HMINEWS.COM

 Breaking News

Karakter Bangsa Adalah Cetakan Dalam Membangun Sebuah Bangsa

June 09
13:33 2010

Jakarta, hminews.com – Setiap tempat, setiap bangsa memiliki karakternya sendiri-sendiri. Karakter itulah yang menjadi trayek kemajuannya sendiri-sendiri. Jalan kemajuan suatu bangsa itu adalah jalan karakternya. India maju dengan swadesinya, dan Cina maju dengan karakter konfusionnya. Karakter itu adalah suatu cetakan, dan itu menjadi dasar kepribadiannya. Karakter inilah yang membedakan, satu Negara dengan Negara lain.

Hal ini terungkap dalam seminar tentang Peran Kaum Profesional dalam membangun karakter bangsa yang dilaksanakan di Gedung Bank Indonesia, Selasa (08/06) malam. Hadir sebagai pembicara yaitu Direktur Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Indonesia, Yudi Latif, Mantan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah dan Dosen STF Driyakarta, Dr. Karina S. Supelli.

Menurut Yudi Latif, Jika suatu bangsa sudah kehilangan karakter, maka itu adalah kehilangan segala-galanya. Indonesia yang merupakan satu dari empat Negara terbesar di dunia. Sabang itu ada di London dan Merauke ada di Teheran, tapi kebesaran teritori itu tidak ada harganya jika karakter bangsa itu lembek, jika karakter bangsa itu pecundang.

“akibat mental investment atau character building yang tidak kita garap, maka apapun yang kita miliki seolah-olah, seperti kata Ghandi, dosa sosial yang mematikan bagi masyarakat. Politik tanpa prinsip, pendidikan tanpa karakter, kesenangan tanpa nurani, kekayaan tanpa kerja keras, semua itu seperti menusuk-nusuk jantung kita. Semua dosa sosial yang membunuh kehidupan sosial seperti bagian dari kehidupan kita sehari-hari”. Demikian komentarnya berkaitan dengan karakter bangsa Indonesia.

Yudi menambahkan, pendiri bangsa kita sebenarnya sudah menetapkan karakter bangsa kita yaitu kekeluargaan dan gotong royong. Namun saat ini kehidupan kita sudah tercerabut dari nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong. “oleh karena itu,  kekeluargaan sebagai cetakan dasar karakter bangsa kita, kerapuhan, kehancuran karakter kita, justru terjadi saat nilai-nilai kekeluargaan itu tercabut. Politiknya, demokrasi kita demokrasi yang menghamba pada kekuatan privat, ekonominya juga mengarah pada kekuatan privat, humanisme juga semakin dinilai oleh kekuatan-kekuatan fundamentalisme, pemuda-pemuda kita di daerah semakin mempertontonkan kanibalisme, dan lain-lain. Itulah yang membuat kita hancur seperti tidak punya karakter”. Katanya menambahkan.

Kritik yang lebih tajam disampaikan oleh Burhanuddin Abdullah. Menurutnya, bangsa Indonesia seperti bangsa yang tidak punya karakter. Dia justru mempertanyakan apa sebenarnya karakter bangsa Indonesia itu? “saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa, bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kuat karakternya yaitu bangsa yang tidak punya karakter”. Katanya.

Sementara itu, Karina S. Supelli mengatakan, Ketika kita bicara karakter bangsa kita tidak bisa bicara individu, tapi gugus tindakan kolektif, gugus tindakan warga Negara, itulah karakter bangsa. Karakter bangsa itu adalah cita-cita kebangsaan. Oleh karena itu, karakter bangsa tidak bisa dilepaskan dari kebijakan public (political will) pemerintah. “Kebijkan public adalah cara pemerintah untuk mengelola arus tindakan puluhan juta atau bahkan lebih dari 200 juta jiwa untuk menciptakan karakter bangsa. Yang mengatur tindakan.” Katanya.

Menurutnya, kaum profesional harus menjadi bagian dari menciptakan karakter bangsa tersebut. “kaum profesional bisa menjadi pengawal, bisa menjadi abdi birokrasi atau bisa menjadi abdi sosial dan yang paling menarik adalah menjadi peserta permainan dimana majikannya adalah aturan-aturan politik ekonomi yang berlaku”. Katanya menambahkan. (Sunardi Panjaitan)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.