HMINEWS.COM

 Breaking News

Kelahiran

March 09
23:47 2010

Oleh : Cikie

Lazuardi melewati pintu dan berdiri tepat di sisi kananku dengan senyum yang mengembang dari  bibirnya yang mungil. Aku hanya membalas senyumnya sekilas lalu meredam lelahku dengan helaan nafas panjang.
Lazuardi kemudian duduk di sebuah kursi dan tangannya meraih tanganku
“Maafkan aku, Mis. Bagaimana persalinan tadi?” Lazuardi mengelus dan mencium punggung tanganku.
“Apa anak kita baik-baik saja?” Tanyanya lagi dengan datar.
“Dia di Inkubator,” jawabku ringan.
“Lalu?”
“Ya tunggu saja apa kata Dokter. Apa kau mau anak kita celaka? Seperti dua anakku yang lalu?”
Dalam keheningan ruangan itu, Lazuardi menatapku heran. Rasanya ia menjadi orang lain. Ia tak mengerti apapun. Ingin rasanya aku menjerit sekuat tenaga dan menanggalkan tugasku sebagai penyemai benih darinya, lalu ku berikan tanggung jawab itu kepada lelaki bernama Lazuardi.
“Apa kau sudah makan?” lagi-lagi ia menyapa tanpa dosa.
“Tolong kau tanyakan pada Dokter itu, bagaimana kondisi anakku.”
“Kau marah, Mis? Mengertilah. Aku kerja demi kau dan anak kita.”
“Kerja? Berminggu minggu di luar kota? Dan ini anak ketiga setelah dua sebelumnya kau menelantarkan mereka.”
“Miska!! Itu bukan salahku, aku hanya bekerja!”
“Lalu seenaknya pulang dan mendatangiku seperti lahan yang selalu siap kau pakai kapan saja. Aku tak mengerti apa maumu, Lazuardi. Berhari-hari dan berulang kali kau lakukan itu, kujalani hidup ini tanpa suami! Aku hamil tanpa ada yang peduli.”
“Aku ada menghubungimu,bukan?”
“Aku tak butuh bayangmu.”
“Kau banyak menuntut, Mis.”
“Aku…” aku mengerang kecil, menahan sakit di ujung perutku. Saat itu Dokterpun masuk dan melihatku.
“Ada apa ini?” Ia memperhatikan Lazuardi. “Anda suaminya?”
“Ya, Dok. Istri saya kenapa?”
“Sebaiknya jangan dibawa bicara dulu, dia masih lemah.”
“Tapi saya boleh disini kan, Dok?”
“Tentu. Jaga agar istri anda tidak bergerak banyak.”
“Terima kasih, Dok,” Lazuardi mendekatiku lagi saat Dokter itu keluar
Lazuardi menatapku dengan mata teduhnya, kadang aku merindukan ia yang dahulu, Lazuardi membelai kepalaku berulang kali. Kaukah itu Lazuardi ? Batinku sembari tersenyum paksa.
***
“Mak, Lazuardi belum pulang juga ya, Mak?” tanyaku pada mertua perempuanku yang dari tadi sibuk merenda . Mak menggeleng.
“Lupakanlah ia, kalian tak akan pernah damai. Kau harus sadar diri, ia bukan manusia sembarangan.”
“Sudah enam bulan ini Lazuardi menghilang, apa ia tak kasihan pada anak ini? Mak tak kasihan padaku? ” aku mulai menangis lagi.
“Dia anak langit, setiap kelahiran merubah sikapnya, ia tak berhak diikat apapun,”
“Tapi Mak…dia juga anak Mak kan? Apa Mak tak sedih?”
“Diamlah…Jangan bicara.”
Ya aku hanya bisa diam dan menangis, aku tak berhak tahu dan mempertanyakan apapun, Mak pun tak peduli. Entah dimana pikiran sehat mereka. Aku sungguh tak mengerti. Ku gendong anak lelakiku yang masih mungil. Mau ku apakan anak ini? Dimana ayahnya? Ya Tuhan, inikah takdirku? Kembali aku ke kamar meratapi nasibku yang menggores hatiku lebih dalam.
***
Aku menatap senja dari sungai mati, yang bertahun-tahun lalu telah di lupakan masyarakat. Maka ketika Surya benar-benar menghilang, aku akan pulang dengan tenang dan kakiku yang tenggelam separuh betis telah berubah warna menjadi coklat akibat lumpur sungai.
Di rumah, aku tahu anakku akan menunggu di tepi pintu menunggu ibunya pulang. Tapi ia tak sekedar menunggu karena sebagian dari dirinya juga hilang.
“Bu…ibu bertemu ayah?” sapanya lembut, ia anak lelakiku yang kini berumur lima tahun. Ia menyapaku sambil matanya terus menerawang ke langit. Aku tak menjawab seraya membasuh kedua kakiku dan menghidupkan lampu. Kemudian ku gendong anakku agar masuk dan tidur di kamar.
“Nenekmu mana?”
“Dia sudah tidur, bu. Nenek tadi bertemu ayah,” anakku masih saja meracau
“Ayah?” tanyaku pula
“Ya, ayahku, bu. Nenek bilang ayah datang dan akan menjemput nenek.”
“Jangan bicara begitu, tidurlah. Malam ini kita akan mimpi indah.”
“Bu..bu…” anakku menarik lenganku
“Apa ibu mencintai ayah? Kenapa ayah meninggalkan kita, Bu. Kenapa Ibu selalu menangis??”
“Kau tak mengerti, dan jangan tanyakan itu berulang kali.”
“Bu, ayah bilang ia tak menginginkanku dan ia berada di langit. Hanya nenek yang akan dibawanya. Mereka ke langit, bu.”
“Diamlah !!!”
“Bu..bu… di langit ada darah. Ayah membenci kelahiranku!!” anakku seperti ngigau. “Dan ia membenci ibu!” anakku mulai menangis. Aku memeluknya erat
“Tak ada yang membencimu. Ibu sayang padamu,” anakku menggigil ketakutan
Aku tahu hati ini telah jadi beku, hanya kehampaan yang kujalani dalam waktu-waktu yang kutempuh.
“Ayahmu tak mati, ia yang mematikan kita.”
Anakku melongok ke wajahku, ia mendesis. Lalu menarik tanganku ke suatu tempat. Kamar nenek, ibu mertuaku. Aku menurut saja. Tapi setiba di sana langit-langitnya penuh cahaya merah yang meleleh tajam. Aku terkulai lemah melihat itu semua, anakku berteriak-teriak ketakutan.
Kini bayang-bayang Lazuardi tak hanya ada di semesta ini tapi juga di hatiku dan anakku. Bayangan yang akan terus mengusik dan mencekam mimpi-mimpi kami. Bibir mungilnya jadi duri dari sebagian yang hilang dalam diri.
Ku gendong anak lelakiku keluar, berusaha mencari pertolongan. Tapi anakku tetap saja meracau menatap ke langit yang kian menjadi beku. Oh Lazuardi ku.***

Cikie wahab kelahian Pekanbaru. 28 desember 1986. bergabung dalam sekolah menulis paragraf. Bermukim di pekanbaru.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.