Prof. Yunita menyampaikan pidatonya

Pidato Ilmiah berjudul “Climate and Culture: Changes, Lessons and Chalenges”  dari Prof. Dra. M.A Yunita Triwardani Winarto, M.S., M.Sc., P.hD  membahana dihadapan civitas akademika UI dan beberapa undangan lainnya di gedung Balai Sidang UI Depok. Pada hari Kamis (04/03) itu,  berlangsung acara Award Ceremony and Scientific Paper Presentation yang merupakan penghargaan terhadap Yunita Winarto sebagai The First Academy Professor in Social Sciences and Humanities di Indonesia.

Selain Rektor UI, Prof. Dr der Soz Gumilar R. Soemantri, tampak hadir pula Presiden Akademi Pengetahuan Indonesia, Prof. Sangkot Marzuki, M.D., P.hD., D.Sc., dan Direktur Royal Netherlands Institutue of Southeast Asian and Caribean Studies, KITLV-Jakarta, Dr. Roger Tol.

Rektor UI mengaku bangga dengan Yunita Winarto atas keaktifannya dalam meneliti dan mengajar di berbagai universitas.”Berbagai macam aktifitas serta kemampuannya bekerja dan bicara pada institusi yang berbeda dengan tujuan mempromosikan kegiatan yang bersifat keilmiahan dengan sangat baik. Tidak jauh berbeda dengan Rektor UI, Sangkot Marzuki dan Roger Tol yakin Yunita Winarto mampu melakukan tugasnya sebagai profesor dengan baik serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang lintas disiplin. Roger Tol pun memberikan Kappa yakni semacam penghargaan kepada profesor yang banyak memberikan kontribusi atas pengembangan ilmu pengetahuan.

Yunita sadar akan tugas mulia yang diembannya sebagai seorang profesor pertama di Indonesia dalam bidang Sosial Humaniora yang mendapatkan penghargaan Kappa tidaklah mudah. Sebab harus bisa menerjemahkan visi dan misi program untuk memperkuat bidang akademis dan pengembangan ilmu pengetahuan sosial humaniora lintas disiplin dengan bidang ilmu lain yang berguna bagi masyarakat Indonesia. Penelitian lintas disiplin ini untuk masa yang akan datang sangat diperlukan bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang semakin kompleks.

Mengenai cara pengembangan ilmu pengetahuan lintas disiplin, Yunita menyarankan perlunya perubahan paradigma dan kebijakan serta perlunya mengatasi keterbatasan pengetahuan dan kemampuan manusia untuk memahami berbagai konsekuensi dari tindakannya pada diri sendiri dan orang lain. “Kita perlu meretas batas disiplin ilmu dan bidang kajian, merentang jejaring kerja sama dengan disipin ilmu lain dalam suatu kajian lintas disiplin bukan multidisplin”, jelasnya. Yunita yang aktif meneliti perubahan iklim dan pengaruhnya terhadap masyarakat petani di Wareng wilayah Jogya dan Indramayu Jawa Barat ini berupaya mengajak para ilmuwan sosial untuk bersama-sama menyelesaikan masalah perubahan iklim yang terjadi dewasa ini serta mencoba mengembangkan kajian lintas disiplin ilmu.

Ilmu sosial dan humaniora memiliki peranan yang signifikan dalam mengubah paradigma pengelolaan sumber daya alam dari eksploitasi yang berlebihan menjadi kesadaran etis, menciptakan sumber daya alam yang berkelanjutan serta mengurangi orang akan kerentanan. Kajian sosial humaniora bukan pelengkap dari ilmu alam melainkan merupakan inti dan bagian yang menyatu dari disiplin ilmu lainnya atas perubahan iklim. (Rif/Din)