en.peperonity.com

Pernah ketika kampus Universitas Negeri Jakarta kedatangan tamu dari Mesir. Seorang Mufti Mesir Syekh Amru Wardani, kalau di Indonesia MUI-nya Mesir.  Syekh Amru Wardani memanfaatkan kunjuannya di Muktamar NU untuk berkunjung dan memberikan ceramah. Ceramah yang disampaikan kurang lebih bertemakan epistemologi islam. Tema yang cukup menarik membahas tentang pemikiran filsafat. Menurutnya epistemology islam terdiri dari tiga pertanyaan dasar; 1) darimana kita berasal, 2) apa yang harus kita lakukan, 3). Mau kemana kita selanjutnya. Ketiga pertanyaan ini jika kita jawab maka muaranya ada pada penguatan atas nilai ketauhidan.

Menjawab pertanyaan pertama beliau mengatakan bahwa semua mahluk yang ada di bumi adalah ciptaan Tuhan. Akan tetapi al-Quran (al-Baqarah 30 dan 107), menjelaskan bahwa manusia adalah pengecualian dari mahluk lainnya. Manusia diberikan kekuasaan untuk dapat mengeksploitasi alam atau dalam bahasa beliau, manusia adalah penguasa di alam, sedangkan Tuhan adalah penguasa alam semesta.

Menjawab pertanyaan kedua, menurutnya menjadi muslim maka harus menerima tiga tugas yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, yaitu beribadah (ubudiyah), memakmurkan alam (imarah), dan penyucian (tazkia). Ketiga tugas ini menjadi landasan bagi tujuan-tujuan syariah (maqasidu syariah), beribadah berarti bahwa setiap muslim diwajibkan untuk beribadah, untuk bisa beribadah dengan baik maka dalam islam ada yang namanya doktrin, yaitu, tauhid kepada Allah, pada kitab, pada nabi, pada kiblat, dan pada ummah (manusia). Jika kita tinjau berdasarkan akal sehat, kesemua unsur-unsur ini terkesan memberatkan dan tidak masuk akal. Bagi masyarakat barat, pengkultusan pada suatu materi adalah paganisme, sementara islam melihat semua unsur tersebut adalah suatu wujud keseimbangan bagi manusia  itu sendiri. Aktifitas-aktifitas tersebut adalah fitrah manusia. Satu sisi manusia memerlukan hal-hal yang sifatnya duniawi, namun sisi lain perlu yang bernuansa mitis. Kemudian memakmurkan alam (imarah) adalah suatu wujud yang dibebankan pada muslim untuk selalu konsisten pada pemakmuran alam semesta. Jika dilingkungna social ktia terjadi maraknya korupsi, maka itu adalah tugas seorang muslim untuk memperbaikinya, jika alam dieksploitasi melebihi batas maka tugas seorang muslim untuk mencegahnya dan seterusnya. Kemudian tugas ketiga adalah penyucian. Diwajibkan untuk setiap muslim untuk melakukan penyucian diri. Bentuknya yang terutama bias dengan melakukan salat yang khusuk. Bentuk selanjutnya dapat dengan aktifitas-aktifitas ibadah yang lain yang dianjurkan dalam islam. Jadi ketiga tugas ini merupakan jawaban atas apa yang kita lakukan sekarang.

Kemudian, pertanyaan ketiga, mau kemana kita? Adalah pertanyaan terakhir yang jawabannya adalah hari akhir. Hari akhir adalah cita-cita terakhir seorang muslim. Dengan adanya kepercayaan pada hari akhir kita mendapat keseimbangan dalam hidup. Seorang muslim tidak dapat melakukan hal-hal atau aktifitas-aktifitas yang di luar kebiasaan atau ekstrem. Karena hal ini akan merusak cita-cita akhirnya yakni, hari akhir. Hari akhir di dalam al-Quran selalu diikuti dengan kata hidup (al-Baqarah 86 dan al-An’am 32), (hayatu dunya wa hayatu akhirah/dikehidupan dunia dan dikehidupan akhirat). Jadi hari akhir tidak semata-mata berbicara tentang kematian. Wallahu a’lam bi shawab.(Fauzan Fuadi)