lelaki yang menagaskan diriRuangan itu luas, berdinding putih dan ada empat jendela berderet di sepanjang dinding yang menghadap keluar. Satu dari keempat jendela itu berkaca retak, mirip lukisan akar dan kelihatan artifisial. Tidak ada apa-apa di sepanjang empat jendela itu, kecuali retakan tadi dan sebuah kelender yang berkibar-kibar diterpa angin. Di tiga dinding lainnya enam foster anjuran kesehatan membeku diam. Sesekali si pemuda meliriknya.

Terdapat tiga meja di keseluruhan ruangan. Dua diantaranya diatur memanjang di sudut ruangan di bawah retakan tadi, tempat bersemayam bagi dua gelas dan juga puluhan botol kecil berisi cairan warna-warni yang dijejer, serta sebuah box putih bergambar insult di atas botol-botol itu. Dan di samping di ujung meja itu yang memepet tembok, memanjang sebuah tempat tidur yang berkerangka besi dan berseprai putih. Meja satunya lagi berada di tengah-tengah ruangan dan diapit tiga kursi bergabus hitam. Satu menghadap ke pintu dan duanya lagi menghadap ke jendela.

Mereka berdua, yang satu dokter dan satunya lagi si pemuda tadi. Si dokter duduk di kursi yang menghadap ke pintu dan si pemuda di kursi sebelah kiri yang menghadap jendela. Mereka berhadapan, diam dan diperantarai daun meja. Dokter itu perempuan, berumur dua puluh pertengahan dan kelihatan gugup. Si pemuda dengan ritme wajah yang bingung.

Si dokter menghela nafas dan menghempaskannya kuat-kuat di hidung Diusahakannya menenangkan diri dengan itu, mengangkat kepalanya tiba-tiba dan berkata “Aku baru bertugas di sini, belum cukup setengah tahun. Dokter itu menatap masuk ke mata si pemuda dan mengehela nafasnya lagi, mengusir ketegangan yang kembali menyerbunya.

Si pemuda diam mencoba menangkap maksud dari kalimat itu. Namun sia-sia, kata-kata itu terlalu absurd bagi dirinya.

“Positif” kata dokter itu keluh dan khawatir.

Lesu si pemuda tertunduk.

Usai menjabat tangan si dokter, si pemuda lalu pulang ke rumahnya dan tidur sampai sore. Malamnya dia nonton film percintaan sampai jam sembilan, ke diskotik dan lalu nongkrong di public park sesudahnya. Lain seperti biasa, dia tidak minum dan kelihatan lebih lega dari yang sudah-sudah “yang abu-abu telah menjadi terang” batinnya “tak perlu lagi ada yang disesalkan”. Dan setelah sekian lama cuma duduk melamun di tempatnya, dikeluarkannya spidol hitam dari saku dan menuliskan sesuatu di senderan kursi di balok paling atas. Dia hati-hati sekali melakukannya, karena tidak ingin karyanya yang itu seperti kebanyakan tulisannya. Selesai, dia jauhkan kepala mengecek. Diamati dan dibacanya “AIDS bukti bahwa aku laki-laki”.

Nasrul Sani M Toaha