Empat tahun yang lalu, penulis terlibat dalam aksi massa yang melibatkan sekitar seratus ribu buruh yang berpusat di depan Gedung DPR-RI. Demonstrasi tersebut adalah bagian dari refleksi Hari Buruh Internasional pada tanggal 1 Mei 2006. Hampir seperti biasanya, mobilisasi massa berakhir rusuh. Pintu gerbang halaman gedung parlemen dirobohkan. Sebelum massa dibubarkan secara paksa, sebuah jembatan penyeberangan kondisinya sudah setengah terbakar. Delapan orang buruh ditangkap, lalu dibawa ke Polda Metro Jaya dan ditahan sampai dua minggu kemudian.

Saya bukanlah aktivis buruh, saya hanya “kebetulan” berada dalam lingkaran mereka. Pada saat itu, saya adalah seorang fungsionaris Ormas (baca: PB HMI) yang bersimpati dengan suara serta gerakan mereka. Bagi saya, ini merupakan “kenangan terindah” yang pernah saya peroleh bersama gerakan kaum buruh di Indonesia.

Kesejahteraan versus Keterasingan

Tanggal 1 Mei,—hampir di semua negara—kita merefleksikan kembali momentum May Day. Di tiap kota, aparat keamanan disiagakan untuk mencegah sekaligus melibas dari kemungkinan terjadinya anarkisme gelombang massa buruh yang berdemonstrasi secara serentak.. Khusus di Ibukota Jakarta, pengamanan berlapis terjadi di area-area pusat pemerintahan (seperti Istana Negara, Istana Presiden/Wapres, dan gedung DPR) serta kantor-kantor perwakilan internasionalisme (seperti Kedubes AS, China, Korea, maupun lembaga mutilateral PBB dengan ILO-nya).

Namun, narasi apa yang sesungguhnya perlu disampaikan oleh gerakan buruh, selain soal kesejahteraan? Posisi yang sulit bagi kaum buruh, lantaran mereka sudah jauh terperangkap dalam lingkaran setan kapitalisme.

Buruh sesungguhnya merupakan fenomena by product industrialisasi sebagai salah satu varian perubahan sosial. Kelas buruh muncul dalam logika pembagian kerja (division of labour) dari konsekuensi industri yang dipacu oleh kapitalisme. Suatu teori umum yang dapat kita ketahui, bahwa pemilik modal berhajat terjadinya produksi massal dengan motif efisiensi sehingga memurahkan biaya produksi dan naiknya besaran keuntungan.

Menurut Karl Marx—sebagaimana dikutip Daniel Sparringa (2004)—kelas bukanlah fenomena umum dalam masyarakat. Kelas adalah hasil ciptaan sejarah, khususnya kapitalisme. Hubungan kelas semacam ini, senantiasa bersifat eksploitatif dan berdampak pada lahirnya konfliktual dua kepentingan yang berbeda di antara kelas yang berkuasa dengan kelas yang tersubordinasi.

Tesis Marx telah memenuhi narasi “penderitaan” buruh dewasa ini. Ketika kaum kapitalis kian besar, pihak-pihak yang tak memiliki modal terpaksa menjual tenaganya (wage workes) semata-mata demi bertahan hidup.

Buruh menjual tenaganya, lalu pada saat yang sama mereka kehilangan kontrol atas hal yang amat esensial sebagai manusia; karena sepenuhnya telah dimekanisir oleh pemilik alat produksi. Maka terjadilah—sebagaimana yang ditulis oleh para sosiolog Kiri—“keterasingan diri” (alienasi) bagi kaum buruh.

Kaum buruh kehilangan harkatnya sebagai manusia (human species being) sebab menjadi terasing bukan saja dari proses produksi (karena bekerja sebagai sekrup kecil dari satu mesin besar) tapi juga teralienasi dari tetesan karyanya. Buruh layaknya alat mekanis, tak mendapat pujian kecuali upah yang dibayarkan padanya.

Pemosisian buruh dalam kerja yang bersifat repetitif (berulang-ulang dan berjam-jam melakukan pekerjaan yang sama) menjadikan dirinya kehilangan kemampuan adaptasi karena hanya merespon tugas secara pasif. Pikirannya tidak dipakai sama sekali, hanya tenaganya saja yang dimanfaatkan. Kondisi semacam ini, menurut Marx, tak ubahnya mengondisikan manusia menjadi binatang; human being animal (Terj. Das Kapital, 1999).

Membangun Narasi Kemanusiaan

Kritik demi kritik yang dilontarkan gerakan buruh beserta mazhab Kiri, faktanya telah membuat kapitalisme melakukan koreksi dari dalam (self correction) secara berangsur-angsur. Tidak mudah memang menerka, apa itikad dari kaum kapitalis dalam koreksi tersebut. Satu hal yang pasti, kesejahteraan buruh akan membaik. Jika buruh sebagai mesin dan alat produksi (manusia mekanis-robotis), maka buruh harus sejahtera, sehat dan kuat agar hasil produksi selalu meningkat (surplus product). Namun, apakah keterasingan buruh juga akan diperhatikan? Kapitalisme memang culas dan licik.

Perjuangan organisasi buruh, seyogianya tidak saja mengaspirasikan hak-hak ekonomi semata, melainkan juga hak politik dan hak kemanusiaannya. Resistensi dari kaum kapitalis pasti akan muncul, namun bangunan narasi kemanusiaan (humanity) buruh merupakan faktor kunci yang menjelaskan kemenangan nasib buruh secara keseluruhan.

Sebuah hal yang amat vital adalah terbentuknya visi, struktur, dan jejaring gerakan buruh yang independen dari pengaruh kekuasaan, pemerintah, dan pemilik modal: Sebuah gerakan yang bukan hanya secara efektif sanggup mewadahi aspirasi kaum buruh, melainkan pula mampu memberikan tekanan pada sistem untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan yang bisa menghentikan terjadinya eksploitasi buruh serta menegakkan hak-hak manusiawi mereka.

Gerakan May Day telah berlangsung sejak 1 Mei 1886. Selama 124 tahun, gerakan buruh sedunia sudah “berperang” kendatipun dengan skor kekalahan lebih banyak. Kini kita kembali merefleksi itu semua.

Kelas buruh adalah fenomena yang tak mungkin terhindarkan. Memperbaiki nasib buruh, bukan berarti memutus mereka dari alat produksi dan pemilik modal; tetapi meniadakan penindasan, serta kesenjangan sosial yang menderanya selama ini. Lebih dari, buruh harus diposisikan menjadi manusia sejati; manusia seutuhnya!

Lukman Wibowo; Ketua Komisi PTK PB HMI 2005-200, tulisan diambil dari http//www.harianjoglosemar.com. 1-5-2010)