HMINEWS.COM

 Breaking News

Lelaki Yang Menunggui Pintu

March 10
12:34 2010

Cerpen : Dian Hartati

Setiap kali melewati jalan itu, selalu aku lihat lelaki tua dengan rambut yang memutih seluruhnya. Rumahnya persis di kanan jalan dengan kondisi yang memprihatinkan. Dinding yang berdiri itu hanya berupa bilik-bilik bambu yang tidak lagi kokoh berdiri. Miring. Di sebelahnya terdapat kandang kambing. Setiap orang selalu disuguhi pemandangan yang sama setiap pagi. Sekitar pukul tujuh dia duduk tepat di pintu rumah -menghalangi pintu- dengan kedua kakinya yang menjulur ke luar dari pintu rumah. Kaki yang berbalut kulit itu hanya mengenakan pakainan berwarna hijau loreng. Ditunggunya sinar matahari dengan sabar sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depannya.

Aku selalu memperhatikan lelaki tua itu setiap pagi. Raut wajahnya yang serius seperti menepis semua pertanyaan yang hinggap tiap kali melihatya. Seperti hari ini, begitu saja terlintas dalam pikiranku mengapa dia selalu tepat waktu mengawasi pagi dengan senyumnya. Tak pernahkah dia bosan dengan hal yang itu-itu saja. Tapi begitulah, ketika aku lihat wajahnya, pertanyaanku mendadak hilang.

Tak aku pedulikan lagi lelaki tua itu, apalagi anakku yang mulai merengek minta dibelikan kesukaannya, serabi hangat. Ya, setiap pagi aku harus mengantarkan anakku pergi sekolah. Anakku ini selalu saja minta dibelikan serabi yang dijual tidak jauh dari rumah lelaki tua yang selalu memperhatikan aku dan anakku, aku tahu itu. Tapi itu tidak aneh untukku karena setiap orang selalu saja diperhatikan oleh orang tua itu.

***

Pagi ini cuaca begitu mendung, matahari kelam menunjukkan kehadiran. Aku bergegas membeli serabi hangat karena anakku menunggu di rumah, Lika sudah tiga hari sakit. Tidak seperti biasanya banyak yang antre membeli serabi dan tentu saja aku harus menunggu. Kira-kira setengah jam aku menunggu, dan ketika hendak pulang gerimis turun. Aku yang sedang diburu waktu tidak mempedulikan cuaca, anakku menunggu di rumah. Aku terobos gerimis yang semakin deras, dari jauh aku lihat lelaki tua itu memandang ke arahku yang sedang tergesa. Gerimis berganti hujan dan aku segera berlari mencari tempat berteduh. Melihatku yang kebingungan lelaki tua memanggilku.

“Di sini saja Nak, hujannya semakin besar!” teriak lelaki tua itu tanpa bangkit dari duduknya.

“Terima kasih, Pak,” aku menuju teras rumah yang tak seberapa luas dan langsung duduk disebelah bapak tua itu.

“Maaf Pak menggangu, saya tak mengira hujan turun sepagi ini.”

“Ya, bapak juga tak menyangka hujan turun. Lihat singkong-singkong yang baru bapak jemur, basah semua,” tangan yang tua keriput itu menunjuk tumpukan karung beras yang dijadikan alas untuk menjemur.

“Anaknya tidak ikut, sedang libur sekolah ya?” aku tak salah kira, ternyata bapak tua ini memperhatikan aku dan anakku.

“Tidak libur sekolah, anak saya sakit.”

“Pantas bapak tidak melihatnya beberapa hari ini.”

“Ya, sudah tiga hari Lika demam.”

“Namanya Lika? Mengingatkan bapak pada luka…, sudahlah jangan hiraukan,” bapak tua itu tertunduk sebentar.

“Mungkin nama Lika aneh bagi Bapak, tapi ada kenangan di balik nama itu,” aku tertunduk juga, tak mau roman mukaku yang berubah terlihat bapak tua itu.

“Ya, sepertinya ada luka di balik nama itu?”

“Bukan luka sebenarnya hanya kenangan pahit ibunya.”

“Iya, bapak juga tidak pernah melihat ibunya, ke mana Ibu Lika?”

“Ibunya hanya tinggal kenangan, dia pergi ketika melahirkan Lika….”

“Maaf, bapak tak bermaksud…”

“Tak apa,” aku memotong pembicaraan bapak tua itu.

Hujan telah berhenti sejak tadi, hanya tersisa derai gerimis yang kecil.

“Permisi Pak, saya pulang dulu dan ini untuk bapak kebetulan saya membeli agak banyak hari ini,” aku memberikan beberapa kue serabi dan meletakkan dengan bungkusan koran yang tertutup rapi.

“Terima kasih, Nak.”

“Permisi, Pak.”

“Ya, hati-hati salam buat Lika….”

Aku bergegas meninggalkan rumah yang selama ini aku perhatikan dengan pemiliknya yang aneh. Tak kusangka ternyata pemiliknya ramah dan sepertinya memiliki kenangan yang sama denganku di masa lampau. Ya, kenangan yang menyakitkan hingga aku harus memberi nama Lika pada anakku satu-satunya.

***

Aku ceritakan pada Lika tentang seorang bapak tua yang selalu menunggui pintu setiap pagi. Bapak yang tinggal sendirian tanpa ada yang menemani dan selalu duduk dengan kaki yang berbalut keriput dan menjulur ke luar pintu.

“Ayah mengapa kakek itu selalu begitu?” aku tak tahu harus menjawab apa.

“Mungkin kakek itu sedang menunggu cucunya.”

“Tapi kata Ayah, kakek itu tinggal sendirian?”

“Oh iya-ya, ayah lupa…”

“Jadi untuk apa, Yah?” aku mencari jawaban yang tepat.

“Ayah ingat, kakek itu selalu menunggui matahari.”

“Matahari? Ada apa dengan matahari?”

“Kakek itu menunggu sinar matahari. Lika sudah diajarkan belum di sekolah?”

“Belum…,” Lika menggeleng perlahan sambil mengingat-ingat pelajarannya.

“Cahaya matahari pagi hari baik sekali untuk kesehatan kulit, jadi kakek itu menunggu sinar matahari untuk mengobati keriputnya,” aku terpaksa sedikit berbohong.

“O… begitu ya?” aku lihat masih ada pertanyaan yang menggantung dalam pikiran anakku.

“Sekarang, Lika minum obatnya ya…, terus bobo biar cepet sembuh….”

***

Tidak seperti biasanya pintu rumah yang selalu terbuka itu tertutup. Aku tak berani mengetuk, apalagi mengintip ke dalamnya. Aku lewati rumah yang semakin miring itu dan sebentar memperhatikan.

“Masuk, Nak!” aku mencari suara bapak tua itu,

“Di sini, masuklah lewat samping!” aku memasuki teras yang tidak luas itu dan menemukan bapak tua yang sedang sibuk menjemur bilah-bilah bambu.

“Ini untuk apa?” tanyaku ketika melihat bapak tua yang sedang sibuk menyusun rapi beberapa bilah bambu yang sudah dihaluskan.

“Membuat kipas. Lumayan hasilnya dijual ke pasar. Mana Lika, tidak dibawa?”

“Ah, Bapak ini, oh ya tumben pintunya tertutup?”

“Hari ini, bapak tidak sedang menunggu siapa-siapa….”

“Memangnya Bapak suka menunggu siapa?” pertanyaan yang sudah lama ingin aku tanyakan akhirnya terlontar juga.

“Siapa lagi kalau bukan menunggu matahari.”

“Matahari? Tapi sedari pagi matahari begitu cerah.”

“Bukan matahari itu…” bapak itu langsung saja memotong kalimatku.

“Matahari yang selalu ada di sini,” tangannya menempel lekat di dada.

“Siapa?” aku semakin penasaran.

“Luka…”

“Luka?” aku semakin tak mengerti.

“Semalam dia datang menghampiri tempat tidurku dan membelai aku lama sekali. Aku pura-pura tertidur tapi dia tahu aku tidak tidur ‘bangunlah dan duduk dengan tenang’ aku mengikuti apa yang dikehendakinya. Aku melihat wajahnya yang tetap muda tanpa keriput dan cela. Aku melihat binar cerah yang menggambarkan hatinya yang putih bersih. ‘Tutup matamu’. Lagi-lagi aku memenuhi apa yang dikatakannya dan tetap terdiam tanpa berbuat apa-apa. Setelah menutup mata apa yang kurasakan adalah rasa itu… rasa yang pernah aku reguk puluhan tahun silam. Tiba-tiba saja  kancing-kancing bajuku terbuka dengan gaib, terbuka satu persatu tanpa perlawanan aku merasakan belaian hangat yang selama ini tak pernah aku rasakan. Wajah tanpa cela itu membius tubuhku, mengeraskan otot-otot tubuhku. Sampai tepat tengah malam, aku berpagutan dengan hawa tak berhawa dengan rasa tak berasa, dan akhirnya dia pergi setelah aku terkapar kelelahan, tak berdaya. Dia matahariku yang pergi untuk selama-lamanya, setelah aku menunggu begitu lama. Kepastian yang akhirnya datang pada malam-malam yang aku tunggu sekian lama.”

“Luka? Lalu apa hubungannya dengan luka?”

“Sudahlah jangan dipikirkan, aku hanya menceritakan bahwa ada sisi lain dari diriku. Selain diam, dan selalu duduk menghalangi pintu setiap pagi, mungkin besok tak akan kau temui aku dengan keadaan yang selalu memperhatikan orang-orang seperti kamu dan anakmu. Kembalilah ke sekolah, Lika sudah menunggumu dari tadi.”

“Kalau begitu saya permisi dulu Pak, terima kasih.”

***

Aku tak menyangkal bahwa cerita bapak tua itu begitu membekas dalam ingatanku, apalagi pada malam-malam pertama setelah gerhana bulan terjadi saat bapak tua itu bercumbu entah dengan siapa. Gerhana bulan yang tidak diberitakan sebelumnya muncul di daerah rumahku. Aku tahu malam itu terjadi gerhana bulan dari masjid yang mengumumkan dan mengumandangkan takbir-takbir kebesaran Tuhan. Gerhana bulan yang telah membangunkan aku. Ya, karena Lika menangis ketakutan dan tiba-tiba saja demamnya turun.

Gerhana bulan yang lama tak pernah datang tiba-tiba mengganggu tidur bapak tua itu dan menurunkan demam anakku.  Gerhana bulan yang sering dimitoskan datangnya batara kala, yang kemunculannya ditakuti hingga orang-orang desa sering melakukan ruwat demi membersihkan diri dari dosa-dosa yang menempel pada titik-titik kulit.

“Ayah ada apa sih, kok, di rumah itu banyak orang?” Lika menunjuk rumah miring ketika aku mengantarnya ke sekolah.

“Ayah tidak tahu, cepat jalannya nanti kamu terlambat lagi.”

Aku menarik Lika mempercepat langkah, kami lewati rumah bapak tua yang ramai dan tidak seperti biasanya. Sebenarnya aku ingin menepi dulu tapi aku tidak mau Lika terlambat sekolahnya gara-gara aku.

Setelah mengantar Lika ke sekolah, aku berbalik dan menuju rumah bapak tua yang kemarin sempat bercerita tentang hal yang tak kumengerti. Ada rasa penasaran yang begitu kuat hingga aku harus kembali ke sana.

Dari jarak sepuluh meter aku lihat keranda yang sedang dipersiapkan, aku mempercepat langkahku.

“Siapa yang meninggal, Pak?” aku bertanya pada seseorang yang sedang menghaluskan papan nisan.

“Pak Resi, Bapak kenal?”

“Bapak yang rambutnya putih semua?” aku balik bertanya, karena selama ini aku tidak pernah tahu siapa nama bapak tua yang berada di rumah ini.

“Betul, Bapak kenal?”

“Tidak, aku hanya sering saja melihat bapak tua itu selalu duduk menghalangi pintu di setiap paginya,” aku berbohong.

“Pak Resi memang selalu duduk di pintu, dia sebenarnya menunggu seseorang, tapi bapak tidak tahu siapa yang ditunggu oleh Pak Resi.”

Aku tidak langsung pergi dari tempat itu. Aku duduk sebentar mengusir cerita yang muncul di benakku. Beberapa pemuda datang melayat. Tak lama mereka keluar dan duduk di sampingku. Aku hanya tersenyum melihat mereka memandangku.

“Ya, begitulah akhirnya orang yang suka bermain ilmu.”

“Begitu bagaimana?”

“Kamu tidak melihat memar di sekitar matanya?”

“Tidak, memangnya kenapa?”

“Memar yang ada disekitar mata kirinya itu akibat dia selalu sering bermain dengan ilmu…, ilmu hitam. Kamu tahukan kebiasaannya melihat matahari pagi di pintu. Itu salah satu syarat agar ilmu-ilmu yang dia pelajari kuat seperti matahari pagi.”

“Kamu jangan asal bicara ya, nanti arwahnya mengganggumu?”

“Ya, mudah-mudahan saja Pak Resi pergi dengan tenang.”

***

Setelah kematian Pak Resi, aku mencari jalan lain untuk mengantar Lika. Aku tidak mau lagi bertemu dengan wajahnya yang selalu menunggu sesuatu di teras rumahnya. Beberapa orang yang aku kenal bercerita Resi adalah seorang pandai besi yang harus pergi dari kampungnya demi mengejar cintanya. Tapi setelah mendapatkan cinta, mata hatinya pergi dan sampai saat ini belum kembali. Begitu cerita yang aku dengar. Tapi entahlah aku selalu saja teringat akan ceritanya tentang malam gerhana bulan.

“Besok, semua mamanya teman-teman Lika mau datang ke sekolah…. Lika harus membawa mama, Yah….”

“Tenang saja, besok ayah saja yang datang. Kamu tidur saja sekarang mungkin bertemu mama nanti.”

“Tidak mau! Lika tidak mau bertemu mama. Mama jahat, pergi tapi enggak bawa Lika.…”

Lika tahu mamanya pergi dengan seseorang. Seseorang yang pernah dekat dengan Lika. Seseorang yang berani menyakiti Lika bahkan aku sahabat sejatinya. Kini aku harus selalu berdiam diri di balik pintu demi kedatangan seorang yang telah membuat luka. Luka yang dalam di hatiku. Luka yang membuat Lika selalu menangis saat demam menyergap tubuh kecilnya. Demam karena Lika rindu dan Lika terluka oleh seorang ibu yang pergi dari kehidupan yang dulu indah, bahkan mungkin terindah bagi kami berdua.

Biodata:

Dian Hartati, lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Menyukai jalan-jalan dan menenggelamkan diri pada perjalanan kata-kata. Setelah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tetap berproses menulis.

Karyanya dimuat di berbagai media, di antaranya: Radar Bandung, Literat, Suara Indonesia, Priangan, BÉN! (media luar biasa), majalah ESQ Nebula, Pikiran Rakyat, Suara Karya Minggu, majalah sastra dan budaya Aksara, Bandung Post, Ganesha, Dinamika&Kriminal, Qalam Rata, Pakuan Raya, Solo Pos, Minggu Pagi, majalah sastra Horison, Bali Post, Lampung Post, Bangka Pos, Bhinneka Karya Winaya, Radar Banten, Padang Ekspres, Radar Sulbar, Jambi Ekspres, Surabaya Post, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Suara Merdeka, Singgalang, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Harian Surya, jurnal zine Raja Kadal, tabloid Cempaka, buletin Daun, majalah GONG, Jawa Pos, Jurnal Nasional, buletin sastra Pawon, www.tandabaca.com (sekarang www.titikoma.com), buletin Histeria, majalah budaya SAGANG, Jurnal DerAS, Riau Mandiri, www.mediabersama.com, Harian Aceh, Pos Kupang, Tribun Jabar, Jurnal Kreativa, www.sastra-indonesia.com, Majalah Kidung, www.kompas.com, Pontianak Post, Koran Merapi, Borneo News, Harian Analisa, Radar Tegal, Harian Global, Buletin Littera, majalah d’sari, Sinar Harapan, Jurnal Bogor, Harian Sumut Post, dan lainnya.

Cerpennya terhimpun dalam antologi Mimpi Jelang Pemilu (Taman Budaya Jawa Tengah, 2009), Loktong (CWI-Menpora, 2006), dan La Runduma (CWI-Menpora, 2005).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.