Sayyid Ahmad Khatami, Imam Jumat Tehran

HMINEWS.COM- Jumat pagi, dini hari kami menginjakkan kaki di bumi para Mullah, Iran. Pesawat Qatar Airlines yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di bandara internasional Ima Khomeni. Kami langsung dijemput panitia menggunakan taksi menuju hotel tempat kami menginap.

Hotel Laleh Internasional (bukan lelah lo ya..) tempat kami menginap adalah salah satu hotel terbesar di kota Tehran. Meskipun merupakan hotel milik lokal, namun hotel tersebut masuk dalam kategori hotel bintang lima. Jangan dibayangkan ada merk-merk hotel internasional di sini. Hyatt, Hilton, Nikko, dan sebagainya yang biasanya kita bisa temui ditiap Negara tidak ada di Tehran. Semua merek hotel adalah lokal.

Demikian juga dengan dengan merk makanan globalisasi seperti McDonald, PizzaHut,  Starbucks, dan sebagainya tidak kami temukan. Hampir semuanya adalah local. Sungguh, ini adalah sebuah perlawanan terhadap neoliberalisme yang kongkret. Sangat kongkret, tidak hanya sekedar slogan sebagaimana di negeriku, Indonesia. Iran adalah sebuah contoh Negara yang berhasil melakukan perlawanan total terhadap kapitalisme.

Hari pertama kami sampai adalah satu hari menjelang acara konferensi 6th Gathering of the Union of Islamic World Students. Peserta dari utusan Negara-negara Muslim belum semuanya hadir. Kami hanya bertemu dengan peserta dari Aljazair, Chad, dan Sudan.

Setelah istirahat sejenak oleh panitia kami diajak untuk ikut sholat Jumat yang dipusatkan di kampus Universitas Tehran. Berbeda dengan Negara-negara lain yang setiap masjid bisa menyelenggarakan shalat Jumat, Jumatan di Tehran hanya diselenggarakan di satu tempat, Kampus Universitas Tehran. Dalam tafsir Syiah, yang dimaksud bilad (satu daerah dimana diwajibkan sholat Jumat) adalah dalam satu provinsi. Hal ini berbeda dengan definisi bilad dengan Negara kita, setiap kampung atau desa bisa mendirikan sholat Jumat masing-masing.

Maka tak heran jika yang jamaah Jumat di Tehran jumlahnya ribuan. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru kota  menggunakan bus-bus dan angkutan lainnya. Naik laki-laki maupun perempuan diperbolehkan untuk datang sholat Jumat. Saking banyaknya jamaah, area tempat penyelenggaraan shalat Jumat tidak mampu menampun semua jamaah. Orang membuat shaf-shaf di mana-mana, di jalan, di emperan gedung fakultas, dan sebagainya. Untuk menjangkaukan suara khutbah kepada jamaah, dipasanglah loud speaker di setuap sudut kampus, sehingga jamaah sholat jumat yang membuat shaf berjarak ratusan meterpun bisa mendengar.

Sebagai tamu, kami mendapat perlakuakn istimewa oleh panitia. Kami dibawa masuk ke shaf bagian depan dimana hanya orang-orang tertentu saja yang biasanya menempatinya. Security pada saat penyelenggaraan shalat Jumat sangat ketat, sehingga tidak sembarang orang bisa duduk dalam shaf baagian depan. Shaf bagian depan dibatasi oleh plang-plang besi setinggi satu meter untuk mencegah shat bagian belakang merengsek ke depan.

Untuk masuk ke area jumatanpun pengamanannya sangat super ketat. Kami tidak boleh membawa apapun, termasuk HP, ke dalam area. Disamping itu, kami juga harus melewati beberapa pintu pemerikasaandan penggeledahan pakaian oleh petugas keamanan.

Jika bukan  atas lobi panitia yang sepertinya punya hubungan khusus dengan para petinggi Iran, kami tentu tidak bisa begitu saja masuk ke area shaf sholat Jumat bagian depan. Itupun kami harus digeledah beberapa kali oleh petugas keamanan untuk memastikan bahwa kami tidak akan membuat keributan saat Jumatan. Kami menanyakan kepada salah satu panitia, kenapa pengamanan begitu kuat walaupun hanya sekedar sholat Jumat. Beliau menjawab bahwa pada suatu saat, pernah ada kasus seseorang tiba-tiba meledakkan bom saat para jamaah khusuk melakukan sholat.

Tentu kami merasa istimewa bisa masuk dalam barisan depan bersama para petinggi Negara Iran melakukan dalam sholat Jumat tersebut. Untuk mengerti isi khutbah, kami diberi alat kecil seperti radio kecil lengkap dengan earphonenya untuk kami mendengarkan terjemahan khutbah dari Bahasa Persia ke Bahasa Inggris.

Khutbah diisi oleh salah satu imam besar dalam jajaran dewan revolusi Iran. Berhubung bulan Ramadhan, isi khutbah lebih banyak berkaitan dengan bagaimana meningkatkan amalan-amalan dalam bulan suci tersebut. Tidak ada yang istimewa dalam ceramah khutbah. Tapi ada satu hal yang tidak biasa kami  saksikan dalam jumatan di manapun, yaitu slogan-slogan dan yel-yel anti Amerika dan anti  Israel setelah Jumatan. Jamaah semuanya berteriak, “persetan Amerika, binasalah Israel” dengan tangan mengepal diangkat ke atas.

[] M.Chozin