Lukni Maulana, S.Pd.I, M.Sc

Lukni Maulana, S.Pd.I, M.Sc

HMINEWS.COM- Suatu kali saya mendapatkan sms dari sahabat yang kalimatnya seperti ini,”siapa yang menantang pasar bebas, ia harus mendukung pasar rakyat. Datanglah ke pasar-pasar tradisional, mumpung ada dugderan”. Kemudian saya jawab, “kini pasar pasar rakyat menjajakan atau menjual produk asing”. Lalu ia mengirimi sms yang berbunyi,”usahakan pilih produk dalam negeri”.

Sebelum datang bulan ramadhan, masyarakat menyambut hangat tradisi tahunan yakni pasar rakyat yang biasa di kenal dengan dugderan dan arak-arakan warak ngendok. Masyarakat menyambut hangat tradisi tersebut dengan suka cita dan pastinya berkeinginan belanja di pasar rakyat. Hal tersebut sudah merupakan tradisi atau sesuatu yang sudah melekat pada kehidupan masyarakat. Sehingga tidak mengherankan suasana dugderan selalu ramai dan penuh sesak dipenuhi orang-orang yang ingin menikmati sesuatu hal yang datang satu tahun sekali ini.

Masyarakat kita memang masyarakat yang gemar belanja dan penasaran dengan suatu produk baru, apa lagi sampai membuat mereka penasaran sehingga tertarik untuk membelinya. Apakah ini merupakan bentuk dari perubahan zaman, semenjak arus globalisasi dengan percepatan teknologi informasi dan komunikasi.

Globalisasi pasar dengan penyebaran arus informasi yang cepat telah menyebabkan tingginya tingkat gaya konsumsi masyarakat. Sehingga masyarakat terlelap tanpa sadar dia sudah terpengaruh dari dampak globalisasi yang menjadikan sifa-sifat modernistas melekat yakni gaya hidup hedonis, konsumeris dan pragmatis. Sungguh sesuatu hal yang tidak terkirakan membuat setiap kedirian terbelenggu budaya yang seharusnya perlu dijauhi dan ditinggalkan.

Produk-produk luar negeri sudah bertebaran hingga pasar-pasar tradisional. Para penjual lebih suka menjual produk luar negeri karena produk tesebut lebih murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. Asumsi ini memang tidak terbantahkan lagi, apalagi kecenderungan masyarakat lebih suka membeli barang yang murah dan sesuai dengan kantong sakunya. Masyarakat tidak peduli dampak yang ditimbulkan dari pembelian produk asing, yang mereka tahu barang tersebut berharga murah sehingga ia bisa membelinya.

Padahal jika masyarakat lebih suka dengan produk asing tentu hal ini akan berdamapak buruk terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Begitu juga dampak besar dari para produsen barang-barang lokal karena sudah tidak mampu membendung barang luar negeri yang  jauh lebih murah. Sehingga produsen barang lokal pada gulung tikar dan bahkan dampak yang lebih parah pengganguran-penganguran baru mulai bermunculan. Selanjutnya akan muncul masalah-masalah sosial lainnya karena alasan ekonomi.

Kini kearifan lokal telah terjajah dan ditindas dengan sesuatu yang lebih lembut yakni pasar bebas dengan kecanggihan teknologi informasinya. Dengan teknologi informasi mampu menusuk alam pikir bawah sadar seseorang sehingga mudah terpengaruh, pada gilirannya terjebak pada budaya konsumerisme dan bahkan terjebak gaya kebarat-baratan (westernisasi).

Marilah sejenak menengok kedirian kita, tentang kita, tentang sejatinya diri kita. Apakah sifat konsumerisme, hedonisme dan pragmatisme merupakan sikap yang berlebih-lebihan. Susungguhnya agama mengajarkan sikap untuk tidak berlebih-lebihan karena sikap tersebut merupakan sikap tercela yang seharusnya dihindari. Apa lagi berlebih-lebihan membeli produk asing dengan menkesampingkan produk lokal.

Jembatan imperialis

Ramadhan bulan yang memiliki kemulyaan dibanding bulan-bulan lain. Di mana umat Islam di wajibkan untuk mengerjakan amalan yang paling mulia yakni puasa ramadhan. Di sebut mulya karena puasa yang satu ini Allah membalas pahalanya secara langsung. Jika mampu mengerjakannya ia akan kembali suci (fitrah) dan dijadikan jiwa yang tenang sehingga tertanam rasa sabar, syukur dan ikhlas.

Ada sebuah hipotesa mengatakan bahwa jika puasa datang kebutuhan seseorang akan meningkat dan hidup menjadi berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan selama puasa sebulan penuh. Sesuatu yang manis menjadi kesunahan, sebelum puasa tidak mengkonsumsi kurma saat puasa mengkonsumsinya. Hari-hari biasa makan dengan lauk seadanya dan minum air putih, kini lauknya harus memenuhi standar kekuatan tubuh dan minumnyapun minimal sesuatu yang manis. Begitu juga dengan pencuci mulutunya, dulu tidak memakai sekarang harus dengan pencuci mulut untuk menambah kekuatan tubuh karena ada kesunahan lain yakni shalat tarawih berjamah dan tadarus ditengah malam.

Apakah ini juga merupakan sikap berlebih-lebihan seperti budaya konsumerisme membeli produk asing. Dalam ajaran agama Islam sikap berlebih-lebihan biasa di sebut dengan istilah ghuluw. Secara bahasa ghuluw berarti sesuatu yang melampui batas. Sedangkan menurut syariat Ibnu Taimiyah mengatakan ghuluw merupakan sesuatu yang melampaui batas dalam memuji dan mencerca dengan cara menambah apa yang tidak sepantasnya.

Ghuluw yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan hamba dibagi mejadi dua kategori yakni; pertama, ghuluw I’tiqodi merupakan perbuatan yang mudah mengkafirkan orang-orang Islam yang hanya karena melakukan kemaksiatan-kemaksiatan atau dosa-dosa ataupun mengagungkan dan memulyakan seseorang yang dipandang terhormat. Fenomena sekarang menujukan bahwa seseorang lebih bangga memamerkan ataupun membeli produk asing, apakah hal ini merupakan ghuluw I’tiqodi. Tentu hal ini menjadi suatu kebenaran jika memang kita lebih suka dengan produk asing, sehingga melunturkan sikap nasionalisme yang berbineka ini.

Kedua, ghuluw amali yakni yang berkaitan dengan amalan-amalan, baik amalan lisan ataupun amalan anggota badan. Hal ini apakah hanya terbatas hanya amalan ibadah saja, tentu saja tidak. Sedangkan ibadah terbagi menjadi dua yaitu ibadah magdhah (wajib) dan ibadah ghoiru maghdah (ibadah muamalah atau yang berhubungan dengan orang lain). Ibadah wajib merupakan ibadah yang harus dikerjakan sesuai dengan syariat semisal; shalat maka sesorang shalat tidak boleh dengan bernyanyi tapi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Ghuluw amali inilah yang menyerang pikiran dan tubuh kita, karena diri kita membutuhkan sesuatu yang harus tepenuhi yakni berupa kenikmatan dan kebahagiaan. Sebenarnya jika mengamati kebutuhan seseorang hanya sedikit, yang banyak adalah keinginannya. Karena keinginan merupakan suatu gejala pikiran yang harus dipenuhi, semisal ada produk pemutih; sebenarnya ia tidak butuh dengan produk pemutih tersebut, tapi karena ingin putih pada akhirnya iapun memakainnya supaya tampil beda dan pada gilirannya menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.

Sikap berlebih-lebihan dalam menyambut bulan suci ramadhan dan saat menjalani puasa merupakan sesutu yang menjadikan jembatan menuju penindasan baru. Maka marilah kita merenung sejenak akan sejatinya makna bulan puasa. Yakni bulan dimana manusia didik supaya menjadi manusia yang tidak tergoda dengan nafsu dunia dan syahwat. Hancurnya suatu bangsa karena orang-orangnya dipenuhi dengan dua nafsu tersebut sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang korup, suka menikamti film-film mesum, saling berebut kekuasaan dan tidak amanah dalam menjalankan kepemimpinannya.

Lukni Maulana, S.Pd.I, M.Sc; Dosen AKP Widya Buana Semarang dan

Peneliti Sciena Universe serta pengurus HMI Badko Inbagteng