“Penari Ronggeng sebuah kisah klasik wacana kaum minoritas marginal yang belum mengenal hasrat untuk mengenyam modernisasi pendidikan. Hanya depresi sistemik yang menjadi sebuah erotisme vulgar bahwa ronggeng pernah menjadi bagian kultur masyarakat romantisme dalam sejarah”.

Diceritakan oleh Romo Mangun dalam bukunya yang berjudul Tumbal, ketika seorang gadis ayu penari ronggeng sedang menari–anggun sekaligus sakral–di dalam sebuah lubang besar, tiba-tiba kuli-kuli bangunan yang menonton dari atas, menimpukinya dengan batu-batu padas kasar. Akhirnya tubuh mungil gadis penari ronggeng naas tersebut terkubur dalam sebuah kematian yang sangat tragis, di tempat itulah yang di kemudian hari menjadi pondasi jembatan rel kereta api yang melintasi Kali Progo.

Nah, gejala dan watak yang muncul di tengah masyarakat kita saat ini, tidak jauh beda dengan gejala dan watak kekejaman di masa lalu. Kegetiran dan keprihatinan yang menggejala di mana-mana tidak terlepas dari semakin tumbuhnya hasrat ingin berkuasa, tamak dan menguasai mereka yang dianggap lemah dengan beragam cara, termasuk mengorbankan kelangsungan hidup sesama manusia. Tumbal sudah tidak lagi dimaknai dalam ritual-ritual dan mitos, tetapi diagendakan dalam regulasi-regulasi yang sangat menindas dan tidak adil.

Ketidakadilan dan carut-marut kondisi sosial memunculkan saudara kembarnya, yaitu depresi secara sistemik. Salah satu hal pokok yang melatarbelakangi mengapa hingga saat ini semakin banyak terjadi depresi sosial, bahkan telah mencapai pada level akut massal adalah karena telah hilangnya rasa cinta. Pemimpin tidak lagi memiliki rasa kasih sayang kepada masyarakatnya, sehingga tidak bisa disalahkan jika di masyarakat semakin tidak tumbuh sikap cinta terhadap pemimpinnya.

Depresi sosial yang akut tidak hanya ditandai oleh bertambahnya jumlah pasien di Rumah Sakit Jiwa, namun juga dengan semakin banyaknya orang yang menjerit dan sambat di mana-mana, semakin terbukanya kriminalitas, merebaknya sikap arogan dan ingin menang sendiri, ekslusivitas dalam dakwah keagamaan, kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin yang menjadi-jadi, suasana permisif dan apatis sesama warga masyarakat hingga maraknya konflik horisontal alias divide et impera gaya baru yang saling mensyaratkan tumbal-tumbal dari sesama wong cilik. Kesemuanya adalah fakta yang harus dipahami sebagai bentuk afirmatif kolektif dari tekanan hidup yang dirasa terlalu sangat berat.

Sehingga dibiarkanlah wong cilik menjerit karena kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu, sulitnya mendapatkan pekerjaan, semakin mahalnya biaya sekolah, semakin ekslusifnya biaya rumah sakit, semakin menjulangnya harga sembako –kecuali celana kolor saja yang turun.

Beragam regulasi yang sangat tidak mencerminkan cinta pemimpin terhadap rakyatnya. Janji-janji di masa pemilu dan pilkada tinggalah janji yang terkumpul dalam keranjang kepalsuan. Pejabat masih saja bangga dengan kegiatan seremonial yang gegap gempita, narsis romantis, namun boros sekaligus hedonistik di tengah jejerit wong-wong cilik yang sekarat.

Ya, rasa cinta yang semestinya menjadi spirit maupun kerangka dalam mewujud di kehidupan ini telah tercerabut. Golongan yang diakui sebagai pemimpin formal, entah itu elite pemerintahan, birokrasi, ekonomi, hukum, medis bahkan agamawan, telah kehilangan empati, kepekaan dan rasa kasih sayangnya pada masyarakat kecil. Motivasi yang mendasari elite tidak lagi untuk kemanusiaan dan kenegaraan, melainkan motivasi pemenuhan hasrat (desire) ingin mencari kekuasaan, baik kedudukan, jabatan, pangkat, kekayaan materi.

Advokasi Kemanusiaan
Keinginan untuk saling merasa lebih unggul berkuasa dari yang lain, lebih kaya, lebih terhormat. Sehingga, tidak ada lagi kepedulian dan kasih sayang bagi golongan yang lebih lemah dan menderita, yang lebih kalah dalam hal ekonomi maupun struktur kekuasaan. Terlebih, narsisme yang ada di segala aspek semakin memparah saja krisis yang terjadi.

Kondisi masyarakat yang depresi sebagai gambaran nyata potret dari semakin depresinya para elite yang tergabung dalam kumpulan orang-orang yang mengatasnamakan wakil rakyat di DPRD, DPR, eksekutif, legislatif serta derivasinya yang terkumpul dalam satu konklusi elite memang sakit saraf (neurosis). Tidak ada lagi saraf-saraf yang peka terhadap beragam penderitaan wong cilik. Elite telah mengalami gangguan kejiwaan (psikosomasis) menjadi gila, sehingga semua kebijakan regulasi yang diambil memang didasari oleh akal yang tidak sehat.

Dalam praktik 10 tahun reformasi ini, perputaran yang terjadi hanya terjadi dalam level kepemimpinan politik– kekuasaan. Sedangkan dalam perputaran ekonomi yang sentralistik pada Orde Baru tetap saja belum bisa dipecahkan. Otonomi daerah yang diharapkan bisa mewujudkan desentralisasi dalam segala bidang, termasuk ekonomi ternyata dalam praktik justru menciptakan konglomerasi di daerah yang hedonistik dan bermental kompeni.

Rakyat justru dibebani dengan perda– perda yang semakin tidak rasional. Beban yang ditanggung masyarakat semakin berat ketika pemerintah pusat sejak tiga tahun ini menaikkan BBM dengan angka luar biasa.

Sebuah kesimpulan, bahwa meski rakyat telah memilih langsung dan melimpahkan mandatnya, tetapi pemerintah cenderung tidak bertanggung jawab yaitu dengan melemparkan beban keuangan negara kepada wong cilik yang dengan terpaksa menanggungnya.

Pemerintah terkesan cenderung memihak kepada kepentingan yang bersifat normatif, yakni dengan alasan mengamankan APBN. Sedangkan bagaimana dampak kenaikan BBM bagi masyarakat miskin sama sekali tidak diperhatikan. Ketimpangan kebijakan ini dalam praktiknya telah menyebabkan rasa kebencian, marah, apatis rakyat pada pemerintah semakin menguat. Tingginya tingkat golput dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah menjadi sinyal bahwa rakyat sudah tidak mau peduli dengan proses demokratisasi/politik.

Karena itu penting untuk ditumbuhkan berbagai macam advokasi kemanusiaan, yang agenda utamanya adalah meletakkan nilai dan prinsip kemanusiaan dan keadilan sosial di atas beragam kepentingan kelompok dan ego-ego manusia modern.

Sebelum melakukan langkah-langkah tersebut, sikap afirmatif sangat penting untuk dimunculkan. Sebuah pengakuan akan beragam keterbatasan manusia dan pentingnya falsafah hidup bermasyarakat, yang terangkum dalam tiga pertanyaan universal kemanusiaan kita, yaitu: dari mana kita hidup, untuk apa kita hidup dan akan ke mana kita setelah episode kehidupan ini berakhir? Hal ini penting untuk segera dilakukan agar semakin berkurang tumbal-tumbal manusia modern atas nama hasrat, perut, kekuasaan, ingin menang sendiri, dan beragam motif-motif eksploitor lainnya.

Panji Wening Hariyanto

Pendiri  Forum Jogya Rembug

http://www.forumjogjarembug.wordpress.com