HMINEWS.COM- Seperti yang sudah-sudah, disimpan uang itu dibalik bantal kusam. Sudah lama ia tidak mengganti sarung bantal. Uang-uang itu menggunduk dan menjadi penopang yang cukup baik dibawah beberapa bantal kapuk yang sudah sedemikian tipis.

Sambil memandangi langit-langit berwarna putih bergaris-garis ia perhatikan dua ekor cicak berlarian di sekitar lampu neon, saling berkejaran. Ia luruskan kakinya sebisa mungkin sepanjang tempat tidur berseprai garis-garis biru muda dengan sedikit guratan diujungnya itu. Berkedip-kedip matanya melayang jauh angan-angan melayang kauh tinggi membumbung entah kemana…

Dengan uang ini, pikirnya. Apa yang bisa kulakukan? menerka-nerka apa saja yang bisa ia capai. Berkebaya putih dengan rok batik coklat muda, bersepatu hitam mengkilat dengan hak cukup tinggi. Menggenggam dompet putih berbalut mutiara cemerlang dan bertahtakan bunga kecubung ungu. Wajahnya tersenyum dengan bubuhan lipstik merah menyala menampakkan gigi putih terawat, tak lupa sanggul menempel di kepalanya. Ia pun turun dari tangga itu menuju karpet merah menyala menyusuri lantai hingga pintu besar kayu cendana berukir jepara. Dibukalah pintu itu, teman-teman sudah menanti dengan ratusan bahan omongan dalam benak untuk gosip hangat sore itu…

Masih saja ia tidur menengadah, mencengkram seprai seperti menahan bahagia tak terbayangkan. Ia kenakan swimsuit berwarna putih yang hanya menutupi bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Tidak lupa dioleskannya suntan lotion di setiap bagian tak tertutup. Melangkahkan kakinya yang molek menuju kolam renang berporselen hitam bercorak guratan petir hijau giok, ia ceburkan tubuhnya kedalam air. Tenggelemkan diri sedalam kehausan akan segarnya air, hingga hampir habis sisa oksigen dalam paru-paru. Muncul ke permukaan mencari udara untuk dihirup. Indahnya hidup berenang-renang di swimming pool atas gedung condominium elite sekitar ibukota.

Menggigit-gigit bibir bawahnya yang kering, ia peluk dadanya dengan kedua tangan. Menaikkan bahu sedikit, mata masih saja berbinar-binar. Seorang pria berotot itu tampak sibuk memijat tubuhnya yang terlentang begitu saja diatas bangku panjang putih disudut ruangan agak temaram disebuah pusat perawatan tubuh bergengsi. Kulitnya tampak mengkilap bercahaya sedikit memantulkan cahaya remang-remang. Dengan segenap hati ia nikmati sentuhan tangan sang therapist. Hampir saja ia tertidur terbius asap aroma terapi memikat melenakan yang semerbak memenuhi ruangan.

Menggerakkan tangan, hingga kedua telapak tangannya menutupi kedua matanya. Menarik napas panjang sekali, dan menghembuskan sekuatnya. Seperti ingin tertawa-tawa menikmati keinginan yang berbuncah-buncah dalam pikiran. Kedua anak itu berlari dengan senyuman dan tertawa terkikih-kikih membuka kedua lengannya. Menuju tangkapan tangan terbuka menanti pelukan mereka. Disamping orang itu ada seorang pria tampan berbaju putih dan bercelana jeans biru muda ikut tertawa-tawa senang. Dipeluknya kedua buah hatinya, bagaikan udara memeluk awan putih dibalik awan biru. Dirangkulnya wanita itu dengan lembut, dan melayangkan sedikit kecupan. Anak-anak itu terpangku manja dalam kehangatan. Setelah beberapa lama mereka pun pulang dengan menimang-nimang kunci kendaraan, dan mereka pun pulang diatas kendaraan mewah bertuliskan merek mobil ternama…

Matanya mulai memerah, dan ada setitik air mata meleleh dari ujung matanya. Terbayang siang terik di bulan suci Ramadhan, bermalas-malasan chatting dengan teman membicarakan tentang rencana Lebaran Idul Fitri akan datang, mulai dari pakaian hingga penganan yang akan disajikan, diatas tempat tidur empuk produksi luar negeri dan sejuknya pengatur udara yang terpasang di kamar. Seketika itu kenyamanan terusik dengan suara rem berdecit keras dari beberapa mobil yang terparkir di luar rumah, sekelebat turun beberapa pria berseragam hitam tergantung symbol lencana di dada, mengetuk pagar besi rumah besar dengan keras sehingga suara membahana keseluruh komplek perumahan. Sang Tukang kebun berlari tergopong-gopoh membuka gembok pagar raksasa, segera ada apa katanya dengan nafas terburu-buru. Orang-orang seragam itu menjelaskan dengan suara keras bergetar menahan emosi. Tidak beberapa lama kemudian bersama mereka rumah ditinggalkan bersama-sama seluruh penghuninya.

Ia pun melempar bantal itu ke dinding dan udara, uang-uang itu tertendang kelantai. Menjejakkan kaki diatas uang-uang berwarna aneh itu, ia mulai berteriak-teriak menyumpahi hidup, menyumpahi siapa saja. Uang-uang tergambarkan tokoh kegemaran anak-anak itu, tersobek tercerai berai oleh tangannya. Beberapa orang berseragam putih berlarian dilorong dan lalu membuka pintu, dipegangi oleh mereka kedua kaki dan tangannya. Mulut tampak mengeluarkan busa-busa putih, dan ia pun jatuh pingsan. Sungguh berat beban dalam pikiran yang selalu menghantui; hantu cita-cita, angan-angan, keinginan, dan hayalan. Ia cukup menyesal memang, setelah terbukti bersalah melakukan tindakan korupsi dana pembangunan penampungan untuk anak-anak terlantar. Oleh pengadilan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, sedikit lebih ringan daripada hukuman mati, ia pun jatuh pingsan. Namun ia tiada segera dimasukan ke dalam penjara disebuah pulau..karena ia selalu saja berteriak-teriak dan tertawa-tawa tidak karuan…miris. [] Ucok S