Tak pernah ada kasus-kasus besar yang bermuatan politis bisa selamat sampai tujuan, baik yang berimplikasi pada ketetapan hukum atau politik itu sendiri. Kalaupun ada para pesakitan kakap, hanya sekedar numpang tinggal “sebentar” didalam jeruji besi dengan sejuta fasilitas dan kenyaman yang tersedia.

Itu disebabkan masa tahanan dikurangi dengan berbagai macam ketetapan hukum seperti remisi dan grasi. Walaupun negeri ini saluran informasi tak semacet saat orde baru alias kebebasan pers tak lagi terkekang, namun satu komponen yang menjadi mengurangi “kenikmatan” kebebasan pers tersebut, yaitu masih rendahnya tingkat pengawalan masyarakat (baca : rakyat) terhadap kasus-kasus besar yang menyangkut hukum dan politik.

Salah satunya adalah kasus Century!, apa kabarnya sekarang?, sudah sampai dimana tindak lanjutnya?, tak banyak yang tahu sudah sejauh mana progress yang terjadi!. Sama seperti kabar-kabar kebobrokan negeri ini sejak era reformasi terjadi, semua muncul dan tenggelam begitu saja. Tak banyak perubahan yang signifikan yang mampu merubah wajah hukum dan politik kita.

Tak benar hukum menjadi panglima dinegeri ini, karena para penegak hukumnya saja bermasalah (walaupun tidak semua) bahkan dijantung pertahanan institusi hukum itu sendiri, baik kepolisian, kejaksaan dan mahkamah agung!. Ditambah dengan sikap skeptis dari  masyarakat atas semua harapan-harapannya selama ini yang menginginkan persamaan dan keadilan dimata hukum.

Hal yang sama dengan “pergolakan” politik yang terjadi beberapa waktu lalu, kini hanya menyisakan cerita-cerita disudut-sudut ruang yang kehilangan dan tak memiliki kekuatan untuk berbuat lebih. Apakah ini semacam “amnesia” politik, biarkan terjadi dan menjadi bola liar dan mencapai puncaknya, lalu lupakan dan tinggalkan begitu saja dan diganti dengan kasus-kasus yang baru.

Aneh tapi nyata tapi itulah kenyataan yang terjadi, tak terbantahkan bahwa amnesia memang benar-benar terjadi didunia politik (dan hukum tentunya), tak terkecuali apakah itu para politisi dan rakyat kebanyakan. Berapa sering kita jumpai para wakil rakyat yang melupakan janji-janjinya saat masa kampanye?, juga berapa sering rakyat harus masuk lagi perangkap melalui janji-janji manis saat kampanye dan lembaran uang yang tidak seberapa jumlahnya?.

Harus ada yang memotong lingkaran setan ini, dan menggantinya dengan lingkaran dan pusaran politik yang membawa negeri ini kearah cita-cita yang diimpikan selama ini. Siapa lagi kalau bukan kita yang melek politik dan punya akses untuk mempengaruhi lingkungan kita, handai taulan, teman-teman kita, melalui tulisan atau terjun langsung kedalam politik praktis. Jangan biarkan kemalasan menghalangi dan jadi selimut yang menutupi harapan kita akan perubahan dinegeri ini.[]

Julian Ariyansyah