Jakarta, HMINEWS,-  Tikus menjadi bintang dikalangan politisi indonesia, sebagian kalangan bicara  dan memperdebatkan tikus, tikus dijadikan ikon politik partai, sepak terjang partai politik dalam meraih kekuasaan, menjebak dan terjebak menggunakan tikus.

Bukankah tikus itu binatang yang “kotor” menularkan penyakit, dan dianggap haram bagi kalangan umat Islam, tapi politisi Golkar kenapa harus belajar politik dari tikus, Kenapa pula Iwan Fals menciptakan lagu “Tikus-Tikus Kantor”. Apa bedanya tikus Golkar dengan Tikus Iwan Fals.

Iwan Fals memaknai tikus sebagai sebuah simbol pejabat yang rakus, suka korupsi dan tidak peduli terhadap penderitaan rakyat, berikut saya kutipkan “Tikus” dalam salah satu karya iwan fals yang berjudul “Tikus-Tikus Kantor”

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang disungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji lalu sembunyi

Di balik meja teman sekerja
Di dalam lemari dari baja

Kucing datang cepat ganti muka
Segera menjelma bagai tak tercela
Masa bodoh hilang harga diri
Asal tidak terbukti ah tentu sikat lagi

Tikus-tikus tak kenal kenyang
Rakus-rakus bukan kepalang
Otak tikus memang bukan otak udang
Kucing datang tikus menghilang

Kucing-kucing yang kerjanya molor
Tak ingat tikus kantor datang men-teror

Cerdik licik tikus bertingkah tengik
Mungkin karena sang kucing
Pura-pura mendelik

Tikus tahu sang kucing lapar
Kasih roti jalanpun lancar

Memang sial sang tikus teramat pintar
Atau mungkin sikucing yang kurang ditatar

Disamping sifat tikus yang korup dan rakus, disisi lain tikus juga memiliki makna yang positif dalam memberikan pelajaran kepaada manusia, berikut saya kutipkan kisah tikus yang sarat makna ( sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?s=fe7f9e2b096340f641aa39021880701a&t=2460358 ) :

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada
perangkap tikus….”

Ia mendatangi ayam dan berteriak ” ada perangkap tikus”

Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.

Sang Kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sng ular berkata ” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.

Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.

Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.

Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

Jangan meggigit, tapi menggendus dulu, apa ya makna dari ucapan sang ketua umum partai golkar tersebut ?

ada yang bisa memberikan makna ngak?

kirimkan tulisan anda ke redaksi HMINEWS

redaksi@beta123.hminews.com

ditunggu ya….

by : Redaksi