Tapi tidak di malam itu, sekumpulan anak laki-laki mencegat kendaraan yang melintas dan memaksa sebuah mobil untuk memutar arah. Pengendara yang tahu bahwa dirinya tidak bersalah dan melanggar peraturan jalan, pun dibuatnya bingung. Ada apa gerangan, kenapa sekumpulan anak kecil itu menghalau jalan mobil yang dikendarainya.
“ Pak, muter..pindah jalur..ke sebelah aja”

Pengendara mobil semakin bingung dibuatnya. Hardikan yang cukup berani oleh seorang anak kecil yang ditaksir berusia 10-an tahun. Yah, kalau mereka sekolah kira-kira sedang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
“lewat sebelah..!”
“cepetan! “

Semakin berani anak-anak itu menghalau kendaraan. Seperti gunung yang memuntahkan lahar, begitulah mereka mengekespresikan marah kepada pengendara mobil tadi. Tidak ada lagi kompromi, seperti kebanyakan laku mafia jalanan. Tidak ada lagi tawar-menawar, seperti aktivitas jual beli pedagang di siang hari. Tidak mau tahu, begitu mungkin di benak mereka. Anak-anak ini menjadi begitu pemarah dan berprilaku kasar.

“Ahh..kami mau main bola di jalur ini…Bapak pindah jalur sebelah aja..tidak boleh lewat sini”, nadanya begitu menantang.

Ini hanya sepenggal cerita di sudut rimba raya Jakarta. Cerita tentang anak-anak yang terkikis karakter dan kehilangan kepribadian. Menjadi sarkastik, pemarah dan egois. Tapi patutkah mempersalahkan mereka? Ketika kota ini menjadi tidak ramah dengan mereka. Tak ada lagi tempat bermain yang nyaman. Ruang waktu begitu tidak peduli dan bersahabat dengan anak-anak. Malam, saat untuk belajar dan beristirahat, menjadi tidak penting untuk mereka. Anak-anak itu ingin bermain, karena siang menuntut mereka menjadi kuli panggul, pedagang asongan, pengemis, pengamen, bahkan pencopet barangkali.

Taman, sebagai surga yang diimpikan oleh anak-anak untuk bermain ternyata tidak dapat dinikmati oleh mereka. Manusia dewasa menjadi sangat egois di mata anak-anak itu. Taman berubah menjadi tempat berprilaku mesum. Lihat saja Monas misalnya, tak layak jika disebut menjadi tempat bercengkrama keluarga di hari libur, terutama di malam hari. Taman Menteng, dengan tatanan apik berada di pusat kota seyogianya menjadi milik anak-anak. Tapi rasa-rasanya, lebih menarik dijadikan tempat foto pre-wedding atau iklan sejumlah produk. Lebih menarik lagi, taman yang berubah fungsi menjadi rumah.

Stereotype kota Jakarta, dengan segala pernak perniknya menjadi tidak ramah terhada anak-anak. Ruang bermain beralih fungsi menjadi pusat pertokoan, mall, perumahan, tempat jualan. Namun di satu sisi, menguntungkan para pemilik modal untuk membuka usaha “ruang bermain anak” yang mudah di jumpai di beberapa mall. Suguhan game center, menjadi menarik untuk anak-anak, meski di dalamnya secara tidak langsung mengajarkan kekerasan. Anak dilatih akrab dengan perkelahian, pembunuhan, dan pemusnahan.

Anak-anak yang berada di golongan kelas menengah ke bawah, dibidik oleh pemilik modal dengan menyediakan game center kecil-kecilan, cukup ada TV 21 inch, serta perangkat play station. Fasilitas murah seperti ini akan sangat mudah didapatkan di sudut-sudut pasar tradisional, atau di sekitar sekolah. Selanjutnya, berjam-jam mereka duduktanpa bosan. Efek candu yang ditimbulkan, kadang memekasa mereka untuk berbohong, mencuri dan menipu.

Anak-anak adalah aset. Biarkan ia tumbuh dengan sempurna, sesuai tahapan perkembangannya. Mereka butuh sarana bermain yang aman dan sehat. Anak-anak adalah tumpuan harapan bangsa ini. Jangan biarkan karakter mereka terkikis karena ulah egois manusia dewasa. Berikan mereka ruang untuk tumbuh dan kelak menjadi bunga yang menyebarkan wangi. Tunaikan hak, anak-anak Indonesia.

Nur Amelia Kahar, Koordinator Pusat Kornas PII Wati periode 2007-2009

email: imel_ameliaku@yahoo.com