Oleh: Mark Van Yetter

Kalau melihat bentuk karakter dunia seni sekarang, ada sebuah aspek yang jelas menonjol. Kiblat seni modern, yang masih berpusat di Eropa Barat Laut dan Amerika Serikat, tengah mengalami pergeseran poros. Negara-negara yang lama tak ikut serta, seperti Turki, ingin memantapkan diri sebagai pemain dalam industri seni.

Beberapa pusat seni, museum dan galeri yang cukup memadai telah dibuka di Turki sepanjang dasawarsa terakhir – dan tren ini terus berkembang. Lembaga-lembaga ini telah berbuat banyak untuk memperkenalkan tradisi seni modern Turki, yang berpusat di Istanbul.

Yang cukup penting di antaranya adalah kompleks seni dan budaya yang dinamai SantralIstanbul, yang baru-baru ini menampilkan sebuah retrospeksi karya-karya seniman Turki berusia 76 tahun, Yüksel Arslan, yang dikuratori dengan sangat baik. Arslan, yang mengasingkan diri di Paris untuk menghindari sensor atas tema-tema sosialis dan satiris karya-karyanya, yang berfokus pada kelas pekerja, kembali ke Turki pada 2009 untuk sebuah pameran selama tujuh bulan.

Pada Mei 2010, ruangan galeri baru, Rampa, menggelar pameran akbar karya-karya Cengiz Çekil, seniman yang dianggap berjasa memapankan seni konseptual di Turki, yang karyanya merefleksikan ketegangan politik dan sosial sebelum kudeta militer tahun 1980. Galeri lain yang patut dicatat adalah BAS, yang baru-baru ini memamerkan majalah-majalah dan karya-karya KORİDOR, sekelompok seniman yang berkarya antara tahun 1988 dan 1995. Baru sekarang ini banyak karya dari seniman-seniman tersebut muncul di galeri-galeri arus utama di Turki.

Namun, gerakan ini masih tergolong kecil. Baru belakangan saja forum-forum untuk pengembangan dan penyebaran seni ini mulai muncul ketika publik Turki mulai menerima gerakan-gerakan kesenian.

Melihat pencapaian-pencapaian terbesar dalam seni modern di Barat, jelas bahwa para seniman yang secara radikal mengancam nilai-nilai sosial dan budaya yang mapan adalah mereka yang membuat kontribusi paling penting.

Seniman-seniman Barat seperti Joseph Beuys dari Jerman, yang dipandang sebagai salah satu seniman paling penting abad ke-20, menentang gagasan bahwa seni harus terbatas pada membuat objek. Ia mengembangkan gagasan “pahatan sosial” dan melihat masyarakat sendiri sebagai karya seni yang rumit di mana setiap orang ambil bagian dalam membuatnya. Misalnya, untuk mengangkat kesadaran lingkungan dan perubahan sosial, Beuys menanam 7.000 pohon oak di Kassel, Jerman, dengan bantuan para relawan. Sebuah batu basal mendampingi setiap pohon, dan semuanya secara bersama-sama menciptakan pahatan berjudul “7000 Oak”.

Serupa dengan itu, sekelompok seniman dan penulis Turki menggunakan seni modern untuk menentang pembunuhan Hrant Dink, pemimpin redaksi surat kabar Armenia-Turki, Agos, yang dikenal sebagai seorang pembela hak asasi manusia. Para seniman menutup diri mereka dengan koran dan berbaring di jalan di mana Dink ditembak untuk memprotes kematiannya dan kontroversi seputar liputan korannya tentang pandangan masyarakat Turki mengenai tewasnya orang-orang Armenia oleh tentara Turki-Utsmani (Ottoman) pada 1915.

Tapi untuk memahami fenomena tumbuhnya minat pada seni modern Turki, kita harus lebih dulu membahas sejarah Turki dewasa ini.

Kudeta militer terakhir di Turki adalah pada tahun 1980. Militer, yang kukuh melindungi sistem politik sekuler Turki, menerapkan cara-cara kekerasan, seperti mengancam para jurnalis dan membunuh para intelektual sayap kiri untuk mempertahankan sistem sekuler pada tahun-tahun menjelang dan menyusul kudeta tahun 1980. Tanpa ruang untuk menentang status quo, gerakan seni modern Turki terpaksa bergerak di bawah tanah dalam waktu yang lama.

Sejak berdirinya republik, masyarakat Turki tidak punya kesempatan maupun sarana untuk secara terbuka mengkritik kondisi militeristik negeri ini. Republik ini meneruskan program Turki-Utsmani di mana seni digunakan hanya sebagai alat untuk meneguhkan rasa kebangsaan. Ini tampak dari banyaknya lukisan dan patung pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk.

Namun, karena kebijakan-kebijakan baru terkait keinginan Turki masuk Uni Eropa dan meningkatnya pajanan global melalui internet, dasawarsa terakhir diwarnai dengan kemunculan masyarakat yang lebih terbuka pada dialog dan debat tentang beragam isu sosial dan politik. Masyarakat Turki kini lebih siap menghadapi masa lalunya yang brutal. Topik-topik yang sebelumnya dianggap tabu kini terbuka untuk diperdebatkan.

Di sini saya sangat berharap akan munculnya masyarakat Turki yang lebih terbuka, yang bergerak menuju masa depan yang terbuka dan lebih hidup. Dan, lantaran lingkungan yang lebih kondusif bagi dialog terbuka, kini sudah ada fondasi bagi seni modern Turki yang menarik untuk tumbuh berkembang.

###

* Mark Van Yetter adalah seorang seniman dan Direktur Marquise Dance Hall, ruang seni independen di Istanbul. Artikel ini ditulis atas kerja sama dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).