Cerpen : D Kemalawati

“ Apa yang kau cari Dahaga,” ucapnya dalam lepuh duka lara.
“ Sesuatu yang tak mungkin kuceritakan padamu, Telaga.”
Tak ada tatapan mata yang bisa diterka. Gesekan sol sepatu tua dengan pasir bercampur kerikil menandakan tubuh lunglai itu sudah menjauh. Dahaga mengharungi padang riuh penuh badai. Memanggul bungkusan perih di pundaknya.
“ Beri kesempatan bagiku untuk mengetahuinya, setidaknya untuk kali ini saja.” Telaga memburu menanggalkan rona merah jambu di pipinya.
“ Sudah tak ada waktu, aku harus pergi. “ Dahaga kukuh. Tak menahan langkah apalagi berbalik arah.
“ Tapi Dahaga, sekian lama kau nyata dalam diriku, tenang dalam panjang waktu. Benar kau sering mengeluh tak berdaya, tapi bagiku dirimu perkasa .”
“Jangan halangi aku Telaga. Aku telah menjadi parasit dalam nafasmu. Lihat betapa pasi wajahmu, melebihi warna bulan menjelang pagi.”
“Aku tak perduli, selama hangat dadamu masih kurasa, kau tak perlu pergi, Dahaga.” Tak ada lagi jawaban. Suara gesekan daun bambu dihembus angin tak lagi menjadi simfoni indah bagi Telaga. Langkah berat menjauh semakin samar terdengar. Pada akhirnya Telaga hanya melihat kegelapan dan kegelapan. Dahaga hilang ditelan pekat malam.

Dahaga benar-benar pergi. Sehari, dua hari, seminggu, berminggu-minggu Telaga mengharap ketukan pintu dan ketika membukanya, dia telah siap merebahkan sintal tubuhnya dalam pelukan Dahaga. Hingga suatu ketika pintu rumah Telaga benar-benar diketuk dari luar. Mereka mencari Dahaga.
“ Tak ada Dahaga… tak ada dahaga… aku menunggunya sekian lama…Dahaga tak pernah kembali”
Telaga meraung, menjerit, melolong, histeris.
“ Yang kamu tunggu sekarang sudah datang, kami lebih dahaga darinya. Kau adalah Telaga yang indah… kami haus… ha ha ha… haus sekali…ha ha ha…”
“ Jangan, jangan mendekat… Dahagaku, tolong.. “
“ Berteriaklah Telaga… teriaaakkk…ayooo… tak ada yang akan menolongmu. Kenapa tak kau ingatkan Dahagamu untuk tak mengganggu kami, tak menyerang markas kami..” Bentak seseorang sambil mencengkram kuat lengannya. Dia mungkin ketua gerombolan. Entah, Telaga tak mau tahu siapa dia. Dengan memakai sebu, lelaki kasar itu sudah jelas tak ingin dikenali.
“Dahagaku tak mungkin memanggul senjata, apa lagi menyerang kalian.” Ketus Telaga. Tak ada ketakutan terpancar di wajahnya meski seluruh anggota gerombolan itu sudah mengelilinginya. Bersiap-siap menerkam tubuhnya. Seperti Mak, ia juga akan mempertahankan diri sampai tetes darah terakhir.
“ Tidak mungkin katamu? Dia panglima… panglima sagoe yang sangat berpengaruh di kawasan ini, apa kamu tak tahu apa yang dilakukan selama ini… “
Apa yang dilakukan Dahaga selama ini. Dahaga rela meninggalkan Telaga dan calon bayinya untuk melakukan penyerangan. Benarkah?
Tak ada yang lebih benar kecuali apa yang sedang dirasakan Telaga.
Ya, orang-orang sedang kehausan itu mereguk air telaga dengan rakus. Telaga kering sekering keringnya. Lalu orang-orang yang telah kekenyangan itu memuntahkan peluru ke tubuh Telaga.
Telaga berselimut merah darah seperti kapas melayang menuju rawa-rawa setelah di ayun-ayun dari reo yang meraung-raung dini hari. Di tengah rawa yang luas itu, Telaga tak sendiri. Dia dapat merasakan langkah-langkah mendekat. Tapi sesaat kemudian terdengar suara mendehem yang agak keras. Langkah yang telah mendekat seketika berhenti.
“ Jangan mendekat… aku kenal siapa dia. Ya, dia Telaga, masih sangat muda. Dan yang lebih penting adalah anak dalam kandungannya masih bernafas. Aku butuh anak itu.”
Telaga mendengar beberapa langkah kaki menjauh. Lalu seseorang bertubuh besar dan kekar dengan kulit seperti jelaga mendekatinya. Lelaki itu seperti memiliki taring tanpa wajah yang jelas. Dengan sekali sentak tubuh Telaga terjungkal. Tak ada rasa sakit yang dirasakan kecuali jeritan dalam rahimnya yang membuatnya tersadar. Ia akan jadi ibu.
Seperti apa yang dilakukan ibunya dahulu, Telaga juga ingin melindungi anaknya. Tapi dia sudah menjadi angin. Tak teraba.
“ Telaga, aku akan membantumu mengeluarkan bayi ini dari rahimmu. Aku bisa melakukannya.”
“Tapi siapa kamu, aku tak melihat kau seperti mantri apalagi dokter…”
“Memang aku bukan mantri apalagi dokter. Tapi untuk persoalan kecil yang kamu hadapi ini, Serahkan padaku saja, semuanya pasti beres”
Seperti ketika Dahaga pergi, tak ada pilihan lain bagi Telaga. Dia membiarkan lelaki jelaga menolongnya. Telaga memejamkan matanya dan seketika saja ia sudah memiliki sayap. Dengan ringan meninggalkan rawa-rawa itu, menerbangkan semua perih, dan seperti awan yang tak teraba ia sirna.
Sesaat ia sadarkan diri lelaki jelaga dan bayinya itu sudah tak ada.

*****

“ Aku mencarinya, mencari anakku yang dilarikan lelaki jelaga.”Telaga memulai lagi ceritanya. Ketika itu matahari terang benderang. Ia berbicara tanpa melihat Feby. Di ruang 5 yang lengang itu mereka hanya berdua. Melalui jendela kaca yang terbuka, angin kerontang mengelus-elus rambut Telaga. Seperti pertemuan sebelumnya, Telaga juga tak mengenakan kerudung. Dia biarkan rambut hitam panjangnya terurai leluasa.
“Lelaki Jelaga itu mulanya menghindar ketika kutanyakan tentang bayiku, berbagai alasan dia kemukakan sambil merayu diriku agar mau mengabdi padanya. Para penghuni tempat ini semua takut dan akibat ketakutannya pada lelaki jelaga itu mereka seakan patuh pada apa saja yang diperintahnya. Tidak hal nya denganku Feby, aku akan menceritakan semuanya padamu, kamu temanku, hanya kamu yang dapat merasakan kehadiranku, dan kamu juga yang dapat melihat wujudku.”
Feby, remaja kelas dua sekolah menengah yang baru menempati gedung sekolah baru itu memandang wajah teman barunya itu dengan perasaan haru. Dia senang bisa memberi perhatian pada Telaga. Mendengar semua ceritanya dan berusaha mengajak Telaga untuk menerima keperihan yang dialaminya dengan kepasrahan seorang mahluk ciptaanNya. Dan Feby sudah berikrar untuk selalu menemani Telaga, setiap hari bila dia sekolah, ketika teman-temannya sedang ke musalla sekolah menunaikan shalat zuhur.
Tapi tak tahu kenapa, tiba-tiba Feby merasakan mereka tak hanya berdua di ruang lengang itu. Ada suara langkah berat dan kasar mendekat. Sesosok tubuh besar berwarna jelaga sudah berdiri di hadapannya. Telaga bergegas bergerak, berdiri di antara Feby dan lelaki Jelaga itu.
“ Jangan ganggu temanku.” Suara Telaga terdengar gusar.
“Tidak hanya temanmu ini, semua teman perempuannya akan aku pengaruhi bila kamu masih tetap berteman dan menceritakan semua keadaan kita disini padanya. Aku tak mau pindah dari sini. Dengar perempuan bodoh… bangunan sekolah
ini memang telah mengganggu kehidupan kita dan selama ini aku diam. Tapi sekarang setelah kau mulai berani menampakkan diri pada sahabat tololmu ini, maka aku akan bertindak.”
Feby melihat kegusaran lelaki jelaga dan kepanikan Telaga. Rasa sayangnya pada Telaga membuat dia lemah. Dari ujung kakinya menyusup mahluk halus menggelitik jiwanya mengajaknya menangis. Tangan dan kakinya terasa kaku dan dia tak bisa menahan semua gerak tubuhnya yang meronta-ronta. Feby marah melihat lelaki jelaga menjambak Telaga. Dia merangkul Telaga dengan sekuat tenaga dan mencoba menendang-nendang lelaki jelaga.
Penghuni rawa yang melihat bagaimana Feby menantang lelaki jelaga mulai bergerak. Satu persatu teman Feby di datanginya. Dan sekejap saja seluruh bangunan gedung megah itu terdengar suara riuh rendah, jeritan histeris dari gadis-gadis berseragam abu-abu putih terdengar dimana-mana.
Jangan coba-caba dengan kami penghuni rawa ini, seringai lelaki Jelaga di singgasananya.

Banda Aceh, 6 Maret 2010

Dimuat di Harian Aceh tgl 7 Maret 2010

D Kemalawati
Lahir di pantai Barat Meulaboh, 2 April 1965. Menulis puisi, esei, opini, cerpen dan novel. Memenangi beberapa lomba baca puisi ketika masih di bangku sekolah di Meulaboh, maupun ketika menjadi mahasiswa di FKIP Unsyiah Banda Aceh. Sering diundang membaca puisi baik di dalam dan di luar negeri. Di Dewan Kesenian Banda Aceh dipercayakan mengurusi bidang sastra.
Salah seorang pendiri Lapena, sebuah lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan dan masyarakat. Menyunting beberapa buku seperti Ziarah Ombak, Lapena 2005, Selayang Pandang Sastrawan Aceh, Lapena 2006, Wanita dan Islam, Lapena 2006, Buku puisinya terbit dalam dua bahasa Indonesia-Inggris berjudul Surat Dari Negeri Tak Bertuan diterbitkan Lapena 2006. April 2007 lalu, Kemalawati kembali meluncurkan novel perdananya berjudul Seulusoh. Sarjana pendidikan Matematika ini memilih profesi guru di sekolah kejuruan, di Banda Aceh sebagai pengabdiannya. Menjelang peringatan HUT RI 2007 memperoleh Anugerah Sastra dan Satya Lencana dari PEMDA NAD. Kumpulan opini pendidikan yang telah di publikasi di Harian Serambi Indonesia sudah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Pembelaan Seorang Guru,(Lapena 2007).