Enam mahasiswa perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM  meminta kesediaan Wakil Presiden Boediono mundur apabila dinyatakan bersalah dalam proses hukum atas kasus Bank Century. Dalam pertemuan selama 10 menit itu, Boediono siap bertanggungjawab apabila dinyatakan bersalah dalam proses hukum.

Seperti dilaporkan Kompas, sekitar 200 mahasiswa BEM Seluruh Indonesia dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berunjuk rasa menentang Boediono, Senin (3/5). Mahasiswa menuntut Boediono mundur sebagai bentuk tanggung jawab.

Mahasiswa berunjuk rasa di gerbang utama menuju Kampus UGM sejak pukul 10.00. Dua kelompok mahasiswa itu mendobrak barikade pengamanan polisi dan satpam kampus. Aksi menjadi ricuh saat mahasiswa dan aparat keamanan saling dorong. Kericuhan mereda setelah aparat bersedia menerima enam perwakilan mahasiswa UGM.

Ketua BEM UGM Aza El Munadiyan mengatakan, kedatangan dan unjuk rasa mahasiswa untuk mendorong proses hukum Century yang saat ini mandek. Koordinator aksi KAMMI DIY, Lakso Anindito, mengatakan, mereka menolak intervensi kekuasaan terhadap kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus Century.

Saat memberikan kuliah umum di Balai Senat UGM, Boediono menyampaikan bahwa penyelamatan Bank Century dilakukan untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi hebat, seperti terjadi pada 1997-1998.

Menurut Boediono, saat keputusan pemberian dana talangan (bail out), Indonesia tengah terkena dampak krisis ekonomi global yang membuat sejumlah besar dana investor ditarik ke luar negeri. Hal ini mengakibatkan perekonomian Indonesia kekurangan likuiditas.

”Saat itu, penutupan satu bank, sekecil apa pun bank itu, akan memicu timbulnya krisis ekonomi parah, seperti 1997- 1998. Biarpun Century termasuk bank kecil, saat itu tetap harus diselamatkan untuk menyelamatkan perekonomian nasional,” katanya.

Dan Boediono menegaskan dirinya siap bertanggung jawab apabila dinyatakan bersalah dalam proses hukum atas kasus Bank Century ini. ”Saya siap bertanggung jawab dunia akhirat atas keputusan ini.”