HMINEWS- Mahasiswa adalah sekumpulan elemen yang unik berada dalam posisi ideal dalam pandangan masyarakat luas, memiliki kompetensi teoritis dan praktis sehingga membawanya pada sebuah identitas intelektual yang memeliki pengaruh erat dalam setiap bentuk perubahan sosial yang terjadi di Bangsa ini.

Kecakapan akan potensi intetelektual yang dimiliki, membuatnya memiliki bargaining posisi yang tidak hanya diakui aleh kalangan Masyarakat awam, tapi juga sampai pada telinga masyarakat Ilmiah yang lain (Birokrasi Kampus) bahkan Pemerintah. Sejenak ketika kita mencoba merefleksi Histori gejolak perubahan social (social change) dari masa ke masa, baik dalam skala lokal, nasional, bahkan sampai Internasional semuanya didominasi oleh apa yang kita kenal sebagai kelompok Intelektual dan salah satu elemennya adalah mahasiswa.

Mahasiswa sepeti yang diungkapkan diatas, memang memiliki posisi penting dalam lingkup masyarakat. posisinya sebagai agent of change membuatnya hidup dalam realitas yang mengabaikan individualitas dan menjujung tinggi kolektifitas sebagai sebuah cita akan terwujudnya masyarakat mandiri, inovatif, berwatak dan berkepribadian social dalam sebuah perisai kemanusiaan dan keadilan soial.

Pemahaman akan posisi diri memberikan ketepatan bersikap dalam masyarakat, kepandaian memimpin dalam berorganisasi, keadaptifan dalam bersosialisasi, dan melahirkan totalitas perjuangan yang tak akan mati. Sahabat-sahabatku para mahasiswa, kalian adalah ujung tombak perubahan, kalian adalah agent of change, marilah kita bersama-sama pahami posisi pijakan kita, agar bisa meloncat meraih bintang terindah tuk kita persembahkan pada agama, orangtua, saudara, bangsa dan diri kita, mengukir senyum abadi di muka mereka yang menyayangi kita.

Aktivis atau Aktivisme

Uraian singkat diatas telah menobatkan mahasiswa sebagai lokomotif perubahan social (social change) dilihat dari aspek pemikirannya, tindakannya, proses pergaulan sosialnya, hingga totalitas perjuangan sosialnya dalam masyarakat.

Namun kesemuanya itu hanya akan sampai pada persimpangan uraian ketika dalam keyakinan mahasiswa masih simpang siur untuk menentukan posisi dan peran mereka sebagai sebuah pijakan untuk merumuskan langkah yang cepat dan tepat dalam meretas realitas objektif yang senantiasa hadir dipermukaan perdaban manusia. Keyakinan akan posisi dan peran mahasiswa akan menjadi kekuatan dalam bertindak dan bersikap sistematis, orientatif, dan konfrehensif.

Mahasiswa dikenal karena pemikirannya, sikap dan tindakannya. Dalam kajian logika, hukum Prinsip Niscaya Lagi Rasional (PNLR) menyuguhkan salah satu hukum yang disebut dengan hukum Identitas, dalam pengertiannya, hukum ini meniscayakan homogenitas (Sesuatu itu hanya akan sama dengan dirinya sendiri dalam waktu itu juga), dalam interpretasi subjektif penulis hukum ini memberikan informasi kepada kita bahwa pada dasarnya kemudahan dalam memilah, membagi dan menggolongkan terletak pada bagaimana seseorang mampu mengetahui ciri khas sesuatu dalam hal ini persamaan dan perbedaan mendasarnya sehingga sesuatu itu tampak teran dan mampu kita posisikan secara proporsional. Analogi diatas ketika ditarik kedalam posisi mahasiswa ideal, maka seyogyanya sesuatu termasuk mahasiswa dibedakan karena identitasnnya dan identitas inilah yang membuat sesuatu jadi eksis dan terpahami.

Apa sesungguhnya identitas mahasiswa itu.? Apakah seseorang dapat dijuluki sebagai mahasiswa ketika dirinya terdaftar disalah satu perguruan Tinggi dan mengikuti tuntutan kurikulum.? Atau mahasiswa itu adalah mereka yang hadir didalam kampus dengan segala bentuk aksesoris life stylenya sehingga tanpak mempesona karena seragam yang dia miliki sudah tidak lagi ditetapkan kampus sebagai mana pada saat mereka jadi siswa dulu.? Ataukah mahasiswa itu adalah mereka yang paham akan posisi dan perannya sehingga mereka menjadi sub kultur pendobrak dan perintis perubahan.? Semuanya bisa saja benar tegantung siapa dan bagaimna paradigma mereka dalam menjawab pertayaan itu karena paradigmalah yang akan mengantarkan seseorang pada sebuah pilihan rasional baik dia sebagai individu maupun dia sebagai kelompok.

Pandangan diatas, telah mengurikan bahwa mahasiswa ideal merupakan mahasiswa yang seyognya nya memiliki visi dan orientasi progres, berpikir sistematis, senantiasa memadukan teori dan praktek serta sadar akan posisi dan pran pentingnnya sebagai masyarakat ilmiah dan sebagai masyarakat aktivis. Dalam penobakan identitas mahasiswa, perlulah kiranya megetahui dan membedakan antara mahasiswa aktivis dan mahasiswa aktivisme.

Aktivis adalah mereka yang aktif secara akademis dan organisasi, dan orintasinya untuk berafiliasi kepada kalangan mana saja demi sebuah cita-cita perubahan bersama serta tujuan utamanya adalah kematangan diri melalui pencarian jati diri. Dalam dunia gerakan mereka tidak gampang dipatahkan karena gerakan mereka berangkat dari keyakinan ideologis. Sementara mahasiswa aktivisme adalah mereka yang juga aktif secara akademis dan organisasi, tapi kehadiran mereka dalam dunia akademik dan organisasi didominasi oleh kepentingan pragmatis semata sehingga posisi dan pran pentingnnya sebagai akademisi dan aktivis labil dan misorientasi. Dalam dunia gerakan, mereka biasanya tidak mempertimbangkan aspek pengkajian issue secara mendalam dan cenderung reaksioner sehingga gerakan menjadi miskontinuitas dan gampang dipatahkan. Darisitu kita akan menemukan titik teran perbadaan antara mahasiswa yang disebut aktivis dan mahasiswa aktivisme. Numun pada wilayah praktis keduanya hampir tidak bisa dibedakan tapi pada wilayah teoritik sangat jauh berbeda. Kesadaran praktis kedunya memiliki kesamaan tapi dibedakan oleh kesadaran orientasi dan tujuan. Untuk selanjutnya silahkan temukan sendiri masing-masing jawabannya yang mana mahasiswa aktivis dan yang mana mahasiswa aktivisme.

Zulkifli Al Mandari

Kader HMI Cabang Makasar / Mahasiswa Universitas Makasar 06

Email:zul_kifli51@yahoo.co.id