http://3.bp.blogspot.com/_P40I6gFRJ8M/SgeBaktDpcI/AAAAAAAAAB4/l4vTrmtYHlA/S220/Emha+Ainun+Nadjib.jpg
Emha Ainun Najib

Islam sesungguhnya hadir justru untuk melindungi Islam, bukan sebaliknya. “Islam itu baik sekali, sangat besar, dan sangat indah. Kenapa dibela? Islam hadir membela manusia, bukan sebaliknya. Saya ini bau, hatinya kotor apa pantas bela Islam?” ungkapnya.

Saat ini, yang sedang terjadi adalah “perang” antara ormas yang secara vulgar mengaku membela Islam dan kelompok-kelompok lain, baik ormas keagamaan maupun kemanusiaan. Sebagian membawa panji Islam, sebagian lagi membawa kepentingan tokoh panutan kelompoknya, dan sebagian kecil membawa nama kemanusiaan/HAM.

Sebuah peperangan yang mubadzir, jika sama-sama dilandasi pembelaan atas Islam. Karena esensi Islam adalah sebuah identitas dan ideologi yang abstrak, maka Islam bukanlah semacam senyawa organik-anorganik yang konkret. Apalagi secara ideologis, Islam sama sekali jauh dari konkret. Tidak adanya weltanschauung yang seragam tentang konsepsi Islam semakin menjauhkan Islam ke dalam keabstrakan.

Cak Nun berpendapat bahwa orang-orang yang mengatasnamakan diri untuk membela Islam justru terkesan merasa lebih hebat, bahkan lebih mulia daripada Islam. “Islam itu sangat mulia. Kalau kita bela, kesannya kita itu lebih hebat, lebih mulia daripada Islam,” ujar budayawan ini.

Masih menurut Cak Nun, manusia tidak boleh merasa hebat, super, atau kebal. “Kenapa? Karena ingat ada Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Kalau ingin hebat, hebat di dalam diri saja saat menaklukan diri sendiri. Jangan keluar. Kalau di luar, serahkan semuanya kepada Allah SWT,” ujarnya.

Dalam tausiyahnya, selain masalah cara pembelaan terhadap Islam, menyoroti berbagai persoalan kehidupan sehari-hari yang sering kali disalahkan manusia karena apa yang terjadi tidak sesuai keinginannya. Ia mencatat beberapa hal sepele yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan, termasuk itu permasalahan cara beribadah yang berbeda-beda di beberapa daerah yang kerap dicap sebagai bid’ah.[] Thomi