Hampir saja ia tertabrak olehku, kalau tidak kutahan laju tubuhku, sudah pasti tertabraklah wanita Spanish berbusana putih bercorak pohon bambu Jepang itu. Ada-ada saja pikirku, dia malah mencibir dan tersenyum-senyum. Sepatu kulit bertali putih itu menjalin ketat di betisnya yang putih itu, rok putih bertingkat yang ia kenakan bergerak-gerak tertiup angin, seperti supermodel dia berdiri tentu dengan pose…tubuhnya tinggi semampai, padat berisi dengan lekuk aduhai…sigh!

Kalau ingat karangan Claude Levi Strauss dan ulasan Emha Ainun Nadjib mengenai Ras manusia. Aku jadi tertegun-tegun melihat bentuk hidung seorang wanita dalam sebuah kesempatan, bak segitiga sama kaki tertanam indah di tengah wajahnya, atau mengira-ngira besarnya bokong wanita african yang duduk disampingku yang langsung saja menyita sebagian besar bangku panjang dan sebagian kecil porsi tempat duduk-ku, bikin aku senyum-senyum dikulum dan hampir tertawa. Belum lagi pakaiannya yang narsis itu, serba terbuka dan mengumbar semua lekukan ‘kelebihan’. Dengan ikhlas sudah aku persilahkan ia duduk disampingku, tapi bukannya cukup tapi masih saja meminta sedikit lagi bagianku untuk pahanya yang gede banget itu…ha ha ha.

Kalau memakai istilah para dewa Maya, atau ilmu si ‘missing link’ Charles Darwin dalam mengklasifikasi manusia, udah jelas absurd dan tidak tepat, berbau Rasialis dan diskriminatif..Coba saja lihat saja temanku itu, kulitnya memang hitam, dan benar-benar hitam, hanya kelihatan mata dan giginya…Temanku yang lain memang putih, dan benar-benar putih. Sampai-sampai bulu mata dan bibirnya menjadi samar garis-garis wajahnya. Kulit orang Indian itu unik, merah yang cenderung ke coklat. Kulit orang mongoloid, kuning cenderung putih. Kulit orang Indonesia, coklat muda cenderung terang. Kulit orang Bangladesh, coklat tua cenderung hitam. Mereka semua yang disebutkan tadi pastinya ada yang baik dan ada yang buruk hati, ada yang waras dan juga yang gila. Jadi sama saja…Jadi memang bukan perihal kualitas dan warna tersebut dikarenakan lama pembuatannya atau adanya ras paling tinggi dan paling rendah, tapi memang jelas-jelas setiap manusia memiliki perbedaan dan persamaan masing-masing. Semuanya cuma “Untuk saling mengenal….”Kata Tuhan dalam kitab suci, dan yang terbaik adalah yang selalu menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Itu saja.

Dalam konteks agama, manusia diciptakan Tuhan bermacam-macam, mulai dari aspek suku, ras, klan, bahasa, budaya, hingga peradaban. Dalam hal ini, agama berperan menjadi faktor pengontrol dari semua aspek tersebut. Semuanya bergerak, berjalan, berproses, bermain masing-masing, dan agama dalam peranannya menggambarkan batasan-batasan konkret. Misalkan ‘pakaian’ dalam masyarakat modern adalah keharusan dan prestige. Manusia modern percaya, dengan embel-embel merk merupakan jaminan mutu dan pendongkrak percaya diri. Pakaian-pakaian itu dipajang di etalase toko gedung-gedung mewah, menggunakan kaca paling bening dan lampu terang benderang, hingga tampak lebih indah dan mewah.

Dalam masyarakat primitif, pakaian mungkin sedikit berbeda, mereka menambahkan di tubuh mereka: tatoo, goresan di wajah, telinga dan leher dibuat panjang, dan gigi di kikir yang merupakan keharusan. Pakaian tidak lagi memiliki merk, namun aurat dipertontonkan sedemikian rupa dan menjadi terabaikan.

Manusia modern pun lambat laun mengalami peralihan mood dan mode, satu persatu menanggalkan simbol modernisasi…dulu pakaian yang berlapis-lapis, rambut disanggul menjuntai, dan sepatu high-heel…menandakan superioritas dan kekayaan. Sekarang menjadi absurd, pakaian hampir telanjang, badan di tattoo tanda sexuality, rambut di cat dengan warna-warni, sepatu ditukar sendal jepit bercorak bunga. Dan manusia pun bosan, dan kembali ke masa lalu…

Seperti perihalnya diriku, dari dulu yang kadang bosan dan kurang senang dengan bentuk hidungku yang besar ini (maaf ya Allah), karena memang kebanyakan keturunan batak-padang selalu saja memiliki hidung seperti ini. Sekali-kali membayangkan dan memimpikan kesempurnaan, kadang terbersit pikiran rasa iri juga kalau melihat hidung orang bule (eropa)…mancung, bagus, proporsional, dan sedap di pandang mata. Atau hidung orang Amerika Latin (campuran Spanish dan Indian) yang sedang-sedang saja. Tapi kalau lihat hidung orang-orang Asia, wis sama saja toh…God had made everything with His hand, and of course it must be excellent!.

Tapi sih intinya, bagus atau tidak, cocok atau tidak, itu cuma masalah perasaan saja…lah wong kata anakku, “Papa yang paling ganteng….”, katanya dengan wajah penuh semangat dan kesungguhan….Aku tertawa terbahak-bahak, namun dalam hati aku berucap, “Terima Kasih”. Ha ha ha***

Alumni HMI