aforisme cinta

HMINEWS.COM- Cinta itu energi . Sebuah kehendak kreatif untuk terus mencipta dan berkreasi. Dengan demikian cinta adalah sesuatu yang menghubungkan ‘yang spiritual’ dan ‘yang material’. Cinta menghubungkan ruang kebadian dan kemewaktuan, yang dengannya kelimpah-ruahan itu (yang ada di surga sana) menjadi kelimpah-ruahan ini (yang ada di sini, sekarang ini), yang tidak berwujud dibuat menjadi berwujud dalam semua bentuk keberadaan kosmik. Dia adalah satu-satunya keabadian di tengah keruang-mewaktuan dunia maya.

Cinta berasal dari sebuah ketundukan. Pengakuan akan ketidak-sempurnaan yang berhadapan dengan ke-Maha Sempurna-an yang dicinta. Mustahil menemukan cinta dalam kesombongan yang tak bergerak karena kepuasan akan diri yang sempurna.

Substansi manusia sebenarnya cinta. Karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang dibekali kehendak dan juga akal maka, manusia punya potensialitas untuk ‘mewujudkan’ (mematerialkan) cinta dengan kreativitas. Dalam rumusan E=m.c2, cinta adalah konstanta yang mengubah perwujudan material manusia menjadi energi yang bercahaya, bagi dunia. Inilah sebaik-baik ciptaan (ahsani taqwim).

Tapi karena cinta adalah ruang tengah antara ‘yang material’ dan ‘yang spiritual’, maka cinta juga punya potensialitas untuk menjebak manusia ke dalam lingkaran eksistensi (materialitas) tanpa pernah mewujud dalam esensi (spiritualitas). Cinta menyediakan pesona dengan objek-objek. Sehingga ‘yang terpikat’ akan tetap terikat dengan roda waktu yang universal. Dihukum untuk terus hidup dalam lingkaran kelahiran kembali, dari satu eksistensi ke eksistensi lain. Seperti Kama (Cupid) yang menyeret seorang korban dengan anak panah bertali.

Oleh karena itu cinta selalu mempunyai aspek ganda, bentuk kehadiran yang ambivalen dan ambigu. Selalu diinginkan tapi sekaligus paling menakutkan. Berpotensi sebagai jalan untuk melepaskan tapi juga mengikat manusia dari dan ke dalam dunia. Gambaran dari seluruh paradoks dunia yang membingungkan.

Yang diperlukan hanyalah tawaf, tak perlu menolak cinta. Kabah, Tuhan, titik pusat gravitasi semesta, atau apa-pun namanya, membuat energi gerak dari cinta yang tak beraturan menjadi gerak melingkar yang terpusat pada satu titik. Inilah gerakan kosmik. Gerakan yang membuat bintang menjadi massa yang tak ber-ruang maupun berwaktu (black hole). Sebuah bintang dengan aktualitas cahaya melebihi semua potensialitas yang dimilikinya (supernova).

Dengan tawaf, gerak bertransformasi menjadi diam. Materi bertransformasi menjadi cahaya. Kemelekatan ego menemukan kalepasannya. Subjek melebur ke dalam objek. Akhirnya, yang ada hanyalah Ada (Sat). Cinta yang menemukan kesejatiannya. [] GM Nur Lintang Muhammad