HMINEWS.COM- Para aktivis, wartawan dan pengamat yang memantau prosesi fit and proper test (uji kelayakan-kepatutan) oleh Komisi XI DPR atas Darmin Nasution sebagai calon Gubernur BI, menyampaikan kisah ngilu: betapa politik dagang sapi dan konspirasi kuasa dan uang yang kotor berlangsung dalam pemilihan cagub BI yang bermasalah itu

‘’Bedanya satu, lebih serakah. Anak buah gak diciprati tapi di-bully ketika meminta walk out. Memang ada bau tidak sedap dari kelakuan para pemimpin fraksi,’’ungkap sumber di Komisi XI DPR yang kecewa dengan kelakuan dan tabiat para pimpinan fraksi dan komisi itu karena transaksi keruh dan konspirasi kuasa dan uang.

‘’Para politisi Komisi XI DPR itu ibaratnya istilah Buya Ahmad Syafii Maarif adalah para politisi ‘’ikan lele’’ dimana makin keruh dan kotor, makin banyak makannya, dan makin wareg (kenyang) sampai gendut perutnya seperti lele kekenyangan,’’ tutur Adhie Massardi, Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB).

‘’Kita mendesak agar seluruh Komisi XI DPR yang memproses pemilihan Darmin dikenakan ‘’Sumpah Pocong’’, pasti banyak yang tak berani karena mereka memang terlibat politik dagang sapi dan konspirasi kuasa maupun uang. Ini mengerikan, sebab akhlak dan moral rusak, demi kepentingan sesaat,’’ kata Ray Rangkuti, Direktur LIMA dan aktivis antikorupsi.

Zainal Arifin Mochtar, Direktur Pusat kajian Antikorusi FH-UGM melihat dari Yogyakarta bahwa prosesi Darmin itu memuakkan rakyat karena transaksional. ‘’Sangat memalukan,’’ ujarya.

Para anggota DPR menyatakan, Darmin terlibat kasus mafia pajak dan skandal Century sebagaimana vonis DPR yang memutuskan opsi C atas Centurygate itu.

Para aktivis, wartawan dan pengamat mencurigai dan menduga, nama-nama seperti Emir Muis (PDIP), Aqsanul Qosasi (Demokrat),Surahman Hidayat (PKS), Hary Azhar Azis (Golkar). elite pimoinan  PAN,PKB dan PPP sudah melakukan apa yang disebut ekonom Ichsanurdin Noorsyi sebagai politik dagang sapi. ”Mereka sudah transaksi dalam suatu konspirasi kuasa dan uang untuk memenangkan Darmin ke BI,” ujar M.Fadjroel Rachman, aktivis antikorupsi dan Direktur LSM Pedoman Indonesia..

Menurut kalangan wartawan, aktivis dan pengamat kepada, ada kesamaan pola antara kasus penyuapan Miranda Gultom untuk menjadi Deputi Gubernur Senior BI dan skandal aklamasi pemilihan Gubernur BI Darmin    Nasution. Keduanya difasilitasi cukong atau seseorang pengusaha, konon,  direksi atau pemilik bank yang dekat dengan kekuasaan.

Seorang wartawan menduga kuat, penerima penyogokan pemimpin komisi 11 itu adalah juga pelaku atau katakanlah ‘’residivis’’ yang sama yang menerima sogokan Miranda Gultom yang difasilitasi cukong, direksi atau pengusaha yang samam dan seharusnya sang politisi yang juga pelaku kawakan ‘’politik dagang sapi’’ itu sudah masuk penjara. ‘’Ini mustinya mendorong ICW/Transparansi International Indonesia (TII) sebagai LSM, dan KPK  sebagai lembaga superbody pemberantasan korupsi, bergerak menyelidiki atau menelusuri politik uang dan transaksi kotor dalam prosesi pemilihan Darmin ke BI itu. Publik sudah mendesak ICW/TII dan KPK utuk bertindak,’’ kata aktivis M.Fadjroel Rachman dari KOMPAK.

Yang menyedihkan, ungkap seorang wartawan di DPR, meski kelakuan politisi kawakan itu sudah sedemikian kotornya, ternyata pimpinan partai oposisi itu (PDI-P) mudah dikibuli, sehingga politisi yangdicap para wartawan dan aktivis sebagai ‘’residivis’’ itu malah mengulangi kejahatannya dengan memilih aklamasi Darmin yang terlibat kasus Century. ‘’Ada cerita bahwa cukong atau pengusaha pemilik bank tersebut dikenal dekat dengan seorang pejabat tinggi ekonomi yang suka meminjam pesawat pribadinya untuk perjalanan partai. Sulit dibantah  bahwa pejabat tinggi tersebut mantan ketua team pilpress, berkepentingan untuk mengamankan Skandal Century dengan mengajukan Darmin karena memang takut aliran dana Skandal Century terbongkar’’ ungkap sumber RIMANEWS di DPR.

Ada lagi cerita parodis seorang sumber di DPR bahwa pada saat rapat fraksi pimpinan Golkar minggu lalu, ketika Harry Azhar masuk ruangan, beberapa anggota berteriak-teriak tanpa sungkan, “bagi dong uangnya”, karena mereka mengetahui bahwa pimpinan komisi XI itu terlibat skandal aklamasi pemilihan Darmin Nasution  sebagai Gubernur BI.

‘’Jika benar kisah kotor  ini, sungguh memalukan sekali, Golkar, PDIP, PKS, Hanura,Gerindra dan parpol lain harusnya komit memberatas korupsi politik dan kolusi. Pak SBY,kabinet dan seluruh elite penyelenggara negara tak boleh basa-basi dan tebang pilih dalam membasmi korupsi, termasuk skandal Century dan mafia pajak. Tanggung jawab ini oleh orang beriman, akan dibawa sampai akhirat.Bukankah hidup hanya sementara?, ’’ kata Frans Aba MA, aktivis GMNI dan kandidat PhD di National University of Malaysia yang mengikuti  penuh dua hari proses pemilihan Darmin ke BI. [] (SJ/BY)