Jakarta, HMINEWS- Bangsa ini telah terbelah menjadi dua kekuatan yang saling berhadap-hadapan, yakni anatara kekuatan pemuda pejuang yang berpaham muda, yang jujur, bersih, berani dan anti penjajahan asing, berhadapan dengan persengkokolan kekuatan tua yang berpaham tua, dan bersemayam di lembaga kenegaraan, eksekutif, legislatif, yudikatif dan sebagian besar partai politik. Kekuatan tua yang jahat, khianat, korup dan menjadi kaki tangan NEOKOLINIALISME DAN IMPERIALISME (NEKOLIM).

Sejarah telah mengajarkan bahwa pekerjaan berat kekuatan muda dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia adalah melawan persengkokoan kekuatan tua yang mendukung penjajah asing. Rangkaian peristiwa seperti Boedi Oetomoe 1908, Sumpah Pemuda 1928, Revolusi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 1945 dan Reformasi Nasional 1998, menegaskan sejarah pergerakan pemuda dalam melawan persengkongkolan kekuatan tua yng hendak melanggengkan penjajah asing atas bumi Nusantara.

Melalui persengkongkolan jahat tersebut, dibantu oleh penjajah asing, kekuatan tua melakukan praktek politik yang sangat keji. Mereka menghancurkan falsafah dan karkter bangsa yang hidup di dalam sejarah masyarakat, mengubah gotong royong atau kerjasama menjadi persaingan, menghancurkan politik musyawarah mufakat dan menggantikannya dengan voting, mengubur tolong-menolong dengan pamri, melenyapkan rasa saling percaya dengan sikap saling curiga diantara anak bangsa. Ideologi dan identitas kebangsaan telah retak dan dihancurkan. Kekuatan rakyat terpecah belah dan tidak lagi memiliki benteng pertahanan yang kokoh dalam membendung penjajahan asing.

Praktik kenegaraan juga dipenuhi oleh berbagai pengkhianatan, fakir miskin dan anak terlantar secara sistematis ditelantarkan oleh negara. sumber daya alam dikuasai sepenuhnya oleh penjajah asing dan dipergunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan penjajah asing. Anak-anak ibu pertiwi diperbudak secara keji, dan menjadi bangsa yang mondok dinegeri sendiri.

Puncak persengkongkolan jahat kekuatan tua tersebut dilancarkan melalui SUBVERSI terhadap negara Pancasila melalui Amandemen UUD 1945 yang dibiayai oleh kepentingan Neokolonialisme dan Imperialisme. Kini, penjajahan asing atas bumi dan manusia Indonesia telah menemukan landasan konstitusional melalui UUD Amandemen.

Sesungguhnya, persengkongkolan jahat kekuatan tua hanyalah oportunisme politik untuk memaparkan jalannya sistem yang menindas dan sekaligus mempertahankan posisi mereka pada jabatan politik seperti presiden, menteri, anggota DPR dan berbagai jabatan pemerintahan lainnya. Melalui persengkongkolan tersebut maka politik dapat dijalankan dengan kebohongan dan hukum dapat diputarbalikkan menurut kehendak dan kepentingan pribadi mereka yang berkuasa.

Dalam persengkongkolan itu pula kekuatan tua dapat terus melakukan korupsi keuangan negara, sembari tetap mendukung kepentingan kapaitalis asing mengeruk kekayaan sumber daya alam. Akibatnya rakyat  terpaksa harus hidup sengsara, sulit mencari makan, para pemuda desa dan kota menjadi penganggur, para petani kehilangan tanah, penduduk kota tergusur, para prajurit muda hidup dengan kemiskinan, mahasiswa dihimpit oleh mahalnya biaya pendidikan, dan jutaan rakyat terperangkap dalam kemiskinan berkepanjangan.

Kini masa depan bangsa tengah terancam, Ibu pertiwi memanggil kembali para pemuda Indonesia untuk menyelamatkan bangsa dari kehancuran. Persengkongkolan jahat kekuatan tua hanya dapat dilawan dengan keberanian. Persatuan pergerakan Pemuda Indonesia yang berani, jujur, bersih dan tanpa pamrih. Sebuah pergerakan yang luas, melibatkan para pemuda dari segenap pelosok Nusantara. Menggabungkan pemuda dari seluruh sector, teritori, agama, suku dan golongan, baik mereka yang ada di pemerintahan, parlemen, militer, partai politik, organisasi profesi, ormas keagamaan, ormas mahasiswa-pemuda, akademisi, jurnalis, seniman dan budayawan, para pemuda dipabrik serta pemuda dikampung-kampung.

Dengan memohon Ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan keberanian, persatuan dan pergerakan pemuda Indonesia, maka kaum muda Indonesia dapat memimpin di garis depan perjuangan, untuk merebut dan menggantikan secara revolusioner kekuasaan yang palsu, korup dan penuh kebohongan dengan kepemimpinan sejati kekuasaan Pemuda. Kepemimpinan sejati Pemuda berkehendak mewujudkan kembali kedaulatan politik Negara, kemandirian ekonomi rakyat, kepribadian bangsa yang tinggi, dengan sebuah moral kenegaraan berlandaskan pada warisan nilai-nilai mulia para pejuang pendiri bangsa, yang tercantum dalam naskah Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, Pancasila, UUD 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Perjuangan untuk kembali menjalankan secara teguh dan konsisten Pancasila dan UUD 1945 (asli), secara filosofi berarti kembali pada politik musyawarah mufakat yang berdasarkan pada kedaulatan rakyat, sebagai antitesa dari politik voting. Menegaskan system ekonomi yang berlandaskan pada kerjasama dan kemandirian, sebagai antitesa dari ekonomi pasar bebas yang dipenuhi oleh persaingan dan intervensi penjajahan asing. Menyusun sebuah system sosial yang berlandaskan pada kekeluargaan, sebagai antitesa dari individualism. Membangun sebuah kekuatan moral masyarakat yang berlandaskan pada rasa saling percaya dan tolong menolong, sebagai antitesa dari rasa saling curiga dan dipenuhi dengan pamrih.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati perjuangan kita untuk mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut. Menyelamatkan bangsa, Negara dan rakyat dari sebuah system dan pemimpin yang terbukti mengkhianati cita-cita pendiri bangsa dan amanat penderitaan rakyat. Mewujudkan bangsa yang berkarakter, yang berkepribadian buday yang tinggi, berdaulat secara politik dan mandiri secara ekonomi.

JAKARTA, 05 JULI 2010

PETISI 28

BERSIH, BERDAULAT DAN SEJAHTERA

Perubahan Butuh Keberanian, Persatuan dan Pergerakan Pemuda