Mungkin tak ada seorangpun di dunia ini yang belum pernah mendengar kata teater. Khususnya bagi mereka yang sering keluar masuk bioskop dua satu (twenty one).  “Pintu teater tiga teklah dibuka”. Tapi saat ini saya sedang tidak tertarik untuk membicarakan bioskop yang kita semua tahu telah dimonopoli oleh twenty one itu. Mungkin lain kali akan kita bahas kesempitan- kesempitan yang tercipta dari monopoli itu.

Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron (θέατρον) dari bahasa Yunani, yang berarti “tempat untuk menonton”) adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, musik, tari dan lain-lain.

Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Univesitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai ” yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain.” Teater bisa juga berbentuk: opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim.

Sejarah panjang seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia mulai melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh berada dalam hubungan interaksi dan  tafsiran-tafsiran antara manusia dan alam semesta. Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal
dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam mempertahankan kehidupan mereka.

Tak lepas dari sejarahnya teater berkembang menjadi sesuatu yang dihadirkan untuk ‘hiburan’ .  pada masa awal kejayaan eropa sekitar abad ke 17, teater merupakan konsumpsi masyarakat borjuis, dimana tidak semua lapisan masyarakat mempunyai kesempatan untuk mengapresiasi pertuujukkan tersebut. Hal ini tentu bertentangan dengan awal lahirnya teater yang merupakan kegiatan ritual masyarakat primitive yaitu seluruh lapisan msyarakat yang mempunyai apreseasi yang nyata terhadap lingkungan sekitarnya. Tapi, lupakan dulu kebiasaan masyarakat primitive tentang upacaranya itu. Teater tradisi hidup dan dihidupi orang-orang yang lebih homogen dan memiliki semangat lokalitas yang tinggi. Mereka mempunyai hubungan yang intens, baik dalam proses kreatif maupun dalam hubungan sosial. Ada semangat kekerabatan yang berusaha selalu mereka tumbuhkan. Kesenian adalah sesuatu yang coba mereka pertahankan sebagai simbol komunal wilayah hidup.

Terlepas dari sejarah dan asal kata yang melatarbelakanginya, seni teater merupakan suatu karya seni yang rumit dan kompleks,  sehingga sering disebut dengan collective art atau synthetic art artinya teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin seni yang melibatkan berbagai macam keahlian dan keterampilan. Seni teater menggabungkan unsur-unsur audio, visual, dan kinestetik (gerak) yangmeliputi bunyi, suara, musik, gerak serta seni rupa. Seni  teater merupakan suatu kesatuan seni yang diciptakan oleh penulis lakon, sutradara, pemain (pemeran), penata artistik, pekerja teknik, dan diproduksi oleh sekelompok orang produksi. Sebagai seni kolektif, seni teater dilakukan bersama-sama yang mengharuskan semuanya sejalan dan seirama serta perlu harmonisasi dari keseluruhan tim.  Pertunjukan ini merupakan proses seseorang atau sekelompok manusia dalam rangka mencapai tujuan artistik secara bersama.
Dalam proses produksi artistik ini, ada sekelompok orang yang mengkoordinasikan kegiatan (tim produksi). Kelompok ini yang menggerakkan dan menyediakan fasilitas, teknik penggarapan, latihanlatihan, dan alat-alat guna pencapaian ekspresi bersama. Hasil dari proses ini dapat dinikmati oleh penyelenggara dan penonton. Bagi penyelenggara, hasil dari proses tersebut merupakan suatu kepuasan tersendiri, sebagai ekspresi estetis, pengembangan profesi dan penyaluran kreativitas, sedangkan bagi penonton, diharapkan dapat diperoleh pengalaman batin atau perasaan atau juga bisa sebagai media pembelajaran.

Celakanya, tujuan dari pertunjukkan teater sering berakhir pada kepuasan pribadi penyelenggara tanpa memperdulikan efek positif terhadap penontonnya. Prosesi latihan yang seharusnya silakukan secara konsisten dan kontinyu seringkali diabaikan. Pekerja teater lebih mementingkan hasil daripada prosesnya. Obsesi untuk kepuasannya sendiri dengan melupakan kepuasan penonton menjadikan teater terasa kering dan mati. Pertunjukkan-pertunjukkan incidental lebih banyak terjadi daripada pertunjukan terencana baik secara visi maupun misinya. Celakanya lagi bukan saja 21 yang melakukan monopoli, sebagai sebuah kegiatan kolektif, teater juga cenderung merupakan proyek monopoli dari oknum tertentu yang mengaku sebagai penggiat teater.  Mungkin ada benarnya pendapat tentang teater modern Indonesia masih memakai paradigma paternalistik. Munculnya kelompok-kelompok teater, berbiak dari teater-teater sebelumnya. Seperti layaknya sebuah keluarga, seorang anak yang sudah merasa dewasa dan ingin mandiri, tentu ada keinginan untuk memisahkan diri dari keluarga besarnya dan membentuk keluarganya sendiri. Maka keluarga-keluarga baru bermunculan. Itulah teater modern Indonesia. Budaya paternal yang dia cerap selama masa kanak-kanaknya itu tanpa sadar ikut terbawa ketika ia ingin berdiri sendiri. Terjadi pelembagaan terhadap budaya paternalistik.

Seorang aktor dalam kelompok terdahulunya akhirnya akan berkeinginan juga menjadi sutradara ketika dia keluar dan menciptakan kelompoknya sendiri. Keaktoran saja tidak cukup bagi seorang aktor. Sutradara adalah puncak pilihan.

Sepertinya, inilah struktur berpikir yang kadung tertanam di benak—secara umum—para pekerja teater Indonesia. Dan kalau itu dianggap kesalahan, saya kira, itulah sebabnya yang berkembang kemudian adalah teater sutradara. Kita tidak pernah benar-benar lepas dari masa silam, atau bahkan tanpa masa silam seperti kata Arifin C. Noer almarhum. Kita masih terbelenggu dengan budaya paradigma lama yang paternal.

Mereka lebih peduli terhadap eksistensi dirinya sendiri dari pada kelompok yang mereka usung, tentu saja hal ini akan sangat jauh dari harapan kita tentang teater sebagai sebuah pertunjukkan yang harus kita bela dan sebarluaskan. Sebagai sebuah laboratorium kehidupan, dunia pertunjukkan teater, pekerja teater harus melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan dunia nyata (dalam hal ini teater sebagai dunia lain yang lebih kecil dan juga nyata). Seperti halnya mimpi, tetaer sebagai sesuatu yang riil yang diciptakan melalui imajinasi tak boleh berbaur dengan dunia nyata yang penuh dengan kepentingan-kepentingan yang sifatnya lebih material. Misalnya, teater bukanlah sarana untuk meraup keuntungan baik financial ataupun popularitan. Teater lebih kepada penyadaran dan pembelajaran untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Namun satu hal yang pasti dunia imajinasi mempunyai dunianya sendiri, dia memiliki kehidupan dan jiwanya sendiri. Selamat berkarya. (Ayat Muhammad)