Oleh: Sukron Kamil

Dalam literatur sastra di Indonesia, sastra keagamaan, khususnya Islam, meski tidak diakui secara universal, tampaknya telah menjadi genre tersendiri. Menurut A. Teeuw, dalam sejarah sastra di Indonesia, religiusitas merupakan tema universal yang menjadi tema sastra dari Hamzah Fansuri hingga Sutardji.  Selain keduanya, tema ini pun juga menjadi tema pavorit bagi Sunan Bonang, Yasadipura II, Ranggawarsita III, Raja Ali Haji, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Sanusi Pane, HAMKA, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Achdiat Karta Mihardja, Bachrum Rangkuti, AA. Navis, Jamil Suherman, Kuntowijoyo, Danarto, dan Abdul Hadi WM.

Menurut Gunawan Muhammad, yang dimaksud dengan sastra keagamaan adalah karya sastra yang menitikberatkan kehidupan beragama sebagai pemecah masalah. Namun, dalam berbagai literatur Arab, paling tidak perasannya, sastra keagamaan, khususnya sastra Islam, lebih luas daripada definisi Gunawan. Sastra Islam adalah sastra yang mempromosikan sistem kepercayaan atau ajaran Islam; memuji dan mengangkat tokoh-tokoh Islam; mengkritik realitas yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam; mengkritik  pemahamaan Islam yang dianggap tidak sesuai dengan semangat asli Islam awal, atau paling tidak, sastra  yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Di Indonesia, sastra jenis ini dikenal dengan banyak sebutan. Diantaranya: (1)  sastra sufistik, yaitu sastra yang mementingkan pembersihan hati (tazkiyah an-nafs)  dengan berakhlak baik agar bisa dekat sedekat mungkin dengan Allah. (2) Sastra suluk, yaitu karya sastra yang menggambarkan perjalanan spiritual seorang sufi mencapai taraf di mana  hubungan jiwanya telah dekat dengan Tuhan, yaitu musyâhadah, penyaksian terhadap keesaan Allah. (3) Sastra transendental, yaitu sastra yang membahas Tuhan Yang Transenden. Dan (4) sastra profetik, yaitu sastra yang dibentuk berdasarkan atau untuk tujuan mengungkapkan prinsip-prinsip kenabian/wahyu.

Corak Baru Sastra Islam Indonesia Mutakhir

Karena keterbatasan tempat, tulisan ini hanya akan membahas cerpen Asma Nadia dan Novel Memburu Kalacakra karya Ani Sekarningsih. Dua karya ini tampaknya penting untuk diketengahkan, karena telah menampilkan corak baru dalam genre sastra Islam Indonesia mutakhir.

Dalam 20 Tahun Cinta, Asma Nadia mengisahkan perselingkuhan dua manusia yang sudah berkeluarga dengan menekankan pada pergolakan batin dan di dalamnya tidak ada adegan jamah menjamah. Berdasarkan caranya menyajikan cerita ini, tampaknya ia membuat corak baru dengan menampilkan model sastra realis Islam atau pragmatik. Sebagaimana yang bisa dibaca dalam berbagai literatur, sastra realis adalah sastra yang berusaha melukiskan suatu objek seperti apa adanya (realistis), bukan sebagaimana seharusnya. Sastrawan aliran ini, karenanya, bersikap seperti seorang juru potret, karena hasil potret tersebut umumnya persis sebagiamana adanya. Realitas yang dutampilkan pun dilukiskan secara teliti, tidak dilebihkan, tidak juga dikurangi. Selain itu, sastrawan aliran ini juga sering bersikap sebagai pengamat yang tidak menampakkan pemihakannya. Berbeda dengan aliran realis murni, Asma Nadia tampaknya menganut realis Islam atau lebih tepatnya realis pragmatik, yang mengungkap perselingkuhan sebagai realitas, tetapi menahan diri dari menjelaskan plot yang membahayakan moralitas pembaca.

Kecuali itu, Asma Nadia juga berbeda dengan sebagian, bahkan umumnya,  penganut genre sastra Islam yang menghindar dari membicarakan seksualitas, karena paling tidak ia telah membincangkannya, walaupun hanya dalam wilayah batin.  Seks dalam sastra Islam acapkali dilihat, dalam Istilah Harry Aveling, sebagai “mawar berduri”. Karena itu, tokoh yang digambarkan pun biasanya adalah tokoh sempurna secara fisik yang berhati malaikat, tetapi kehilangan fungsi kelaminnya. Sebagai seorang realis pragmatik, ia juga tentu saja tidak menggambarkan seks dengan cara meneriakkannya dengan keras. Tetapi, ia mempersoalkan seks sebagai bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan menggambarkannya secara wajar pula, meskipun ditutupi demi menjaga moralitas dengan cara mengungkapkannya hanya dalam wilayah batin. Namun, ia bisa dianggap kurang berani, dibanding dengan cara Qur’an membicarakan seks sekalipun. Sebagaimana telah ditempuh Asma Nadia, secara konseptual, al-Qur’an memandang seks dalam sastra adalah bahwa: seks yang terlampau diteriakkan sama buruknya dengan seks yang dilenyapkan sama sekali. Namun, al-Qur’an menggambarkan seks lebih tampak, meski terlihat hat-hati dan mengingatkan moralitas pembaca. Lihat misalnya QS. Yusuf/12: 23-24: “Dan wanita (Zulaikha) –di mana  Yusuf tinggal di rumahnya– menggoda Yusuf. Ia (lalu) menutup pintu-pintu rumahnya. Katanya: “Kesinilah (wahai Yusuf)”. Jawab Yusuf: “Aku berlindung kepada Allah”…..Sesungguhnya, wanita itu telah berkeinginan (melakukan “perbuatan tertentu”) dengan Yusuf. Dan (demikian juga dengan) Yusuf yang juga berkeinginan, jika ia tidak melihat tanda (kebesaran) Tuhan“.

Karya lain yang layak untuk diulas adalah Novel Memburu Kalacakra karya Ani Sekarningsih yang terbit di Yogyakarta tahun 2004. Novel ini sesungguhnya merupakan novel profan, tetapi memiliki nafas Islam, paling tidak Islam yang telah dikiritisi. Novel ini dalam beberapa bagian bisa dikategorikan novel yang mengkritisi pemahaman Islam yang dianggapnya tidak sesuai dengan semanagat Islam yang asli dan tidak sesuai dengan  tuntutan kekinian.

Sebagai novel profan, religiusitas dalam novel ini bukan satu-satunya persoalan yang diungkap. Bahkan Arleta, tokoh utamanya, menyalahi ajaran Islam yang dianutnya dengan berhubungan seks sebelum menikah dan menikah dengan laki-laki berbeda agama, yaitu Hindu. Namun, novel ini banyak membahas persoalan Islam. Arleta menyayangkan betapa nilai-nilai kemanusiaan tidak terwujud di Indonesia meskipun mayoritas masyarakatnya  Muslim. Menurutnya, Islam bukanlah sebuah monumen mati yang dipahat indah pada abad ke-7 M, sehingga tabu untuk disentuh sejarah. Ia juga mengkritik pemahaman keagamaan yang konvensional yang cenderung kaku dan dogmatis yang tidak membantu para tokoh agama dalam menghadapi persoalan  kekinian. Karena itu, baginya: (1) untuk memahami Islam dengan baik dibutuhkan kesediaan untuk mempelajari filsafat dan ajaran di luar Islam seperti Filsafat Jawa, Taurat,  filsafat Barat, dan  lainnya. (2) Islam harus disikapi secara kritis,  baik dengan cara mengkritisi asal usul dan maksud tujuan aturan agama, maupun dengan mempertanyakan, apakah agama dalam bentuknya yang ada saat ini dapat memberikan sesuatu yang berarti bagi manusia. Namun, sikap kritisnya ini berbenturan dengan sikap yang dianut umumnya tokoh Islam. Arleta pun ditegur tokoh Islam yang dikenalnya pada saat ibadah haji, karena pertanyaan-pertanyaannya yang diangap tidak pantas. Ia pun kecewa dan bertanya pada dirinya sendiri, apakah berfikir kritis terhadap ajaran Islam merupakan sebuah dosa?

Selain itu, novel ini menyerukan pembaca untuk memiliki kecerdasaan spiritual, antara lain dengan  memaknai setiap peristiwa yang dialami dengan merujuk pada filsafat atau spiritualitas agama. Religiusitas harus hadir dalam setiap kehidupan dan waktu adalah nafas-Nya, demikian salah satu ungkapan Neo Sufisme Arleta. Bagi Arleta, hidup yang religius bukanlah terpisah dari kehidupan sehari-hari dan tempatnya hanya di mesjid. Religiusitas hadir dalam sikapnya yang bertangungjawab terhadap anak-anak dan pekerjaan misalnya.  Karena tekadnya untuk bisa berarti bagi kemanusiaan, di akhir novel, Arleta pun bekerja sebagai guru di daerah terpencil.

Meskpun Novel Memburu Kalacakra memiliki nafas Islam, hanya saja dalam pengertian konvensional, sebagai novel profan, novel ini masih menyisakan masalah, paling tidak bagi pemahaman Islam yang biasa (mainstream). Setidaknya ada 3 hal: pertama keyakinan bahwa pengalaman batin (keagamaan) adalah urusana pribadi. Kedua, perkawinan lintas agama yang dilakukannya, apalagi perkawinan seorang perempuan Muslim dengan Non Muslim seperti yang dilakukan Arleta, yang sulit diterima oleh kalangan Islam konservatif, meski dibolehkan oleh sebagian kecil kalangan liberal Islam.  Ketiga, pandangan Arleta bahwa perbuatan yang tidak menyakiti siapa-siapa seperti berhubungan seks sebelum menikah dengan sama-sama suka sama sekali bukanlah sebagai kesalahan. Pandangan ini tampaknya dipengaruhi oleh pemikiran sekularitas yang menjadikan agama sebagai wilayah pribadi; pemikiran liberal Islam dalam nikah beda agama;  dan konsep kejahatan dalam filsafat hukum Barat. Misalnya  konsep hukum dari  David Hume (1711-1776 M) dan Jeremy Bentham (1748-1832 M) yang melihat ukuran perbuatan bisa disebut jahat atau tidak adalah pada penderitaan yang diakibatkannya. Jika suatu perbuatan tidak mengakibatkan penderitaan bagi orang lain, maka perbuatan itu bukan sebagai perbuatan jahat, dan semakin banyak orang yang menderita yang diakibatkan oleh sebuah perbuatan, maka perbuatan tersebut semakin buruk atau jahat. Sedangkan dalam Islam, kriteria perbuatan jahat (jinâyah), bukan saja hal itu satu-satunya, karena perbuatan yang yang merusak moralitas agama dan mengancam legalitas keturunan seperti perzinahan dinilai juga sebagai sebuah dosa, walaupun dilakukan suka sama suka. (Wallâh A’lam bi as-Shawâb).