Oleh : Efri Aditya

Piala dunia adalah produk manusia yang hebat. Olimpiade bahkan tak bisa menandinginya. Afrika Selatan akan menyelenggarakan Piala Dunia ke-19 tapi buat saya itu adalah Piala Dunia ke-5. Ya, baru 4 piala dunia yang saya ikuti dan bisa saya ingat. diluar itu saya tak ngeh. Ingatan dan kesan inilah yang ingin saya bagi…; )

1. World Cup USA 1994 – The Beginning

Inilah Piala dunia pertama saya. Saya mengalaminya di Ponpes Annida Al-Islamy Bekasi. Waktu itu saya adalah santri cilik yang lucu…he3. Piala Dunia ini spesial karena menjadi tonggak awal yang menjadikan saya penggemar sepakbola. Di sela-sela kitab nahwu, shorof dan fikih, wabah piala dunia hadir di tengah-tengah kami. Tapi tak ada satu partaipun yang bisa saya ikuti penuh termasuk partai final. Karena memang tak ada satu pesantren pun yang akan ikhlas membiarkan santrinyak husyuk nonton bola selama sebulan…;P

Saat final saya mengintip lewat jendela kamar ustadz bersama kawan-kawan lain dengan memiringkan kaca nako. Kami berbaris dengan rasa was-was. Waktu itu sudah mulai pagi dan kami harus mengaji. Tapi sebagaimana kami ustadz juga mengalami dilema. Akhir cerita berujung bahagia: kami nonton bersama…he3

Sebagaimana kita ketahui, Brazil juara lewat tos-tosan. Roberto Baggio disorot karena gagal menendang penalti yang membuat Italia kalah. Satu nama lain adalah Baresi.

Tapi partai final sesungguhnya tak terlalu berkesan di hati saya. Kesan terbesar adalah menyaksikan Maradona bermain. Terlalu banyak cerita tentangnya yang saya serap di masa kecil membuat sepakbola seakan-akan hanya dirinya. Ia mencetak gol di partai pembuka atas Yunani yang berakhir 4-0. Tapi sayang ia tak lulus tes doping hingga dilarang tampil di pertandingan terakhir grup. Tango terpukul dan kalah 2-0 dari Bulgaria. Di babak 16 besar kisah Maradona benar-benar habis. Kalah 3-2 dari Rumania.

Satu sosok yang berkesan lainnya adalah Branco.“Gila!” itulah kesan yang hinggap di kepala setiap orang saat melihat free kicknya ke gawang Belanda. Saat final dan ia mengambil tendangan penalti untuk Brazil, orang was-was. Bukan untuk gol tapi untuk Pagliuca, kiper Italia. Tanga pagliuca barangkali bisa patah dan kepalanya bisa copot kalau kena bola tendangan Branco…Gile!

Banyak bintang di Piala Dunia 94. Seperti Romario -yang meraih gelar pemain terbaik turnamen-, Bebeto, Thomas Brolin, Berkamp, juga Oleg Salenko yang menjadi top skor bersama Stoichkov dengan 6 gol. Tapi buat saya pemain terbaik turnamen itu adalah GHEORGE HAGI. Kapten Rumania ini adalah sosok terbesar di USA ‘94. Ia mencetak 3 gol dan 4 Assist. Salah satu gol hebatnya dicetak ke gawang Kolombia lewat tendangan lop spaktakuter hampir dari tengah lapangan. Gol itu bukan saja indah, tapi juga unik dan langka. Hagi memang tak mampu membawa timnya ke semifinal karena kalah adu penalti dengan Swedia tapi bagi saya dialah sosok paling bertalenta dalam turnamen itu. Wibawanya sangat besar di lapangan. Ia tampak sangat tenang dengan aura keajaiban dan kebesaran di balik seragam kuningnya.

Jauh setelah saat-saat saya menyaksikan Rumania bermain bersamanya, sosoknya seperti terus membekas di tim skandinavia itu. Sampai sekarang saya menghormati Rumania dan kadang selalu berharap Rumania mendapat hasil bagus dalam setiap pertandingan yang mereka jalani karena sosoknya.

2. World Cup France 1998 – The Messiah

Inilah Piala Dunia penyelamat. Terselenggara setelah hura-hara Mei 1998, World Cup France 98 adalah obat mujarab yang menghibur dan turut menyejukkan luka pedih negeri setelah porak-poranda paska Soeharto berhenti. Inilah mungkin cara Tuhan memberikan kasih-sayang-Nya pada manusia. Buat orang yang hampir menjadi korban kerusuhan 98 seperti saya (toko milik ayah saya hampir mau dijarah dan saya sempat diancam sekelompok orang dari kampung sebelah karena mencegah mereka mencuri toko orang Cina di dekat rumah saya dengan cara memberitahu warga), anugerah Piala Dunia ini terasa sekali. Ada penurunan tensi yang signifikan baik ketakutan, kemarahan dan kecemasan. World Cup 1998 sejenak membuat bangsa kita lupa akan lukanya yang menganga.

Pemain terbaik tentu saja Zidane –walau FIFA memutuskan Ronaldo sebagai yang terbaik. Dialah keajaiban sepakbola. Dia mirip rahib kalau sedang bermain. Diam dengan imajinasi liar yang melingkupinya kaki dan kepalanya. Dialah tumpuan tim. Jika ada pemain Perancis yang bingung harus bagaimana dengan bola di kakinya mereka segera tahu satu jawab: sodorkan bola ke Zizou dan lihat apa yang terjadi!

3. World Cup Korea-Japan 2002 – No Impression

Entah kenapa tak banyak yang bisa saya ingat dari Piala dunia ini. Korea sampai ke semifinal, Italia tumbang, Perancis gagal di penyisihan dan Brazil juara. Itu saja.

Saya menonton Final yang sangat meriah di acara nonton bareng RCTI di Gelora senayan. Dewa 19 tampil dan saya susah payah merangsek ke depan panggung bersama teman-teman –maklum Baladewa he3. Itu saja.

Tapi saya mengingat satu hal yang membuat miris sehabis nonton bareng: seorang polisi bercerita kepada saya bahwa ia kalah taruhan satu juta. “Teman saya malah kalah motor,” kata dia.

Saya bengong. Dan entah kenapa merasa sangat nelangsa setelah mendengar hal itu. “Pak, pak…..”

4. World Cup Germany 2006 -The Paradox

Banyak rasa aneh dan ganjil membaur pada Piala dunia ini. Semua, tentu saja, karena cerita final yang memilukan itu. Materazzi menghina Zidane dan Zidane lalu menanduknya. Saya mengagumi Zidane dan selalu ingin dia menang tapi secara alami saya juga pro Materazzi karena dia bek Internazionale Milan dan secara tradisional saya juga selalu ingin Italia menang. Namun jauh di lubuk hati, saya lebih ingin Zidane menang bersama Perancis sekalipun hampir semua pemain Italia akrab bagi saya karena setiap minggu melihat siaran Serie A di televisi.

Saya melonjak saat Zidane mencetak gol penalti menit ke-7i tapi juga senang ketika Materazzi menyamakan kedudukan. Saat pertandingan berujung adu Penalti dan Grosso mengambil tendangan terakhir saya juga ingin ia berhasil tapi saya juga tak ingin Perancis kalah dengan cara seperti itu. Ah, inilah mungkin paradoks itu. Absurd!

Sebagaimana kita tahu, Italia juara. Tapi setelah itu, saat bermain PS, saya tak memakai Materazzi untuk beberapa waktu di lineup Inter Milan.

Gol Grosso ke gawang Jerman di semifinal adalah cerita abadi. Del Piero mengambil tendangan pojok, bola memantul ke area 16 meter Jerman, diolah Pirlo dan di sodorkan ke Grosso. Dengan satu sepakan jitu dengan kaki kiri, gawang Jerman bobol. Grosso berlari kencang dan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Air bermuncratan dari wajahnya: airmata dan keringat. Membekas dan sangat mengharukan sekali. Sebuah Melankolisme sepakbola nan indah.

FIFA menganugerahi Golden Ball ke tangan Zidane. Saya setuju karena memang talenta miliknya tetaplah yang terbaik saat itu. Tapi Zizou tak sebaik saat mengangkat tropi piala dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. “Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya,” kata Figo saat Portugal kalah di semifinal oleh Perancis dan saya mengamini hal ini.

Pemain terbaik dalam turnamen ini menurut saya adalah Andrea Pirlo. Dialah sutradara permainan sejati. Di kakinya irama Italia mengalun. Kadang dia cepat mengoper, kadang mendelay bola, kadang mengumpan pendek, kadang membuat umpan lambung dan semuanya terasa pas dan tepat. Dia bermain di depan bek dan agak jauh dari striker tapi dari kedalaman itu ia merancang semua hal yang mematikan lawan-lawan Italia. Sosoknyalah yang membuat Totti tak punya cerita di Piala dunia dan tim Azzuri saat itu. Totti juga seorang biang permainan, sebuah pusat, dan pencipta ritme sebagaimana yang ia perlihatkan di AS Roma. Tapi saat bermain bersama Pirlo ia tenggelam.

Pirlo di puncak permainannya adalah Pangeran Bentar bagi saya dan Zidane di puncak permainannya adalah Brama Kumbara yang dulu saya nantikan siaran radio dan layar tancapnya.

Kini saya menyambut Piala dunia ke-5 saya. Semoga saya menemukan kisah indah lainnya….Amin ya Rabbal Alamin.[]

* Penulis adalah redaktur Majalah Hidayah