Ada banyak undangan. Sebagian di kursi dan sebagian lagi berdiri di pojok-pojok ruangan. Dia duduk paling depan dan memandang fokus ke panggung. Dingin dan diam dia tanggapi riuh rendah tepukan tangan waktu namanya disebut-sebut dari empat belas speaker yang menggema-gema di seluruh ruangan.

Di puncak acara dia naik ke panggung. Diterimanya vandel dari laki-laki yang jauh lebih tua darinya. Dia ucapkan terimah kasih, mengangkat vandel dan berbicara di mimbar setengah jam. Waktu turun dia tidak ke tempatnya semula. Dia belah tengah-tengah ruangan dan berjalan cepat. Tak dihiraukannya ribuan pasang mata dan ratusan kamera yang mengawasi gerak-geriknya, juga para wartawan yang memepetnya.

Di mobil dia hanya diam. Dipandanginya deretan gedung-gedung tinggi yang menjulang di sepanjang perjalanan, juga pohon-pohon yang kelihatan berlari.

Di rumah, dia matikan TV yang memuat gambarnya, lalu mengitari dan mematikan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan dunia luar. Dia matikan lampu kamar, duduk di kusen jendela dan memandang lekat ke tempat tidur yang samar-samar berseprai merah jambu dari lampu hias di taman belakang. Dia teringat pada kelembutan istrinya yang memilih pergi meninggalkannya. Matanya menerawang mengingat masa-masa itu, dan kepalanya merasakan bagaimana dadanya makin berat dan bergetar-getar oleh potongan-potongan waktu yang ia bangun kembali diingatannya.

Turun dari jendela dipandanginya peralatan hias yang berjejer usang di depan cermin. Dia sandarkan jidatnya di dinding, lalu berat dan pelan dia meninju dinding itu. Dia muak dengan dirinya sendiri. Dia sadar bahwa dirinya yang sekarang bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Dirinya yang sekarang adalah manifestasi dari ambisi orang tuanya yang diharapkan ada pada dirinya.

Nasrul Sani M Toaha