“Allohumma sholli ala Muhammad…..”

“Ayo Saudara-saudara, mari kita sholat jamaah

“Pahalanya dua puluh tujuh derajat

“Mari saudara kita bersuka cita, kita akan mendapat balasan

“Mari menuju kesempurnaan

“Menghadap Alloh Yang Maha Rahmat

“Allohumma sholli ala Muhammad….”

Orang  tua itu terus melantunkan lagu-lagu ajakan dan pujianya setelah mengumandangkan adzan. Mushola sederhana ini memang agak berbeda dengan mushola lain. Tiap selesai adzan dia menyanyikan ajakan dan puji-pujian seperti itu. Dia tidak khawatir disebut bid’ah atau apalah namanya. Dia hanya berpikir sederhana bahwa mungkin saja sedikitnya jamaah sholat selama ini karena mereka tidak tahu arti bahasa yang telah akrab di telinga mereka. Jadi dia berharap apa yang dilakukannya lebih bisa menggugah mereka yang mendengarnya untuk sholat berjamaah.

Suaranya yang agak serak dan kurang bertenaga terdengar menyentuh hati. Menyentuh hati? Mungkin tidak. Karena tidak ada yang datang mendekat kepadanya. Tidak ada yang bergegas ke masjid menyambut panggilan yang diperdengarkannya. Apa seluruh penghuni kota ini telah tuli? Atau semua orang sudah tidak memiliki hati? Kenapa tidak ada manusia satu pun yang mendengarkan suara-suara penuh makna dari orang tua ini?

Orang tua itu terus saja melantunkan lagu-lagu ajakan dan pujiannya. Seakan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya dia terus memperdengarkan suaranya. Tapi tetap saja, tidak ada yang datang. Tidak ada manusia-manusia berbondong-bondong seperti rombongan para penggemar bola yang hanya diundang dengan selembar pamflet. Tidak ada yang bersesak-sesak berdesak-berebutan untuk datang seperti dalam acara-acara konser musik atau orkes dangdut.

Orang tua itu terus saja melantunkan lagu-lagu pujiannya. Mik ada di tangan kanannya, tangan kirinya memegangi tasbih. Duduk bersila dengan sarung kotak-kotak yang tidak bisa dibilang rapi, ujung bawahnya tampak nglinting. Kemejanya coklat bergaris-garis abu-abu, mbladus. Pecinya hitam kusam, sobek di sisi belakangnya. Ketika melantunkan pujian mulutnya mangap-mangap, giginya terlihat penuh plak dan tidak lengkap.

Orang tua itu setia menanti. Menanti makmum meski sebiji.

***

Di bagian lain, tidak jauh dari mushola itu ada seorang anak kecil yang menjajakan dagangannya. Berulang kali dia menawarkan barang dagangannya kepada para calon pembeli. Setiap yang datang dan pergi, setiap yang berjalan kaki. Dijinjingnya barang dagangannya itu kesana kemari. Bibirnya yang tebal dan kering terus saja menawarkan dagangannya, tak jemu-jemunya.

“Permen! Permen! Tisunya, Mbak! Tisunya, Bu!”

“Rokoknya, Mas! Rokok-rokok. Rokoknya, Pak!”

Keningnya berkeringat deras. Mengalir ke mukanya. Bibirnya yang tebal terus berteriak tak kenal lelah. Rambutnya yang terbakar matahari terus saja dia bakar di bawah terik matahari siang hari yang marah ini. Pakaiannya lusuh compang-camping. Celananya butut. Kakinya telanjang menantang dan menerjang aspal yang membakar. Tak ada yang mau membeli permen, tissu, dan rokoknya. Tapi dia terus berteriak menawarkannya.

Tidak seberapa jauh dari anak itu sepasang pengamen kriting mendendangkan lagu-lagu dangdut. Mungkin keduanya saudara kembar. Satu laki-laki satu perempuan. Satu pegang kendang satu lagi pegang ecek-ecek botol kecap merangkap biduan. Yang biduan asyik berlenggak-lenggok berjoget mirip cacing kepanasan. Kendang berbahan pipa pralon menghentak-hentak kuat. Ecek-ecek dengan aneka jenis dan warna botol kecap bunyikan nyaring tak peduli harmoni. Biduannya menyanyi melengking-lengking, menampilkan kemampuan terbaiknya, meskipun tetap saja tidak terdengar baik. Suaranya tetap tidak nyaman di telinga.

“Aku tak mau kalau aku dimadu

Pulangkan saja pada orang tuaku…”

Tak ada yang menggubris suara mereka. Tidak ada yang menyisihkan sekeping dua keping uang receh mereka. Orang-orang di warung makan itu melihat mereka dengan aneh ketika para pengamen itu menyodorkan topi terbalik mereka. Topi itu kembali mereka pakai karena tidak ada sebiji koinpun didapatnya. Mereka melenggang pergi ke warung makan lain. Mereka terus saja menyanyi padahal perut mereka sungguh sudah semakin riuh dangdutan. Tapi mereka harus kuat menahannya. Hingga mereka masih tetap bisa menyelesaikan lagu kesayangan mereka.

“…..Aku tak tahu kalau aku dimadu…”

Di bagian lain, yang juga tidak jauh dari situ, di sebuah gedung yang megah pembicara seminar tampak bersemangat menyampaikan kesimpulannya.

“Sekarang ini dunia sedang dilanda krisis spiritual. Sholat merupakan inti dari spiritualitas islam. Dengan sholat mari kita tegakkan peradaban islam!”

Kata penutup yang bersemangat itu disambut dengan tepuk tangan membahana. Suara tepukan itu menenggelamkan segalanya. Suara tepukan dan sorak sorai itu mengalahkan adzan dan pujian-pujian yang sejak tadi berkumandang. Suara tepukan itu menandai berakhirnya acara seminar dan dilanjutkan acara makan-makan. Para peserta puas dengan pembicaranya. Para peserta meminta tanda tangan pembicaranya. Para peserta puas dengan makanan prasmanan yang melimpah ruah. Para panitia kewalahan meladeni para penggemar yang menyerbu buku-buku karya pembicara.

Lalu lintas sibuk. Tancap gas. Banting kiri. Salip kanan. Belok mendadak. Rem diinjak. Umpatan kasar. “Setan! Goblok! Dasar SIM Nembak! Pantes tak tahu aturan!”

“Allohumma sholli ala Muhammad…..”

“Ayo Saudara-saudara, mari kita sholat jamaah

“Pahalanya dua puluh tujuh derajat

“Mari saudara kita bersuka cita, kita akan mendapat balasan

“Mari menuju kesempurnaan

“Menghadap Alloh Yang Maha Rahmat

“Allohumma sholli ala Muhammad….”

Orang  tua itu terus melantunkan lagu-lagu pujianya. Suaranya yang agak serak dan kurang bertenaga terdengar menyentuh hati. Menyentuh hati? Ah, mungkin tidak.

Tukang asongan masih terus berteriak-teriak menjajakan dagangannya.

Para pengamen masih saja memperdengarkan lagu-lagunya.

Para peserta seminar masih asyik dengan obrolan dan makanannya.

Dan orang tua itu tetap melantunkan lagu-lagu pujiannya. Meski kakinya mulai kesemutan. Meski tangannya mulai gemetaran memegang mik. Meski mulutnya mulai berbusa. Dia tidak peduli. Dia tetap setia menanti. Menanti makmum. Meski cuma sebiji.

Orang tua itu adalah imam, sekaligus muadzin, sekaligus tukang bersih-bersih WC dan lantai, sekaligus… (Sembung Harjo, 2007-2-26)

Roni Hidayat

ronking82@gmail.com