HMINEWS.COM- Rezim pemerintahan minimalis telah menguasai negeri ini selama enam tahun, tetapi tidak menunjukkan aksi dan empati yang serius terhadap usaha pembangunan, pengembangan, serta pemeliharaan (maintenance) aset kesenian dan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dalam siaran persnya Minggu (25/7/10) di Jakarta, Direktur Lembaga Seni Budaya Himpunan Mahasiswa Islam,  Qusthan Abqary mengatakan bahwa mulai dari upaya klaim batik, rendang, wayang, tempe, reog oleh pihak asing, hingga yang terakhir adalah Biday yang merupakan kerajinan tangan khas dan asli Suku Dayak di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Biday dibuat dari rotan kemudian diolah menjadi tikar, tas, dan sebagainya, yang kemudian dipasarkan ke Serikin, Malaysia dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 600 ribu.

Sudah menjadi rahasia umum masyarakat setempat bahwa Biday yang masuk ke Malaysia kemudian dimodifikasi dan dijual kembali. Tidak hanya itu, benda sakral jenis keris dan puluhan benda-benda lainnya senilai sekitar Rp 884 juta yang disimpan di gedung penyimpanan di Pura Dadia Penataran Pande Kangin, Banjar Bangbang Pande, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, turut hilang dicuri maling, ujar Qustan

Sehubungan dengan beberapa hal tersebut, maka Lembaga Seni dan Budaya (LSB) PB HMI (MPO) merasa perlu untuk menyampaikan sikap sebagai berikut:  Stop pencurian aset seni dan budaya bangsa Indonesia, baik yang dilakukan oleh oknum WNI maupun pihak asing.

Mendesak Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementrian Perdagangan, Kementrian Perindustrian, Kementrian Koperasi & UKM serta jajaran pemerintahan lainnya, agar serius berkoordinasi dan menunjukkan aksi guna membangun, mengembangkan, serta memelihara aset seni dan budaya bangsa.

Menuntut agar kredit lunak dikucurkan kepada para pengusaha kecil dan menengah yang bergerak di bidang produksi dan distribusi benda seni dan budaya bangsa Indonesia. Tanpa kucuran kredit lunak, maka bukan tidak mungkin produk seni dan budaya Indonesia terus dicuri oleh oknum WNI maupun pihak asing, kata Qustan. []dni