Jakarta, HMINEWS.Com – Keluarga sebagai entitas terkecil dalam masyarakat merupakan bagian yang sangat sentral dalam membangun karakter anak. Keberhasilan anak tidak ditentukan oleh pendidikan formal semata, tetapi juga pendidikan dalam keluarga. Selain itu, komunikasi yang baik antara anak dan orang tua menjadi kunci dalam membangun keluarga utama.

Hal inilah yang menjadi inti pembicaraan dalam seminar dan peluncuran buku Keluarga Utama Visi Praktis Back to Family, di Universitas al-Azhar Jakarta, Minggu (25/07). Hadir sebagai pembicara adalah Saat Suharto (Praktisi Ekonomi dan Pendiri BTM TAMZIS) dan Syahrul Efendi Dasopang sebagai penulis buku.

Menurut Syahrul, karakter tidak ditentukan oleh tempat pendidikan yang hebat. Akan tetapi keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan karakter seseorang. “sekolah saja tidak cukup, dalam membangun karakter keluarga utama, mau tidak mau kita harus menoleh kepada keluarga. Keluarga berkontribusi dalam memberikan nilai-nilai, sehingga anak bisa menemukan identitasnya”, ungkapnya mantan ketua Umum PB HMI itu.

Akan tetapi Syahrul menambahkan, saat ini sepertinya, tidak terjadi kerjasama antara keluarga dengan institusi pendidikan formal. “anak yang dianggap nakal, orang tuanya akan memasukkan anaknya ke pesantren, seolah-olah pesantren adalah tempat pembuangan. Padahal hal itu tidak menjamin ada perbaikan karakter anak. Di sisi lain,institusi pendidikan formal, mempunyai kurikulum sendiri yang kadang kala tidak sesui dengan keinginan keluarga. Disinilah pentingnya singkronisasi, sehingga tidak terjadi tabrakan”, katanya menambahkan.

Sementara itu, Saat Suharto berpendapat, hal yang sangat penting adalah pola komunikasi antara anak dengan orang tua. Banyak orang tua yang gagal dalam membangun komunikasi dengan anak-anaknya. “salah satu contoh misalnya, bagaimana orang tua menjelaskan pekerjaannya kepada anak-anaknya, sehingga anak mengetahui apa aktivitas orang tuanya diluar rumah, sehingga anak tidak bertanya-tanya ketika orang tuanya berada diluar rumah”, tuturnya mencontohkan.

Pola komunikasi yang dibangun juga haruslah berkualitas. Komunikasi yang berkualitas juga harus dibarengi dengan intensitas pertemuan yang cukup dengan anak. “jika orang tua berangkat pagi, paling tidak intensitas pertemuan dengan anak bisa lebih ditingkatkan dan juga kualitas pertemuannya merupakan bagian dari intensitas itu”, tambahnya.

Menurutnya, keluarga utama lahir dari pribadi-pribadi utama, untuk itu keluarga utama perlu di tata baik dari sisi hanif, akhlak, maupun qalbunya.[]Adi