Ketua Umum PB HMI Saat Diwawancarai Media Nasional Iran

Teheran, HMINEWS.COM-  Semangat revolusi itu masih membara, itulah kesan yang kami tangkap di Teheran ketika bersama dengan panitia lokal ikut melaksanakan shalat jumat di Central of  Tehran University. Berbeda dengan di Indonesia di mana shalat jumat dapat diselenggarakan di setiap masjid mana saja, di Iran dalam satu kota besar shalat jumat hanya boleh didirikan di satu tempat yang ditunjuk oleh pemerintah.

Di sini (Teheran), shalat Jumat hanya boleh dilaksanakan di Tehran University yang dihadiri bukan hanya oleh kaum laki-laki, namun juga perempuan. Demikian penjelasan yang sampaikan Panitia kepada Delegasi HMI.

Anda bisa bayangkan jumlah penduduk Teheran hampir mencapai 12 juta dan hanya ada satu tempat untuk mendirikan shalat jumat. Tentu saja sangat padat. Apalagi hari Jumat merupakan hari libur di Iran. Oleh karena itu, pada hari jumat kompleks Universitas Teheran ditutup untuk kendaraan dan kita harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di Central University dari pintu depan universitas, tambah Imam Subkhan, Ketua Komisi Hubungan Internasional PB HMI yang juga bagian dari delegasi HMI.

Central University itu mirip GOR atau hall universitas yang disulap menjadi tempat shalat. Karena luas bangunan Central University terbatas, maka jamaah shalat jumat meluber ke seluruh halaman terbuka kompleks universitas bahkan sampai ke jalan-jalan menuju universitas.

“Saya lebih melihat shalat jumat di Teheran seperti shalat idul fitri di Indonesia yang terpusat di satu tempat, di mana ada banyak pintu masuk universitas, dan di setiap pintu masuk terdapat check point atau tempat pemeriksaan,”  ujar Imam

Ini mengingatkan saya di jalan-jalan Mindano Philipina atau di Aceh zaman DOM. Setiap orang yang masuk kawasan universitas harus lolos pemeriksaan dengan alat detektor. Semua alat komunikasi dan elektronik tidak diperkenakan dibawa ke tempat shalat, dan di pintu luar telah disediakan tempat penitipan, tambah Imam

Dari kejauhan ketika saya berjalan menuju kompleks universitas terdengar suara gemuruh meneriakan yel-yel dalam bahasa persia. Saya merasakan ini seperti aksi-aksi demontrasi yang terorganisir dengan baik dan terpusat di satu tempat.

Sebagai tamu kehormatan, kami di antar panitia masuk ke lokasi melalui pintu khusus yang menuju ke barisan shof depan di Central University. Kelompok barisan depan ini terdiri dari pejabat, menteri, anggota parlemen bahkan presiden Ahmadinejad jika kebetulan ada di Teheran.

Sayangnya hari itu beliau sedang di luar kota. Kami langsung duduk di shaf kedua dari kelompok barisan kedua dari depan. Saya duga ini kelompok shof tamu asing dan dugaan saya benar setelah panitia membagikan alat receiver yang menerjemahkan bahasa persia ke Inggris atau Arab.

Tepat sekitar jam 13.00, kami masuk ke lokasi  dan sempat mendengar pidato terakhir dari seseorang sebelum khatib jumat naik. Saat berpidato beberapakali dia meneriakan yel-yel dan shalawat yang disambut dengan gemuruh oleh ribuan jamaah sambil mengepalkan tangan ke atas.

Saya mendapat informasi jamaah jumat sudah mulai berkumpul sejak jam 10-an. Sambil menunggu masuk waktu shalat, ada banyak pidato-pidato yang berisi kecaman-kecaman terhadap Amerika, Israel dan kompradornya di Iran.

Pidato-pidato itu disampaikan untuk mengingatkan dan menjaga nilai-nilai revolusi. Demikian juga khutbah yang disampaikan khatib yang dalam doa di penghujung khutbah berisi doa-doa hancurnya Amerika, Israel dan musuh-musuh Islam.

Shalat jumat di Iran bukan sekedar seremonial ibadah rutin, namun menjadi forum rakyat untuk mengkonsolidasikan dan menjaga semangat revolusi yang telah dicanangkan Ayatullah khomeini sejak 30 tahun yang lalu. Dan saya masih merasakan api itu. [] Imam Subkhan/dhani/nm