Penerimaan manusia terhadap otoritas Alquran dan sunnah rasul sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan akan memberikan sinergitas bagi kerja-kerja akal serta memberikan kontribusi bagi proses pengayaan dan pembentukan pola berpikir. Alquran merupakan kitab suci yang memiliki keragaman tema pembahasan yang menyangkut persoalan-persoalan yang berkenaan dengan kehidupan manusia. Alquran mengandung muatan semangat intelektual dan metodologi yang komprehensif dalam menganalisis realitas dan problematika kehidupan manusia.

Islam (yang saya yakini) adalah konstruksi keyakinan yang dibangun berdasarkan pendekatan intelektualitas berbasis pandangan yang rasional-filosofis. Oleh karena itu, superioritas akal mestilah dihargai, namun di sisi lain otoritas wahyu sebagai firman suci Ilahi sangat dihormati. ”Berpikir bebas” merupakan perwujudan dari pola pikir Qurani. Karena, tanpa pendekatan intelektual, Islam hanya akan menjadi sekumpulan doktrin yang bersifat kaku dan statis. Padahal, sejatinya Islam adalah agama yang sangat dinamis dan bersinergi dengan nalar sehat manusia.

Penerimaan otoritas Alquran dan sabda nabi, akan membangkitkan akal dalam proses pengayaan dan pembangunan pola pikir, paradigma, dan epistemologi yang alami. Dengan kata lain, untaian doktrin yang termaktub dalam Alquran dan hadis sangat berkesesuaian dengan alur nalar manusia yang rasional. Hal ini diyakini karena khasanah tema-tema pembahasan dalam Alquran sangat beragam dan luas, memiliki alur logika, semangat dan metodologi yang komprehensif. Karena pijakan inilah, sebagai umat Islam, kita senantiasa harus bersikap kritis dan evaluatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang ada.

Ilmuisasi Islam mesti dipahami sebagai upaya untuk ”membingkai” universalitas Islam dalam sebuah skema konseptual, tata nilai, dan sikap hidup. Sebagai sebuah ”upaya”, maka proses ini mesti pula dipahami sebagai sebuah proses untuk memahami Islam dan mengkontekskannya dengan kondisi zaman yang berkembang. Oleh karena itu, pilihan terhadap pendekatan intelektual dalam memahami Islam menjadi sebuah perangkat epistemologis dan metodologis menjadi sebuah keniscayaan logis.

Secara normatif, pilihan epistemik yang menjadikan pendekatan dan tema intelektualitas sebagai basis epistemik dalam mengilmui Islam didasarkan pada firman Allah swt dalam Alquran surat surat al-Isra ayat 36, yang berbunyi:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya. (QS; 17: 36).

Kerangka paradigma epistemik ini menawarkan sebuah bentuk konsepsi dan keyakinan tentang Islam yang unik, menarik, dan holistik. Yaitu Islam yang dibangun di atas basis-basis teoritik yang ditelaah dalam kerangka rasional filosofis. Pilihan pada konstruk epistemologi rasional dalam memahami Islam, telah melahirkan keyakinan yang kuat akan superioritas Islam sebagai sebuah ajaran yang cakupannya melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia. Penerimaan terhadap Islam sebagai ajaran yang holistik, selain membawa implikasi intelektual, juga menuntut ketaatan yang maksimal pada seluruh ajaran Islam. Dan di saat yang sama melahirkan kesadaran untuk selalu bersikap kritis pada berbagai paham yang berkembang.

Ketundukan pada aspek normatifitas Islam, didasarkan pada pendekatan intelektualitas dalam memahami Islam. Dengan kata lain, bersikap normatif merupakan konsekuensi logis dari pandangan intelektual. Atau, ”sikap normatif merupakan keniscayaan intelektual dan pandangan intelektual merupakan landasan dari pilihan hidup normatif.” Secara epistemik keilmuan Islam berkarakteristik intelektual serta secara praksis implementasi ajaran Islam sangat menekankan aspek normatifitas Islam sebagai sikap hidup. Yaitu, pendekatan intelektual dalam memahami Islam, serta secara praksis diwujudkan dengan implementasi fiqh dan penekanan pada doktrin moralitas (akhlak) Islam yang sangat ketat pada seluruh aspek kehidupan.

Karakter intelektual-normatif tampak pada kualifikasi insan ulil albab sebagai cita manusia ideal. karakter insan ulil albab adalah muslim yang mua’abbid dan mujahid (normatif) yang tekun beribadah kepada Allah dan memiliki semangat juang (jihad) serta berkualifikasi mujtahid dan mujaddid (intelektual).

Wallahu a’lam bi shawab
Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi Sayyidina Muhammad. Wa ajjil farajahum.

Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.I