Jepang sendiri adalah negara yang tidak begitu luas dibandingkan dengan Indonesia. Namun Jepang sudah mampu mengalahkan negara-negara Asia lainnya. Luas negara Jepang sendiri adalah + 378.000km2 (ada pula yang menyebutkan hanya 370.000 km2). Itu berarti hanya 1/25 (seper dua puluh lima) dari negara Amerika. Bahkan cenderung lebih kecil dari California.

Tetapi kebesaran Jepang tersebut tidak sebanding dengan apa yang di rasakan oleh Ilmuwan Jepang, berdasarkan survei yang dilakukan oleh jurnal Nature Inggris ilmiah dan dipublikasikan tanggal 24 Juni 2010, ilmuwan Jepang merasa tidak bahagia dibandingkan ilmuwan dari negara-negara lain.

Menurut studi, ketidakbahagiaan di antara para ilmuwan Jepang berasal dari kurangnya waktu dan sedikit kebijaksanaan dalam memilih tema penelitian dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama Denmark, yang menduduki peringkat pertama di kepuasan ilmuwan. Sementara itu, meskipun pemerintah mempromosikan ide bahwa Jepang adalah negara yang dibangun di atas teknologi, ilmuwan di sini cenderung meminta dukungan lebih dari pemerintah untuk kebijakan untuk mendukung riset masa depan yang lebih bahagia.

Nature melakukan survei berbasis internet di bulan Maret dan April tahun ini, meminta para ilmuwan untuk mengatakan apakah mereka puas (skor satu titik) atau tidak puas (skor nol poin) tentang kondisi di delapan kategori, termasuk hari libur, gaji, dan ketersediaan dari orang tua pergi. Para ilmuwan di Jepang, Amerika Utara, Eropa, Korea Selatan, India dan China ditanya dalam survei tersebut, dengan responden sekitar 10.500 orang.

Hasil survei menunjukkan, ilmuwan Jepang paling tidak bahagia diantara negara yang disurvei, Jepang diperingkat ke 15 di antara 16 negara.

“Jepang tidak harus jatuh kebelakang , jika dibandingkan dengan Cina dan India, dimana secara fasilitas lJepang memiliki segalanya” kata Atsushi Sunami, profesor di National Graduate Institute for Policy Studies. “Namun, rendahnya tingkat kepuasan di antara para ilmuwan di Jepang karena kondisi kerja yang dirasakan seperti perbudakan, dan anda bisa mengatakan mereka tidak melihat harapan untuk masa depan, oleh karena itu Pemerintah harus peduli tentang hal ini..ujarnya. (dni)

Sumber: the Mainichi Daily News, Japan, June 24, 2010
URL:http://mdn.mainichi.jp/mdnnews/national/news/20100624p2a00m0na012000c.html