Partai Demokrat bentukan SBY berbeda dengan Partai Demokrat di Amerika. Kesamaan hanya sebatas nama saja. Namun oleh SBY dan kelompoknya, mengklaim kalau mereka itu punya aliansi khusus dengan partainya Obama. Omong kosong!

Kehadiran Obama di Gedung Putih, merupakan bentuk perlawanan rakyat Amerika kepada kubu George W. Bush, yang kental dengan perilaku korup dan ekspansioner. Watak Bush tersebut, dalam konteks politik dan ekonomi sejalan dengan arah kebijakan SBY yang pro Neolib.

Selain itu, agenda politik Obama di panggung nasional Amerika maupun dunia internasional, lebih mengedepankan isu-isu perdamaian, kesetaraan dan keadilan sosial-ekonomi. Pendekatan Obama ini merupakan manefestasi dari aspirasi mayoritas rakyat Amerika, dan suara simpatik yang datang dari negara-negara berkembang.

Dalam sebuah perbincangan khusus saya dengan Siti Fadillah, mantan Menkes, beberapa waktu lalu, ia mengatakan bahwa Obama tidak sepenuhnya mendukung rezim SBY. Menurutnya, Obama sangat tahu kalau SBY dan kubunya, adalah bagian dari jaringan Neolib yang loyal kepada kelompok Bush.

Siti Fadillah memberi contoh: saat Obama terpilih menjadi Presiden, sikap Dubes Amerika di Jakarta, secara drastis berbalik mendukung kebijakannya untuk meninjau keberadaan Namru-2 di Indonesia. Pendekatan diplomatik Dubes Amerika itu, jelas memberikan pesan khusus bahwa, Gedung Putih hendak membuka diri dan menjalin kerjasama yang lebih transparan dengan Indonesia.

Namun signal dari Dubes Amerika yang merupakan representasi political will Obama, justru dihadang oleh SBY. Yakni, SBY membalas dengan menunjuk Endang Rahayu Sedyaningsih, yang pernah berkarir di WHO, Jenewa, Swiss sebagai penganti Siti Fadillah. Dan terbukti, jebolan Harvard School of Public Health ini usai dilantik menjadi Menkes, ia langsung menyampaikan bahwa, kehadiran Namru-2 di Indonesia sangat dibutuhkan. Pernyataan Endang Rahayu tersebut membuat publik marah. (baca)

Makna Kunjungan Obama ke Indonesia

Bicara soal hubungan kedekatan SBY dan kelompok Bush adalah sebuah fakta. Dan kenyataan ini makin diperkuat oleh kehadiran Fox Indonesia, kelompok Boediono, dan Sri Mulyani dilingkaran kekuasaan SBY.

Sebutlah, kalau kubu Boediono dan Sri Mulyani, sejak lama telah diketahui sebagai perpanjangan tangan dari IMF dan Word Bank. Sementara, Fox Indonesia merupakan operasional politik SBY yang diduga mendapat suplai dana besar-besaran dari donator asing.

Kelompok-kelompok ini ditengarai memiliki hubungan spesial dengan pusat-pusat jaringan Neolib internasional. Maka tak heran, sepanjang SBY berkuasa, banyak kebijakan nasional kita yang condong pada kepentingan asing. Hal ini bukan lagi rahasia, namun fakta yang tak terbantahkan.

Lepas dari persoalan di atas, tangal 20 Maret, Barack Obama rencananya akan berkunjung ke Jakarta. Kehadiran orang nomor satu Amerika Serikat ini, memicu pembicaraan dikalangan masyarakat luas.

Ada anggapan yang berkembang bahwa, kunjungan Obama ditengah-tengah memanasnya situasi politik nasional saat ini, memiliki makna politis yang serius. Dan bisa dipastikan, saat Obama tiba, pertama yang ia hendak sampaikan kepada SBY dan rakyat di negeri ini adalah: Amerika tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.

Selebihnya, Obama juga telah mendapatkan banyak informasi tentang dugaan keterlibatan SBY dalam kasus Century. Di mana kasus ini telah bergulir mengancam posisi SBY dari kekuasaan. Dan tentunya, Obama memiliki kepentingan untuk melihat dari dekat situasi Indonesia secara objektif.

Artinya, jika ada gerakan rakyat yang terus berkembang untuk mendesak SBY-Boediono mundur, maka tidak mustahil Amerika akan ikut campur untuk mendorong gerakan itu. Mengingat, Obama sangat berkepentingan untuk melanggengkan pengaruhnya di Indonesia. Yang mana sampai saat ini terhalang oleh kubu SBY yang masih dianggap menjadi bagian dari kelompok Bush (Neolib).

Bila penafsiran atas makna kehadiran Obama adalah demikian, maka wajar saja kalau ada suara-suara yang berkembang di masyarakat: “Waspada, SBY Bohongi Obama…!”
Suara rakyat itu adalah sebuah pesan moral untuk mengingatkan Obama, agar tidak terjebak dengan manuver SBY untuk meminta dukungan dan perlindungan dari Amerika seputar kasus Century.

Ehm…Salut dengan sikap dan kecerdasan rakyat…! (Faisal Assegaf)

Sumber : Kompasiana