Kediaman pasangan Suyatno dan Sunaiya di Malang, Jawa Timur, ramai dikunjungi tetangga, Rabu (7/7). Keduanya baru saja mengalami luka bakar, setelah tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram yang berada di rumahnya meledak. Akibat ledakan itu, pasangan suami istri ini menderita luka serius sehingga harus dibawa ke rumah sakit.

Menurut Suyatno, tidak ada yang janggal pada tabung gas elpiji di rumahnya. Dia juga tak mencium bau gas. Tapi begitu dia menyalakan api, tiba-tiba saja terjadi ledakan. “Mungkin bocornya dari selang,” ujar Suyatno.

Ledakan tabung gas membuat masyarakat khawatir. Namun, mereka tidak mempunyai pilihan lain, mengingat bahan bakar alternatif dengan harga terjangkau tak tersedia lagi. “Minyak sudah tidak ada. Mahal kalau ada,” ujar Sudarti, warga Malang.

Itulah gambaran betapa ledakan tabung gas elpiji dewasa ini telah menjadi bom waktu yang mengerikan. Begitu hebatnya, banyak yang menganggap sebagai ancaman yang lebih mengerikan dibandingkan teroris sekalipun. Padahal sejatinya, tabung gas ini merupakan kebutuhan rumah tangga yang sangat vital terutama dengan adanya kebijakan pemerintah mengenai konversi penggunaan bahan bakar dari minyak tanah ke gas,

Di Bandung, kompor gas meledak di rumah kos-kosan mahasiswa milik Ena, 41 tahun, Jalan Geger Arum I Nomor 77 RT 07 RW 02, kawasan Gegerkalong Girang, Bandung, mengakibatkan tiga kamar kos di lantai dua yang dihuni empat mahasiswi ambruk. Dua orang sempat dilarikan ke Rumah Sakit Advent karena luka bakar dan tertimpa runtuhan.

Di Depok, tiga orang warga mengalami luka bakar di sekujur tubuh, setelah tabung gas elpiji isi 3 kg yang dibagikan pemerintah dalam program konversi minyak tanah ke gas tiba-tiba meledak.

Di Palu, Sulawesi Tengah, satu keluarga terbakar karena ledakan gas. Keluarga tersebut kemudian segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Anutapura Palu karena mengalami luka bakar serius.

Di Makassar dua orang warga Jalan Regge dilarikan ke Rumah Sakit Akademis Jaury, karena terluka bakar di sekujur tubuh akibat ledakan tabung gas. Kemudian ada juga sebuah ledakan tabung gas menimpa rumah milik Nusa Pawan, 30 tahun, Kompleks Perumahan Yasmin Indah Blok C Nomor 6, Jalan Hertasning Baru yang mengakibatkan tiga penghuninya menderita luka bakar dan tertimpa reruntuhan bangunan akibat ledakan tersebut.

Di Depok, ledakan tabung gas terjadi di RT 005 RW 07, Kelurahan Kali Mulya, Kecamatan Cilodong. Kendati tidak ada korban jiwa, ledakan tersebut menimbulkan kebakaran yang menghanguskan bagian dapur rumah keluarga Manih.

Di Bogor, sebuah tabung gas elpiji yang berukuran 3 kilogram milik salah seorang warga Kota Bogor, Andre, 35, mengakibatkan dua orang mengalami luka bakar pada bagian tubuhnya dan sebuah rumah nyaris terbakar. Andre, Kampung Lebak Pilar, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, termasuk korban luka. Korban lainnya bernama Maswin.

Di Jakarta, dua korban ledakan tabung gas 3 kilogram di Jl Haji Jawahir RT 17 RW 06 Cilandak Barat, Jakarta Selatan meningga dunia. Yadi (22) tewas di dalam kamar mandi setelah mencoba menyelamatkan diri. Sedangkan Sugiarto (31) tewas saat dilarikan ke RS Fatmawati Jakarta Selatan. Kejadian serupa terjadi di Jalan Haji Ung, Kelurahan Harapan Mulya, Kemayoran. Sepuluh orang terluka akibat ledakan tabung gas, dan satu akhirnya tewas.

http://www.jakartapress.com/demo/gallery/images/473/Balon-Gas-Meledak-37-Terluka.jpg
Korban Ledakan Gas

Di Madiun, ledakan tabung gas elpiji menewaskan seorang perempuan. Fitria yang sedang mengandung empat bulan ini meninggal setelah dirawat selama sekitar dua pekan di Rumah Sakit Umum Sudono Madiun akibat luka bakar serius yang dideritanya.

Dan… masih banyak lagi yang lainnya. Kejadian di atas hanyalah contoh kecil betapa sejumlah peristiwa ledakan tabung gas seolah tiada henti menelan korban.

Kebijakan Instan, Kurang Pantauan

Program konversi minyak tanah subsidi ke elpiji bergulir pada 2006-2007. Pemicunya, antara lain, lonjakan harga minyak bumi yang mencapai US$ 140 per barel. Rentang harga minyak tanah Rp 5.000-6.000 harus ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi. Dengan konsumsi minyak tanah 10 juta kiloliter, dengan harga minyak US$ 140 per barel, subsidi yang ditanggung pemerintah membengkak sampai Rp 60 triliun.

Nah, dengan beralih ke elpiji, kebutuhan 10 juta kiloliter minyak tanah digantikan 5 juta kiloliter elpiji. Beban subsidi ditekan hingga Rp 12 triliun. Artinya, sekitar Rp 40 triliun bisa dihemat.

Sayangnya, proses konversi tidak dikawal dengan baik. Sosialisasi dan peng awasannya kedodoran. Kecelakaan karena tabung elpiji melon pun terjadi beruntun, sebagian besar dipicu rendahnya kualitas selang dan regulator. Pada awal Juli lalu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat memutuskan perlunya program penggantian selang dan regulator.

Tak ada yang gratis pada zaman sekarang. Begitu pula dua peralatan penting itu. Masyarakat harus membeli. Harga pokok selang Rp 12.435 dan regulator Rp 17.774. Menteri Agung Laksono memutuskan harga jual Rp 15 ribu untuk selang dan Rp 20 ribu untuk regulator. Selisih harga digunakan untuk menutup ongkos operasional agen Pertamina, meliputi distribusi Rp 449 per unit, margin Rp 1.700 per unit, dan pena nganan pengembalian produk Rp 100 per unit. Pajak 10 persen ditanggung pemerintah.

Tak semua pihak girang dengan skema ini. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencurigai ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk mencari untung. “Tidak layak meminta masyarakat membeli dari Pertamina. Itu seperti memanfaatkan musibah menjadi lahan bisnis baru,” kata Tulus Abadi, pengurus harian YLKI.

Seharusnya, menurut Tulus, pemerintah membagikan peralatan untuk kompor gas itu secara gratis karena konversi adalah program pemerintah. Lagi pula, maraknya ledakan elpiji selama ini juga karena keteledoran pemerintah dan Pertamina. “Rakyat sudah menderita masih saja diminta membayar,” katanya. Ia yakin penjualan selang dan regulator itu tidak akan efektif. “Ingat, sebagian besar pemakai elpiji tiga kilogram itu masyarakat miskin,” tuturnya lagi.

Sekretaris Perusahaan PT Pertamina (Persero) Toharso menjelaskan, “Bukan wewenang Pertamina untuk menggratiskan.” Program konversi dibiayai anggaran negara. Memasukkan pos penggantian selang dan regulator ke anggaran negara juga butuh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. “Pro sesnya tidak sebentar,” kata Toharso.

Walhasil, langkah menjual peralatan itu adalah pilihan realistis jangka pendek. “Supaya masyarakat bisa segera mengganti yang sudah rusak,” katanya.

Suasana bergegas memang terasa. Penggantian selang dan regulator tak bisa ditunda jika tak ingin kasus kecelakaan tabung melon semakin banyak. Direktur Industri Kimia Hilir Kementerian Perindustrian Tony Tanduk mengikuti rapat maraton di sejumlah kantor pemerintah untuk urusan ini. “Rasanya seperti masuk ruang gawat darurat,” kata Tony kepada Tempo, Kamis pekan lalu.

Salah satu pokok bahasan dalam rapat itu adalah kualitas selang dan regulator. Kewajiban dan model peng ujian sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) sudah tersedia tapi kerap diabaikan. Pembenahan kualitas produk ini harus dilakukan secara menyeluruh, bukan tambal sulam.

Asosiasi Produsen Selang Karet Kompor Gas Indonesia menanggapi persoalan SNI ini. Hadi, juru bicara Asosiasi, mengakui sebagian pabrik selang tidak menggunakan karet sebagai bahan baku utama. “Ada yang porsi bahan baku plastiknya lebih banyak,” kata Hadi. “Ini tidak memenuhi syarat, karena plastik masih bisa meleleh kalau terkena panas.”

Sepucuk surat pun dilayangkan Asosiasi Produsen Selang kepada Lembaga Sertifikasi Produk, lembaga yang merilis label SNI dan menguji produk. “Harus ditekankan kewajiban menggunakan karet sebagai bahan dominan selang,” kata Hadi. Kua litas standardisasi pun mesti digenjot. Menurut Hadi, SNI yang ada sekarang bagus. “Tapi kita seharusnya mengadopsi ISO 2928. Ini standar yang mewajibkan kadar karet dalam selang,” kata Hadi.

Perkara standardisasi ini makin dikacaukan dengan adanya persaingan bisnis. Seorang pelaku industri yang enggan disebut namanya mendeteksi persaingan yang kental. “Ada pemain besar ingin dapat jatah lebih banyak dan memanfaatkan maraknya ledakan,” katanya. “Dulu perusahaan besar itu pernah diserahi produksi banyak tapi ternyata tak sanggup,” kata si sumber.

Tony Tanduk tidak keberatan dengan persaingan. “Tidak jadi masalah kalau ada perusahaan yang ingin dapat jatah lebih banyak. Selama dia mengikuti prosedur, punya SNI, dan lulus seleksi,” katanya.

Asosiasi Produsen Selang menekankan bahwa persaingan bisnis bukan perhatian utama saat ini. “Dengan banyaknya ledakan, ini bukan lagi masalah persaingan bisnis, tapi masalah kualitas dan keamanan,” kata Hadi.

Program konversi yang dikebut telah membikin produsen kewalahan. Pada awal 2007, konversi ditargetkan membidik 4 juta keluarga. Padahal produsen selang saat itu hanya ada tiga, yaitu PT Delta Jaya Mas, PT Kaka Rubberindo, PT Sahabat Rubber Industries.

Pada 2008, target konversi melambung hingga 15 juta keluarga. Tahun 2009, target membesar menjadi 21 juta keluarga. Pabrik selang baru pun bermunculan dan kini ada 16. Situasi “kejar tayang” alias bergegas menyelesaikan produk sebelum tenggat inilah yang berisiko membuat produsen kurang menjaga mutu.

Menyusul laju teror tabung melon, menjaga mutu selang adalah agenda utama yang dijanjikan pemerintah. Kementerian Perindustrian akan merevisi SNI selang dalam tempo satu bulan. “SNI yang sekarang sebenarnya sudah bagus. Tapi kami akan meningkatkan standar keamanan,” kata Tony Tanduk.

Tak boleh lagi ada kecerobohan. Hal ini dijanjikan Direktur Mesin Kementerian Perindustrian C. Triharso. Pihaknya akan menyeleksi kembali 17 pabrik pemasok regulator. Yang tidak lulus seleksi akan dicoret. “Pemeriksaan produk tidak boleh hanya sampling,” kata Triharso. “Setiap produk harus dipastikan bekerja dengan baik.” [] Thomi