Cerpen : Bode Riswandi

alamak, maut yang baik tidak melihat kemewahan.
tapi mereka juga anjing yang baik
yang mewariskan kemewahan***

Di kota, rumah yang tak ada anjingnya, barang tentu itu rumah milik seseorang yang kere. Siapa yang anjingnya lebih besar, gengsinya paling tinggi. Maka di kota orang-orang sibuk berlomba mencari anjing yang gede-gede.
Ada yang pulang balik tanah air membawa anjing-anjing impor. Ada pula yang mengawinkanya, antara anjing lokal dengan yang impor. Yang jelas anjing dengan postur  gede dan tinggi yang mereka cari. Jinak atau galak bukan lagi ukuran.
Bilamana malam tiba, kota pecah dengan gonggongan. Suara ini jadi lebih akrab ketimbang klakson dan generator pabrik. Anjing yang gonggongannya paling lama, dialah tipe anjing dengan kualitas paling super. Orang-orang kota berebut mencari anjing super. Saling sikut nyari obat yang membuat napas  anjing jadi panjang.
Seperti biasa, mereka pulang balik tanah air demi mendapatkan obat itu. Konon katanya, hanya di Amerika obat paling bagus itu dipasarkan. Pernah satu ketika satu pesawat penuh oleh penumpang yang hanya akan membeli obat itu. Betul, hanya karena  prestise  dan gengsi, mereka mau melakukan semuanya.
Kini di kota harga diri diukur dengan anjing yang posturnya paling tinggi dan gede, serta gongongannya yang panjang. Yang tak punya anjing berarti keluarga kere. Keluarga yang bernasib malang. Kalau dalam bahasa budayanya, keluarga yang demikian  harus tahu diri segera memiliki anjing, atau menyingkir dari peradaban anjing.
Dan memang kota akan semakin terasa kejam bagi keluarga-keluarga yang tidak mampu mengimbangi trend. Terutama trend tetangga….
***
“Anjing bedebah! Tiap pagi dasiku hilang satu. Belum kapok rupanya dia kutimpuk sepatu. Lain kali pasti akan aku cingcang. Sampai piek.” amuk Tuan Baron dalam kamarnya.

“Aku kan  sudah bilang Pah, anjing itu memang tukang bikin masalah di rumah ini. Mana hidungnya rubak. Si buntut pendek itu harus secepatnya kita buang, atau pateni sekalian. Kali ini pasti dasi yang dari Inggris kan? Setelah kemarin yang dari Argentina robek pula digigitnya. Oh…Tuhan bencana apa lagi rupanya?” keluh Nyonya Baron dengan raut kesal.
“Ya…tapi tidak segampang itu. Mamih tau sendiri kalau si buntut pendek itu sangat sensitif”
“Apa uang kita tidak cukup untuk menyewa tukang? Atau beli senapan biar kita  tembak dia dari jauh?”
“Tentu papa pikirkan itu”
Anjing tetangga makin hari bertambah keras lengkingannya. Waktu kantor jadi habis di rumah. Mereka akan sangat puas mendengar anjingnya menyalak. Lalu keraslah mereka terbahak dengan dipaksakan, agar tetangga mereka dengar. Masing-masing tak mau kalah. Tertawa mereka semakin serupa saja dengan anjing-anjingnya.
“Anjing yang sumbang!” teriak salah seorang di atas loteng.
“Tidak, anjingmu yang busung” balas seseorang yang entah dari rumah yang mana. Terus saja, berulang-ulang makian semacam ini. Di kota ini
Tambah mengerikan saja. Halaman hijau rumah mereka kini ludes. Buat apalagi kalau bukan untuk rumah anjing. Jika seseorang membangun rumah bagi anjingnya mewah, yang lain akan lebih mewah. Juga Tuan Baron, meski ia sering dipusingkan dengan anjing yang sering menggigit dasi impor, tetap gengsi nomor wahid baginya.
Dibangunlah rumah buat anjingnya yang nakal itu lebih mewah dari yang lain. Jika tetangga membangun lebih tinggi, yang lain, apalagi Tuan Baron terus membangunnya lebih tinggi dari pada yang lain.
Alamak, bertahun-tahun sudah saling pamer kekuatan berlangsung. Yang tidak punya anjing, atau “orang kere” masyarakat kota itu bilang, entah jadi apa mereka.
“Pap lihat, rumah anjing itu jadi lebih mewah dari rumah kita” agak kesal Nyoya  Baron rupanya.

“Tetapi tetangga kita juga demikian, Mam. Lubis yang pengacara, atau Simudjoyo yang profesor itu, tak boleh lebih baik dari Papa” ungkapnya “Pokoknya demi harga diri kita, anjing mereka tidak boleh lebih kaya dari anjing kita” lanjut Tuan Baron sambil menatap rumah-rumah tetangga di balik jendela loteng. Bangunan-bangunan makin tinggi saja. Ia akan serupa gedung pencakar langit. Padahal anjing. Hanya seekor anjing.
Orang yang kebetulan melintas dengan mobilnya ke kota itu, jelas akan membaca sebuah papan jalan dari plat kaleng warna hijau dengan nama Jalan Pahlawan. Namun kini mereka sudah paham benar, bahwa nama jalan pahlawan itu sudah kalah pamor dengan anjing.
Setiap mereka lewat, kapanpun waktunya, selalu saja salak anjing yang panjang menyambut mereka. “Ini Jalan Anjing sepertinya, bukan lagi Jalan Pahlawan yang kita kenal itu,  sayang!” cakap pasangan muda di mobil sedan merah tua sambil dibalas senyum pasangannya yang memiliki tahi lalat tepat di bawah matanya.
“Tapi apakah kerja mereka hanya memanjakan anjingnya? Lihatlah, rumah-rumah anjing itu, dari rumah anjing Baron, rumah anjing Simudjoyo, rumah anjing Lubis, dan rumah anjing lainnya, sudah seperti hotel yang sering kita kunjungi saja. Mewah. Kerlap-kerlip setiap sisinya?”
“Namanya juga hobi, manisku. Apa pun pasti dilakoni. Hotel bintang lima itu juga kan, bagian dari hobi kita?”  sedikit memancing.
“Nakal!” sambil nyubit paha kanan lelakinya. Sekonyong gas keinjak. Dan hilang di balik temaram perempatan pertama.
Tak pernah sepi. Bising melulu. Tak ada yang marah dengan kebisingan ini. Sebab mereka akhir-akhir ini memang maniak kebisingan. Jika tidak bising, sengaja anjing mereka pukul dengan apa saja. Pecut. Kayu. Martil boleh jadi. Yang penting menggonggong sekeras mungkin. Bila perlu, moncong senapan mereka perlihatkan kepada anjing-anjingnya. Bukan manusia saja, anjing pun tahu, di lobang itu maut dengan cepat menyergap. “Jadi menggonggong saja sebanyak mungkin” begitu dari lubuk sanubari paling dalam, si anjing berbicara.
***
Orang-orang mewah itu genting sekarang. Terlebih Tuan Baron. Satu persatu anjing tetangga mati tak beralasan. Ada yang berbusa mulutnya. Kejang-kejang. Mata biru. Juga yang biru-biru sekujur tubuhnya, luka karena gebukan. Persis nasibnya seperti TKI yang malang di negeri sebrang.  Padahal rumah anjing sudah sangat mirip hotel bintang lima. Fentilasi sesuai standar kesehatan dunia. Juru-juru lengkap dengan perlengkapan detektor. Apa lagi yang kurang coba? Maut rupanya tak mengenal kemewahan itu.
Orang-orang mewah itu paniknya bukan main. Tak kentara. Mereka takut anjingnya senasib dengan anjing tetangga itu. Benar saja, maut tak menyisakan satu anjing pun yang masih menyalak di sepanjang Jalan anjing ini (maaf! Jalan Pahlawan maksud saya). Tuan Baron juga yang lain stres tak tertolong. Orang-orang mewah itu menangisi anjingya. Bukan masalah lolongan saja mereka bersaing. Rasa sedih pun jadi komoditi. Padahal sebelumnya, gengsi mereka melakukan ini. Tapi ini anjing. Perihal anjing kebanggaannya. Jadi wajib bersaing. Termasuk urusan cengeng satu ini.
Tangis mereka saling bersaing lebih keras dengan tetangga yang sama-sama dirundung duka, seperti riwayat anjingnya sewaktu hidup. Tangisan paling nyaring dan lama dialah sebetulnya yang sudah mendarah daging dengan harga diri dan kemewahan yang dibangunnya. Bagian daripada anjingismehollic katanya.
Sulit rasanya untuk berbahasa manusia, bagi Tuan Baron dan para tetangganya itu.  Apa lacur, kini istri Tuan baron tak lagi mengeluhkan tentang dasi amerika atau argentina yang robek itu. selain mengonggong. Begitu juga sang suami. Mereka saling menggonggong. Tetangga menggonggong.
Dengan gaya bicara yang baru, orang-orang mewah itu saling tidak paham apa yang diinginkan pasangannya itu. mereka bekerja sendiri-sendiri.
Arwah-arwah anjing yang meninggal dunia sepekan lalu, mewarisi rumah megahnya kepada mereka. Rumah mirip hotel bintang lima. Cukup sadar mereka menghuninya. Bertahan kerasan pula. Namun bahasa manusia tidak kerasan dalam diri mereka. Bagi mereka sekarang, bahasa manusia itu lir ibarat bahasa yang berkembang di zaman batu.

Mungkin. Ini masih kemungkinan lho! prediksi saya sebagai orang kere yang tak sempat punya anjing, jika saya kembali menempati rumah di jalan pahlawan itu sekarang,  dalam situasi yang aneh ini, saya masih tak akan memiliki jatah untuk hidup di sana. Sebab keluarga-keluarga yang tidak mampu mengimbangi trend,  terutama trend tetangga seperti Tuan Baron, Lubis, Simudjoyo yang menemukan cara komunikasi yang baru, aduh jangan harap bisa diterima deh. Ya, terpaksa aku meski rela tetap menjadi orang kere di musim ini.
Jalan mendadak sepi. Hanya mobil sedan merah tua yang melaju santai melewati rumah-rumah anjing itu “Sayang, kita kembali ke hotel. Aku sudah sampai di Jalan Anjing. Kamu ndak boleh lama-lama, ya!” ucap lelaki dalam telepon di mobil itu, sebelum akhirnya menghilang di balik temaram di perempatan pertama.

Tasikmalaya, 22 Juli 2009

Bode Riswandi, lahir di Tasikmalaya 6 November 1983. Alumnus FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia (Unsil) bergiat di KOMUNITAS AZAN, Sanggar Sastra Tasik (SST), Teater 28. Menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Beberapa karyanya dimuat di Pikiran Rakyat,  Majalah Syir’ah, S.K. Priangan, Tabloid MQ, Puitika, Lampung Post, Koran Minggu, Majalah Sastra AKSARA, Jurnal Bogor, Tribun Pontianak. Juga terkumpul dalam antologi Biograpi Pengusung Waktu (RMP, 2001), POLIGAMI (SST, 2003), Kontemplasi Tiga Wajah (Pualam, 2003), Dian Sastro For President #2 ( Akademi Kebudayaan Yogyakarta 2003), JURNAL PUISI (Yayasan Puisi, Jakarta 2003), End of Triliogy (Insist Press, Yogyakarta 2005),Temu Penyair Jabar-Bali (2005), Lanskap Kota Tua (WIB, 2008), Tsunami, Bumi Nangroe Aceh (Nuansa, 2008), RUMAH LEBAH Ruang Puisi (Yogyakarta, 2009). PEDAS LADA PASIR KUARSA antologi Temu Sastrawan Indonesia II (2009). MENDAKI KANTUNG MATAMU (Ultimus, 2010).
dan Antologi Pemenang Sayembara Cerpen Nasional “Sang Kecoak” (Insist Press, 2006).
Tahun 2005 mejadi Duta Kesenian dalam Misi Kebudayaan ke Malaysia .

alamat
JL. CILEMBANG No. 57 RT. 002/015
DESA/KEL. CILEMBANG KEC. CIHIDEUNG
KOTA TASIKMALAYA-JAWA BARAT
081 323 195 766