HMINEWS, Opini-  “Mas, kok tiket kita gak diperiksa nih?” Tanya seorang teman yang baru saja beberapa hari tiba untuk melanjutkan sekolahnya di salah satu PT di Eropa. “Terus, kayaknya berkali-kali kita jalan naik kereta, jarang banget sih ada petugas memeriksa tiket, kenapa ya?” Imbuhnya. Saya mencoba berpikir sejenak sebelum menimpali ocehannya. Tiba-tiba saya teringat sesuatu, mungkin inilah yang disebut dengan ‘trust’ alias kepercayaan. Sebuah peradaban modern yang baik dibangun di atas fondasi kepercayaan yang kukuh, baik antara masyarakat dan negara, antaranggota masyarakat, serta antara pemimpin dan yang dipimpin.

“Mas, kalau jarak dekat kita agak usah beli tiket saja deh…saya ngerasa rugi kalau sering beli tiket tapi gak pernah diperiksa”, sergahnya lagi. Wah…mulai muncul lagi nih ‘gaya lama’ kongkalingkong yang biasa dipakai di negerinya yang negeriku juga, pikir saya. “Emang kamu berani gak beli tiket meskipun gak pernah diperiksa?” Tanyaku. “Ya enggak sih mas, nanti kena denda nya gede banget, mendingan beli tiket saja, lebih aman” gumamnya. Persis, pikirku! Kepercayaan kadang tidak cukup. Tingkat kepercayaan yang tinggi pun kadang harus diimbangi dengan sistem yang baik. Dalam sistem sosial dan politik modern, kita juga butuh law enforcement alias aturan yang tegas, lugas dan tanpa pandang bulu.

Lebih dari satu dasawarsa  silam, Francis Fukuyama menulis buku berjudul Trust: the Social Virtues and the Creation of Prosperity (1995) yang isinya menceritakan tentang faktor-faktor dalam kebudayaan masyarakat yang berpengaruh pada peningkatan tarap hidup, kesejahteraan dan ekonomi mereka. Secara kovensional, sebuah masyarakat memiliki sistem sosial dan tata nilai yang berbeda dalam menempatkan kepercayaan, ada yang disebut dengan high-trust society yang tentu saja adalah masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (high-trust culture), dan ada pula low-trust society, artinya masyarakat dengan budaya rendah dalam menempatkan kejujuran, khususnya pada wilayah publik (low-trust culture).

Dalam kehidupan modern, ada beberapa achievement yang diperoleh oleh masyarakat dengan kadar kepercayaan yang tinggi, antara lain, biaya administrasi yang tergolong rendah dan tingginya reliabilitas sebuah institusi. Sebaliknya, sebuah masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang rendah cenderung melahirkan pola hidup yang inefficient, wasteful dan disorganized.

Kepercayaan, yang sesungguhnya merupakan satu ekspresi individual, juga memiliki dampak luas dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Sebab, kini kepercayaan tidak hanya terletak pada individu, tetapi juga institusi. Artinya, ada yang disebut sebuah “kepercayaan kolektif” yang kita kenal dengan kepercayaan publik. Bidang politik dan ekonomi agaknya yang paling dekat dengan isu ini. Seorang pemimpin membutuhkan kepercayaan masyarakat untuk bisa menempati sebuah posisi, tetapi pada saat yang sama dia harus mempergunakan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya. Artinya, trust menjadi inti dari seluruh relasi kemanusiaan, baik individual maupun kolektif. Pendek kata, kata Fukuyama, masa depan kita harus diisi dengan sebuah trust generation, dalam arti yang luas tentunya.

Dalam sebuah diskusi beberapa tahun silam, seorang mahasiswa saya sempat bertanya, “Kang, apakah high-trust culture juga selalu tumbuh dengan baik dalam sebuah masyarakat yang tradisi keagamaannya kuat? Apakah perilaku kehidupan sehari-hari orang yang senantiasa mempraktikan agama secara formal selalu dibangun diatas budaya kepercayaan yang memadai? Saya sempat bingung juga menjawabnya. Bukan apa-apa, karena pertanyaan tersebut terkait fakta dan realita, bukan idealita semata. Idealnya memang begitu, agama merupakan nilai instrinsik yang harus melandasi ekspresi extrinsik seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang Muslim, saya juga tahu bahwa Islam mengajarkan pentingnya masyarakat yang dilandasi oleh mutual trust yang kuat. Tapi, seringkali the experience suggests rather differently.

Dalam Islam, trust adalah bagian dari akhlaq. Kata Imam al-Ghazali, akhlaq adalah sesuatu yang kita lakukan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Jadi, seseorang atau sebuah institusi bisa mendapatkan kepercayaan bukan hanya karena menjaga image untuk dipercaya orang lain, tapi memang dia punya watak yang baik yang menjadikannya dipercaya orang secara alami. Guru ngaji saya dulu pernah bilang, “pemimpin bukan saja harus memimpin orang lain kearah yang lebih baik, tapi juga harus memimpin dirinya sendiri. “Memimpin diri sendiri itulah yang paling berat ditunaikan,” tegasnya ketika mengomentari riwayat kullukum rain wa mas`ulun ‘an ra’iyyatih. Menunaikan janji, misalnya, adalah hak yang harus dipenuhi oleh setiap individu, dan ia merupakan satu bentuk kebajikan selain daripada shalat, zakat dan puasa (QS. Al-Baqarah [2]: 177).

Ada orang yang shalat dan puasanya gak pernah ketinggalan dan jarang telat, tapi kadang menyepelekan janji. Padahal tidak menepati janji adalah setali uang dengan berbohong alias dusta. Saking berbahayanya sikap tersebut, seorang Muslim bahkan diharuskan untuk mengingatkan orang-orang yang sudah terlanjur berjanji untuk memenuhi janjinya bila mereka lupa atau sengaja melupakan. Janji adalah hutang dan oleh karena itu harus dibayar. Oleh karena itu, bila anda punya hutang segera bayarlah bila ingat dan mampu. Juga, bila anda punya pituang di tangan orang lain, maka segera pula ingatkan orang tersebut agar segera membayarnya. Jangan membiarkannya berlarut-larut. Atau, siap-siap saja mengikhlaskannya biar tidak menjadi beban di hari nanti.

Kini, karena tuntutan keadaan, mungkin kita sudah mulai melihat orang-orang mulai mengobral janji. Itu fenomena yang tidak aneh. Yang aneh adalah orang yang dijanjikan tidak melakukan apa-apa dan tidak menuntut apa-apa pada pengobral janji ketika banyak janji-janji obralan itu tidak ditunaikan. Saya tidak tahu, apakah kita pun akan “mengikhlaskan” begitu saja janji-janji yang diobral di depan public tanpa sebuah konsekeunsi social dan politik yang nyata? Dalam kegiatan ekonomi pun, konsep trust begitu penting.

Dulu, ketika mengaji kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dan Bulughul Maram karya Ibn Hajar al-Asqalani, seorang guru ngaji saya sering mengilustrasikan bahwa seorang pedagang tidak semestinya menyembunyikan kerusakan atau kekurangan barang yang dijualnya, seolah-olah barang dagangannya tanpa cacat. Misalnya, buah-buahan yang busuk diletakkan di bawah, sementara yang bagus ditampilkan di atas. Tetapi ketika seorang pembeli tertarik, dengan teknik tertentu sang pedagang menjual barang yang mungkin tidak disukai pembeli karena telah rusak.

Bila riwayat-riwayat kenabian sering mengunakan buah-buahan untuk mengilustrasikan bagaimana trust itu harus dibangun dalam kehidupan keseharian kita, maka mungkin dewasa ini dapat dianalogkan pada institusi modern yang menjual produk atau jasa tertentu. Kalau gak begitu, bagaimana bisa laku dagangan kita mas? Mungkin begitu seseorang akan nyeletuk. Tapi, saya yakin, customer juga punya kemampuan daya pilih dan daya beli yang berbeda. Tidak semua orang mampu membeli kualitas utama untuk sebuah barang. Pasti ada juga yang punya daya beli lebih rendah, hanya membeli barang yang affordable saja, tanpa harus beli “yang terbaik” untuk tidak mengatakan yang mahal-mahal. Jadi, alasan takut tidak laku, tidak begitu kuat.

Trust memang harus dipupuk dalam lingkungan terkecil, keluarga. Relasi antara anggota keluarga dimulai dengan kejujuran, baru kemudian melangkah ke lingkungan kerja kita. Dalam lingkup yang lebih luas yang bersentuhan dengan ruang publik, trust harus dimaknai lebih kompleks lagi, setidaknya harus disertai dengan ukuran akuntabilitas, reliabilitas serta regulasi yang jelas. Banyak pekerjaan besar untuk menciptakan trust generation yang diharapkan dapat berdampak positif pada watak negeri kita, negeri yang penduduk Muslimnya terbesar didunia ini. Apakah kita sudah cukup berbuat banyak untuk dipercaya orang lain, dan apakah kita juga cukup memberikan kepercayaan pada diri kita bahwa kita memang layak dipercaya orang?

By : Hilman Latif

Tulisan ini pernah di muat di Harian Radar Yogya tahun 2008