Perjalanan panjang  Tradisionalisme berakhir pada lahirnya Modernisme. Kekuatan sejarah tidak cukup tangguh untuk mengkounter kekuatan ilmu pengetahuan dan pergulatan pemikiran. Modernisme sebagai ideologi yang lahir belakangan telah membuat perubahan yang sangat signifikan, perubahan ini tidak hanya pada tatanan sosial masyarakat, akat tetapi telah merasuk ke dalam alam bawah sadar. Hal inilah yang memicu lahirnya post modernisme.

Semangat post modernisme mencoba mendekonstruksi kembali konstruksi-konstruksi yang ada namun tanpa memberikan konstruksi yang baru sebagai alternatif, karena bagi kaum postmodernisme segala sesuatu adalah relatif, atau di dunia ini tidak ada yang mutlak. Suatu konstruksi (baik konstruksi pemikiran) akan terus dipertanyakan tentang kebenarannya, dan bisa berubah-ubah setiap saat, karena mustahil menemukan kebenaran yang hakiki.

Dibalik kontroversialnya istilah postmodernisme, konon faham ini lahir dari aktivitas seni. Postmodernisme secara harfiah berarti ‘setelah gerakan modernis’. Sementara “modern” itu sendiri merujuk pada sesuatu “yang berhubungan dengan masa kini”, gerakan modernisme dan reaksi berikut postmodernisme didefinisikan oleh seperangkat perspektif. Digunakan dalam teori kritis untuk merujuk pada suatu titik tolak untuk karya sastra, drama, arsitektur, film, jurnalisme dan desain, serta dalam pemasaran dan bisnis dan dalam penafsiran sejarah, hukum, budaya dan agama di akhir 20 dan awal abad 21.

Postmodernisme adalah sebuah estetika, sastra, politik atau filsafat sosial, yang merupakan dasar dari upaya untuk menggambarkan suatu kondisi, atau suatu keadaan, atau sesuatu yang berkaitan dengan perubahan pada lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi (seperti dalam Giddens, 1990) sebagai postmodernitas. Dengan kata lain, postmodernisme adalah “fenomena budaya dan intelektual”, terutama sejak tahun 1920-an ‘gerakan-gerakan baru dalam seni, sementara postmodernitas berfokus pada sosial dan politik outworkings dan inovasi global, terutama sejak tahun 1960-an di Barat.

Fucault, seorang tokoh pemikir radikal post modernisme mengatakan bahwa budaya itu dikonstruksi oleh subjeknya (manusia) yang bebas, tidak lagi oleh agama dan masyarakat. Intinya ialah kebebasan. Inilah semangat yang tampak akhir-akhir ini setelah modernisme. Dua aliran utamanya ialah dekonstruksionisme dan relativisme. Karena semua berlandaskan pada dekontruksionisme dan relatifisme, maka berbicara tentang postmodernisme tidak akan pernah selesai, tentunya sudah tidak menarik lagi untuk dibahas.

Selain itu, kehadiran postmodernisme di kalangan peneliti budaya masih kontroversial. Di satu pihak menghendaki agar ada perubahan pemahaman, dari modern ke yang lain, yang konon telah jenuh dan menemui jalan buntu. Di lain pihak, masih ada keraguan menerima istilah tersebut, karena postmodernisme dianggap sekedar kontra produktif, hura-hura, dan cibiran terhadap paham modern. Paham kedua inilah kiranya yang menciptakan postmodernisme masih goyah, bahkan ada yang belum mengakui secara akademik. Kita tunggu saja.

Feminisme

Hal yang paling menarik dari ideologi yang pernah lahir adalah feminisme. Sebagai anak kandung dari modernisme, faham ini mengatasnamakan pembela hak separuh dari populasi manusia, yaitu perempuan. Feminisme lahir dari keberpihakan sejarah terhadap salah satu dari dua jenis manusia yaitu laki-laki. Dalam sejarahnya, perempuan telah menjadi manusia kedua (the second sex), peran-peran kemanusiaan semuanya didominasi oleh kaum laki-laki sementara perempuan hanya menjadi alat pemenuhan kebutuhan laki-laki. Secara konseptual, feminisme datang dari barat hal ini terkait dengan kultur barat yang lebih terbuka disbanding adat ketimuran, akan tetapi, di Indonesia sendiri feminisme telah dirajut oleh R.A Kartini pada 18 melalui hak yang sama atas pendidikan bagi anak-anak perempuan. Ini sejalan dengan Barat di masa pencerahan/The Enlightenment , di Barat oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis den Condorcet yang berjuang untuk pendidikan perempuan. Sebagai sebuah faham yang berpihak kepada kaum permpuan, seperti halnya faham-faham sebelumnya, tak sedikit istilah feminisme menjadi kontroversi, sering menimbulkan prasangka, stigma buruk. Hal ini pada dasarnya lebih disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai arti feminisme yang sesungguhnya. Selain itu perilaku oknum yang mengikrarkan diri sebagai feminis cenderung salah kaprah. Alih-alih membela hak perempuan, mereka justru mengeksploitasi perempuan.

Sebenarnya, setiap orang yang menyadari adanya ketidakadilan atau diskriminasi yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya, dan mau melakukan sesuatu untuk mengakhiri ketidak adilan/diskriminasi tersebut, pada dasarnya dapat disebut feminis. Batasan ini memang beragam dan terkadang diperdebatkan, mulai dari apakah seseorang itu harus perempuan, bisakah secara organisatoris serta merta disebut feminis, sampai di mana tingkat kesadaran dan pengetahuannya mengenai bentuk dan akar masalah ketidak adilan/diskriminasi, serta bagaimana orientasi ke depan dari orang tersebut. pemahaman yang kurang terhadap hak-hak perempaun menimbulkan disorientasi feminisme yang berkibat pada diorientasi para feminis.

Posko Feminis

Berpijak pada hal tersebut, lahirlah sebuah ideologi baru yang prihatin terhadap feminis-feminis yang kehilangan arah, khususnya di Indonesia. Dapat dikatakan Indonesia masih mengalami euforia feminisme. Dan seperti euforia lainnya, terkesan masih norak dengan situasi yang baru, Feminis di Indonesia masih cenderung reaktif seperti feminis di barat di era 60-an dan 70-an. Faham ini (Posko Feminis) lahir dari diskusi dan kajian Universitas Alternatif. Posko Feminis sendiri adalah faham yang mengedepankan hubungan heteroseksual dan jalinan relationship yang sehat antara laki-laki dan perempuan serta ingin mengembalikan manusia pada hak-haknya. Seperti halnya feminisme, Posko Feminis lebih cenderung pada pembelaan terhadap kaum perempuan. Selain sebagai sebuah ideologi, Posko Feminis telah merambah pada tatanan aplikasi dengan membidani lahirnya ideologi Posko Feminis. Setelah feminisme yang sangat menarik itu, Posko Feminis lebih menarik perhatian dan cenderung lebih realistis. Menariknya, posko feminis ini bukan seperti feminisme atau bahkan Postfeminisme. Posko Feminis lebih concern lebih pada menyatukan kaum feminisme yang terpecah belah pada suatu tempat yang netral.

Posko Feminis, menilai bahwa perlu diadakannya tempat berlabuh para feminis yang salah kaprah agar kegundahannya terhadap ketidakadilan sejarah terhadap perempuan lebih objektif. Posko Feminis sendiri lebih memberikan ruang praksis dibanding wilayah wacana, contohnya saja ideologi ini memberikan nomor kontak/telpon untuk bisa dihubungi kapan saja. Selain itu Posko Feminis juga mempunyai ruang publik yang disebut Rumah Pencerahan. Sesumbar pencetus Posko Feminis, Rumah Pencerahan ini adalah berupa bangunan rumah yang akan ada di setiap kota di seluruh dunia.

Namun demikian apapun ideologi-ideologi dunia yang lahir, selama tidak menganggu hak hidup seseorang sebaiknya kita sikapi dengan bijak. Seiring dengan terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan semakin tingginya tingkat persaingan, kita tunggu saja isme-isme (ideologi) apalagi yang akan lahir. (Ayat Muhammad)