Satu generasi sedang tertidur, pulas mendengkur.  Generasi tercecer, yang menunggu ditemukan. Agak sentimental memang, refleksi ketidakpuasan meluap-luap, serta unsur perlawanannya  ketat. Situasi yang buat para penggunanya, mungkin sangat pekat, dari jendela manapun mereka memandang.

Kalimat ini tidak asal melawan. Dia merepresentasikan kecerdasan sang kreator, serta kemampuan kognitif si pendengar, untuk menangkap sesuatu yang besar juga bangunan logika yang bertingkat. Namun mereka juga orang yang gentar, was-was dengan keadaan.

Kalimat-kalimat demikian, bahkan  yang lebih rumit, sering dijumpai di jalan, di forum ilmiah, artikel-artikel, jurnal dan juga dibuku-buku semisal filsafat. Kalimat yang bikin jidat Mengkerut, tidak mudah dicernah. Isi pesannya pada dasarnya ditujukan untuk semua, namun mungkin efektif hanya untuk orang-orang tertentu, dari kalangan tertentu, dengan daya intelijensi yang meluap-luap.

Tidak inklusif , namun mereka punya tempat dan peran dalam dunia pemikiran, dalam lalu-lintas informasi. Pesan tertentu hanya bisa dikomunikasikan dengan cara tertentu. Dalam perdebatan para kritikus seni, biasa diistilahkan perdebatan antara bentuk dan isi. Bentuk yang sempurna merepresentasikan isi yang sempurna pula. Isi yang sempurna tidak mungkin diwadahi bentuk yang cacat.

Ada pula perenungan yang dalam, isi rumit, namun dibahasakan secara sederhana.  Pesan seperti ini, mendorong kita untuk berkontemplasi, menghasilkan ide-ide kita sendiri, yang kadang hasilnya adalah pengembangan, dan tak jarang pula lepas sama sekali teks awal sebagai pijakannya. Dengan demikian pesan seperti ini memerdekakan, tidak membelenggu dengan koridor-koridornya, serta menciptakan warna-warni pada kehidupan ber-ide. Pesan seperti ini, kadang mampu menyentuh masalah dasar masyarakat kita. Masyarakat yang malas berpikir.

Berbeda dengan para cendikiawan, mahasiswa atau politisi, bahasa mereka tidak terasing dari realitas kokret. Lepas dari metedelogi-metedologi canggih produk perguruan tinggi. Mereka menganalisa sesuatu yang sederhana, memakai metodologi sederhana, yang pula lahir dari kondisi pergulatan yang sederhana.

Itulah petani kita, para nelayan dan rakyat miskin kita. Pesan sederhana, di komunikasikan secara polos, hingga kita tidak mampu menggairahkan diri untuk memikirkan, apalagi meresponnya. Pesan yang mungkin lahir dari persinggungan antara si subjek dengan realitasnya. Interaksi alamiah yang memantik ide-ide alamiah, tentang sawah yang hijauh dan nelayan yang dihempas ombak.

Memang, mereka tidak mampu mengkomunikasikan ide-idenya secara sistematis, dengan logika-logika yang solid. Namun satu hal yang jelas, pesan tersebut jujur.

Ada yang polos, ada pula tak beretika. Mereka memakai kerbau, untuk melukiskan seorang pemimpin. Pesan yang mungkin memerahkan kuping si presiden, hingga sang presiden mesti turun tahta mengkritik cara sipengkritik mengkritik.

Memang, menjadi presiden tidaklah mudah, apalagi disebuah negeri yang demokratis. Banyak suara-suara, banyak pula permintaan. Selain kadang tidak realistis, banyak pula bertolak belakang satu sama lain. Tapi yang paling tidak menyenangkan tentunya, menjadi presiden di negara demokratis berarti harus berhadapan dengan diri sendiri. Harus melawan hasrat otoriter yang tumbuh semakin bergairah bersama berjalannya waktu.

Mungkin sang presiden lupa, bahwa demokrasi, untuk menyingkap yang gelap-gelap perlu kebisingan, agar semua yang diam dapat berbicara. Perlu nada-nada sumbang, agar setiap yang tersembunyi, timbul kepermukaan. Demokrasi perlu ekspresif, agar semua bisa disaksikan. Demokrasi tidak pernah sunyi.

Kritik semacam itu mengancam, kata sang presiden. Lalu kita jadi bertanya-tanya, siapa yang terancam, presiden atau lembaga kepresidenan. Atau kata sang presiden, ini berhaya bagi demokrasi. Mungkin justru disitulah letak bahayanya. Presiden yang anti kritik menyumbat pipa-pipa demokrasi.

Penyelesainnya, sang presiden rasanya perlu mengintruksikan partainya, untuk menjadi lokomotif, bukan menajdi penghalang penyingkapan misteri century, agar orang tidak terjerembab ke kekecurigaan yang makin dalam.

Namun jauh dibalik perdebatan tentang posisi etika dalam berdemokrasi, jauh dalam usaha menghakimi fakta ke dalam dikotomi buruk dan baik yang sedang marak, satu hal yang pasti. Melihat para mahasiswa, petani, poltisi, cendekiawan dan hampir semua lapisan masyarakat bersuara, meskipun dengan cara mereka masing-masing dan dengan tujuan masing-masing, kita jadi bertanya “benarkah satu generasi sedang tertidur”. Pertanyaan yang mungkin sangat sulit kita temukan jawabannya. ( Nasrul Sani M Toaha )