Cerpen : Bode Riswandi

Jika yang mati itu pelacur, bukan masalah
yang jelas jangan anak tuan jendral itu…

Musim hujan sudah tiba. Orang-orang suka  malas ke luar rumah. Jika tidak minum kopi, pasti ngerumpi di ruang teve. Atau betah di ranjang membayangkan sesuatu yang selalu menimbulkan kehangatan. Jalan sudah pasti becek atau banjir semata kaki.
Hidup di kampung padat penduduk, di sela-sela gang yang ujungnya buntu, air biasa menggenang agak meninggi. Sibuklah para penghuni kontrakan rumah sepetak di Gg. H. Zarkasih itu, menutup liang-liang kecil pada pintu dan papan triplek rumah mereka, menahan air hujan yang deras turun dari ujung jalan ke rumahnya.
“Ah, bencana musiman. Tak bosan-bosannya kamu!” teriak kesal seorang perempuan yang agak serak di salah satu rumah.
“Terima saja  Kinyang, Ini sudah nasib wong cilik” jawab suaminya sambil membuang genangan air dengan gayung kaleng.
Caci maki seperti ini, biasa terjadi di sini. Wong mereka senasib semua. Jika sodara berkunjung ke sana, di saat musim hujan seperti sekarang ini, sodara akan mendengar gegap gempita makian dari setiap pintu. Berulang-ulang. Selalu berulang-ulang. Meski mereka sadar bahwa makian itu sama halnya mencaci nasibnya sendiri.
Penghuni Gg. H. Zarkasih sudah dapat ditakar berapa penghasilannya. Jika ada yang lebih, tak kurang dari lima ribu rupiah saja selisihnya. Hampir seluruh kepala keluarga di sana berprofesi sebagai kuli pasar dan bangunan. Keluar  jam tiga pagi hingga rehat sore nanti.
Ada satu rumah yang dihuni empat orang perempuan yang menggantungkan hidupnya sebagai lonte. Warga Gg. H. Zarkasih tidak sedikitpun mengusiknya. Mereka sama-sama tahu kesulitan wong cilik. Jika perlu, para kuli itu sering membawakan tamu baginya. Lumayan tambahan sedikit buat dapur kilahnya.
Hujan semakin deras. Genangan menjadi-jadi. Pasrah jadi jalan terakhir mereka sambil mengumpat satu sama lain. Di genting, air turun dari celah-celahnya. Tak ada lagi tempat berteduh. Kalau sudah demikian, satu-satunya musola yang agak permanen selalu jadi tempat pelarian terakhir mereka. Para kuli, istri-istri kuli, dan empat orang lonte sama-sama berteduh ke mushola.
Wajah-wajah kemiskinan menyesaki mushola. Ada yang menggelepar. Ada yang duduk di serambi sambil melihat air yang begitu bebas memasuki rumahnya. Ada juga yang berbincang dengan para lonte. Mungkin tentang tamu baru atau langganannya.
Magrib tiba. Dan hujan belum juga reda. Ujang Lukman, seorang kuli pasar yang diustadzkan berdiri. Lalu adzan. Sebagian bangkit dan berjamaah. Sebagian lagi ada yang tertidur pulas. Empat lonte dandan di serambi mushola. Menyemprotkan parfum pada baju dan lehernya. Satu-satunya wewangian mewah di Gg. H. Zarkasih adalah parfum lonte itu yang menyengat ke udara. Selebihnya, jika bukan aroma got, tentu goreng bawang dan sambal terasi.
“Orang sabar itu kekasih Tuhan! Dan hujan itu ujian kesabaran buat kita” jelas Ujang Lukman.
“Pak Ustadz, jika hujan terus, apa kita harus sabar terus?” tanya Mas Eko pendatang dari Majenang.
“Betul tuh kata Ujang Lukman, Mas. Hidup itu musti sabar!” sahut lonte di serambi mushola “Di luar sana, orang-orang banyak mencibir kami, Jang. Wanita Murahan-lah, biang penyakit-lah, si raja singa-¬lah, itu ujian kesabaran juga bagi kami kan, Jang? Makin banyak tamu buat kami, itu adalah buah dari kesabaran kami selama ini” lanjutnya disambut dengan decak tawa lonte lainnya. Ujang Lukman hanya tersenyum.
“Sabar kok harus di bayar mahal ya?” seperti ngigau, Kinyang menyela. Sehelai baju dengan foto senyum sungging walikota terpilih, terpampang di tubuhnya.
“Jam berapa sekarang Jang?” tanya Renata nama lain dari Dedeh. Lonte senior, usianya delapan tahun lebih tua dari Ujang Lukman.
“Mau berangkat sekarang Ceu?” Ujang Lukman menghampiri sampai pintu mushola “Hujan lebat gini?” lanjutnya.
“Ada yang  jemput kok Jang. Lumayanlah” sambil memantapkan wajahnya dengan bedak.
“Tujuh kurang tiga menit, Ceu.”
Tiba-tiba muncul seorang muda yang kurus memanggil-manggil Renata. Jeans-nya dilipat seatas mata kaki, “Nata!..Nata!”
“Pemuda itukah?” tanya Ujang Lukman.
“Jer, saya di sini!” sahut Renata “Itu yang jemput Eceu, Jang. Jery namanya. Anak buahnya si Bos Kayu ” jelas Renata.
“Pak Ustadz!” sapa Jery sedikit lugu. Ujang Lukman cukup tersenyum. Berkali-kali kalimah istigfar diucapkannya dalam hati.
“Eceu berangkat Jang. Doakan Eceu ya!”pergilah Renata dengan pemuda tanggung itu menembus deras hujan.
“Apa saya tidak salah dengar ya Pak Ustadz, Tadi Teh Nata minta doanya Pak Ustadz? Untuk apa ya?” tanya Yuli, lonte yang usianya dua belas tahun lebih muda dari Ujang Lukman.
“Kalian tak ikut berangkat?” sedikit mengalihkan pembicaraan.
“Nunggu hujan reda saja, Pak Ustadz” jawabnya.
“Ya sudah, saya Isya dulu” Ujang Lukman meninggalkan daun pintu. Adzan mulai terdengar di masing-masing pengeras masjid. Sebagian sholat berjamaah. Sebagian masih pulas. Sementara hujan belum kunjung reda pula.
Sebagian orang dalam mushola berdoa untuk kesehatan dan kenyamanan hidupnya. Di serambi mushola, tiga lonte muda berharap hujan reda seketika. Dan segera datang langganan atau tamu baru yang menjemput mereka…
***
Siang. Sisa-sisa hujan semalaman, genangannya masih terlihat di sana-sini. Seperti biasa Kinyang dan suminya nyaci maki pemerintahnya sambil membersihkan kotoran-kotoran hujan yang numpuk dan melekat di rumahnya.
“Pemerintah sakit! Makhluk gebleg!  Saban hari saya harus nyapu bekas-bekas banjir” foto senyum tengil walikota terpilih itu masih setia nempel di badan Kinyang.
“Sudah tahu sakit. Gebleg. Masih saja kamu pilih Nyang” jawab suaminya sembari membetulkan celah-celah di genting “Sudah saya bilang, centang yang nomor tujuh, kamu tidak nurut. Mentang-mentang fotonya lagi  senyum, kamu centang begitu saja, ya beginilah hasilnya” pungkasnya.
Siang ini di Gg. H. Zarkasih tidak hanya Kinyang dan suaminya yang sibuk. Yang lain juga sibuk bukan main. Dari yang menjemur pakaian dan kursi yang basah, hingga umpatan-umpatan caci maki komplit sudah. Jika siang ini sodara datang kemari, saya jamin sodara takan betah. Percayalah!
Sontak saja hingar bingar caci maki dan kesibukan penghuni Gg. H. Zarkasih hilang geming tiba-tiba. Kedatangan Mis’ad seperti seorang buron dikejar anjing pelacak polisi. Di tepi jalan sampai ujung gang, Mis’ad teriak-teriak dan tergopoh lari. Dadanya megap-megap. berhamburanlah warga Gg. Zarkasih menghampirinya.
“Renata…Re..Renata…si Renata” Dada Mis’ad naik-turun. Keringat di dahi dan hidungnya menjadi-jadi.
“Dedeh!?” serentak warga Gg. H. Zarkasih penasaran.
“Iya Renata, si Dedeh itu..su..su..sudah mati!” ucap Mis’ad. Semua terperanjat. Seolah tak percaya apa yang dikabarkan Mis’ad. Masalahnya, malam tadi ia masih nampak segar berbincang-bincang di serambi mushola. Ujang Lukman, shoknya bukan kepalang. “Maut itu, nasib atau takdir?” Desahnya seolah tak percaya.
“Mayatnya ada di bantaran kali. Ada bekas cekikan di lehernya” tutur Mis’ad.  Tiga lonte muda, memeluk tubuh kawannya masing-masing. Berderai matanya.
“Kang Mis’ad, terus siapa yang ngurus Teh Dedeh di sana?”suaranya berat, lonte muda itu tak kuasa menahan sedih.
“Polisi. Sudah ada empat polisi. Yang lain seakan tak peduli. Melihat, kemudian lewat begitu saja. Mereka tahu yang mati itu..maaf..pelacur katanya” Jawab Mis’ad.
Beringsut Ujang Lukman lari. Yang lain mengikuti. Tiga lonte muda masih memeluk satu sama lain. “Biarkan, yang mati itu pelacur!” kalimat ini menampar batin mereka. Belakangan mereka lari mengikuti yang lain meski langkahnya agak takut dan miris.
Hening bergulung-gulung di Gg. H. Zarkasih. Segala caci maki yang biasa terjadi itu, hilang gemanya seketika. Kini hujan bukan turun lagi dari langit, tapi di batin orang-orang Zarkasih. Bukan genangan-genangan hujan yang jadi masalah, tapi genangan nasib buruk bagi tiga lonte muda itu.
Apa yang dikabarkan Mis’ad benar adanya. Tak ada satupun yang peduli. Hanya ada empat orang polisi yang olah TKP. Itu biasa karena sudah tugas mereka. Tubuhnya terbujur. Baju merah masih nempel di badan. Dan garis hitam bekas cekikan di leher  membuktikan bahwa almarhumah Renata Alias Dedeh benar-benar tewas dibunuh.
“Innalillahi…” ucap Ujang Lukman. Polisi sejurus menatapnya. Orang-orang Zarkasih yang lain, berdoa dalam hatinya masing-masing. Persis tak ada orang lain di bantaran ini. Selain mereka orang-orang Zarkasih itu.
Sejurus Ujang Lukman ingat pada seorang pemuda yang menjemputnya saat hujan deras, lalu ia berpikir mungkinkah bos kayu itu yang membunuh Dedeh. Secepat kilat suara ambulan membuyarkan ingatan itu. Diboponglah tubuh almarhumah Renata oleh orang-orang Zarkasih. “Bapak-bapak, kita harus menyiapkan segalanya untuk almarhumah” ucap Ujang Lukman…
***
Sebulan setelah meninggalnya Renata, kasusnya seperti sengaja dipetieskan. Dan  hukum seolah tidak berbicara untuk seorang pelacur yang mati dibunuh. Beda dengan anak tuan Jendral yang mati sebab duel di diskotek tempo lalu. Dua hari kemudian ditangkaplah seseorang yang dicap pembunuh anaknya. Padahal banyak saksi berkata, anak tuan Jendrallah yang onar awalnya.

“Pelacur memang beda dengan anak Jendral, Pak Ustadz. Yang sabar saja ya!” tutur tukang kios setelah menyelesaikan perbincangannya dengan Ujang Lukman.
***
Tasikmalaya,  November 2009

Bode Riswandi, lahir di Tasikmalaya 6 November 1983. Alumnus FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia (Unsil) bergiat di KOMUNITAS AZAN, Sanggar Sastra Tasik (SST), Teater 28. Menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Beberapa karyanya dimuat di Pikiran Rakyat,  Majalah Syir’ah, S.K. Priangan, Tabloid MQ, Puitika, Lampung Post, Koran Minggu, Majalah Sastra AKSARA, Jurnal Bogor, Tribun Pontianak. Juga terkumpul dalam antologi Biograpi Pengusung Waktu (RMP, 2001), POLIGAMI (SST, 2003), Kontemplasi Tiga Wajah (Pualam, 2003), Dian Sastro For President #2 ( Akademi Kebudayaan Yogyakarta 2003), JURNAL PUISI (Yayasan Puisi, Jakarta 2003), End of Triliogy (Insist Press, Yogyakarta 2005),Temu Penyair Jabar-Bali (2005), Lanskap Kota Tua (WIB, 2008), Tsunami, Bumi Nangroe Aceh (Nuansa, 2008), RUMAH LEBAH Ruang Puisi (Yogyakarta, 2009). PEDAS LADA PASIR KUARSA antologi Temu Sastrawan Indonesia II (2009). MENDAKI KANTUNG MATAMU (Ultimus, 2010).
dan Antologi Pemenang Sayembara Cerpen Nasional “Sang Kecoak” (Insist Press, 2006).
Tahun 2005 mejadi Duta Kesenian dalam Misi Kebudayaan ke Malaysia .

alamat

JL. CILEMBANG No. 57 RT. 002/015
DESA/KEL. CILEMBANG KEC. CIHIDEUNG
KOTA TASIKMALAYA-JAWA BARAT
081 323 195 766