal besar dilakukan terus menerus untuk mencapai hal itu. Dalam puasa, hampir 16 (enam belas) jam sistem percernaan tidak melakukan aktifitasnya, mereka ‘istirahat’. Dalam ‘istirahat’ ini ginjal, hati, dan jantung melakukan pembersihan secara menyeluruh, mereka ‘bertapa” membersihkan diri.

Ketika makan, minum, tempat tinggal, harta sudah tercukupi secara maksimal, manusia biasanya akan mengalami pengikisan kepekaan sosial. Kepekaan itu akan berubah menjadi subyektif, nepotis, dan egois, dan hal itu malah akan terus berakar jika tidak segera ditanggulangi. Kepedulian antar sesama menjadi sesuatu barang langka, meskipun terhadap saudara sekandung dan tetangga terdekat sekalipuni. Akar subyektifitas ini akan terus merambat hingga kepada kesadaran beragama. Intensitas kedekatan terhadap Tuhan mungkin tidak terlalu tampak berkurang,namun akan cenderung muncul mental sok suci dan mau benar sendiri.

Tuhan,-seperti pernah diucapkan oleh seorang ustadz-bagaimanapun selalu saja hadir dalam ‘kurang’, yakni ketika lapar, haus, sedih, resah, cemas, gundah, bimbang. Manusia-manusia subyektif akan menempatkan Tuhan sebagai Sekretaris pribadi, melegitimasi setiap tindakan. Karena dengan berlimpahnya harta, manusia merasa paling disayang oleh Tuhan.

Mereka tidak lagi percaya kepada do’a, dan tidak menjadikan do’a (pray) sebagai solusi. Mereka pikir uang adalah kepanjangan tangan kasih sayang kepada mereka. Dan mereka pun tetap resah. Kemudian dengan uang itu mereka mengatisipasi keresahan jiwa kepada para psikiater yang mereka bayar mahal.

Kesedihan dan stress akan ditekan dengan pil-antidepresant, dan dosa-dosa yang mereka perbuat setiap hari menjadi biasa dan sama sekali tidak diacuhkan. Dan pada akhirnya manusia akan merasakan ‘kosong’ yang benar-benar, kosong dalam jiwa.  Dan perihal ini tidak akan dapat diobati dengan mencari obat-obatan di toko-toko obat terkenal manapun.

Karena bagaimanapun jiwa itu tidak bisa dibohongi dan diakali, karena ia bebas nilai dan authentic milik Tuhan dan hanya Dia yang bisa dan tahu cara mengobati dan mengisinya kembali. Nabi Muhammad SAW sendiri ketika merasa kosong dan bingung sebelum diangkat sebagai Nabi, beliau melakukan khalwat (solitary retreat), mengasingkan diri demi terpenuhi jiwanya dengan cahaya ke-Tuhan-an (nur ilahi).

Khalwat ‘ is an Arabic word that means ‘ isolation, seclusion, living all alone or being in solitude’. ‘ To Khalwat’ means(solitary retreat) to be freed from every worldly thing, which occupy or will occupy mind, in an isolated place and prefer being there to everywhere else. Another definition of ‘khalwat’ is , ‘to be completely alone’ or ‘in order to speak silently to one’s inner being secluding oneself from everybody else . (Its aim is to clean the heart of every wordly desires). Going into seclusion means to stay in a small room, which is called ‘The Khalwat Khana’ – in convents -, to engage in worship, dhikr, consideration and supervision ‘muraqbah ‘. Living in seclusion means to stay alone in a place of solitude.

Berbeda dengan manusia modern tidak peduli akan agama,  mereka seperti kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana. Sebagai pelarian, mereka selalu saja sibuk mencari cara mengisi ‘kosong’ itu dengan berbagai cara, cara apapun. Mengeksploitasi organ seks wanita, meminum arak dengan jumlah banyak, mengumbar nafsu, dan mengembangkan berbagai hiburan. Dan pada akhirnya semuanya serba prematur, instant, dan sembrono.

Cinta tidak lagi murni, malah menjadi picisan. Seks mereka sebut cinta dan materi dianggap bukti dari cinta.

[] Ucok Saragih

New York

mail:dillah79@gmail.com