hardin.k12.ky.us

“Mas tempat nongkrong para seniman dimana yah?” sebuah pertanyaan yang meluncur mulus dari mulut seorang anak muda yang belum genap dua puluh tahun usianya.

Seniman, sebuah kata yang sangat sering mampir di telinga kita. Sebuah nama yang biasanya dijadikan alasan seseorang untuk berekpresi, bahkan terkadang sampai melampaui batas. Celakanya hal-hal yang melampaui batas itu terpaksa kita maklumi karena ia mengaku seniman. Banyak hal yang bisa kita bicarakan tentang pertanyaan yang anak muda itu ajukan. Hal ini berbanding lurus dengan banyaknya jawaban yang bisa kita diskusikan.

Seniman atau orang yg mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelarkan karya seni (pelukis, penyair, penyanyi, berteater, dsb) tentunya orang yang mampu menciptakan seni baik modern maupun tradisional. Namun demikian tak sedikit orang yang mengganggap dirinya menjadi seniman setelah mampu keluar dari aturan atau norma-norma yang berlaku, hal ini tak jarang dipicu oleh orang–orang yang kita anggap ‘seniman’.

Seperti halnya pertanyaan diatas, seniman bagi mereka mungkin adalah orang yang merasa telah berhubungan langsung dengan hal-hal yang bersifat kesenian. Misalnya orang yang bisa main gitar, pernah ikut main teater, atau bahkan orang orang yang berpakaian/berprilaku asal-asalan.

Dalam dunia kesenian, kata seniman adalah satu kata yang berada pada level yang sangat tinggi. Seniman adalah sebuah kata yang hanya bisa disematkan bagi para maestro yang mempunyai karya-karya avangrade. Seorang bisa dikatakan seniman yaitu orang yang telah menciptakan karya baru yang fresh yang sebelumnya belum pernah lahir, atau ada hubungannya dengan karya-karya yang pernah lahir namun mengalami peningkatan yang signifikan. Misalnya sebuah karya baru yang merupakan pengembangan dari karya lama yang menghasilkan sesuatu yang spektakuler.

Ada klasifikasi seorang penggiat seni menurut keterlibatannya, yang pertama Pre Art yaitu orang orang yang baru saja berhubungan dengan dunia seni. Kemudian Seni Kid, yaitu mereka yang baru ikut dalam satu atau dua kegiatan kesenian. Selanjutnya Seni Child, yaitu orang yang sudah masuk dunia kesenian dan baru diakui bahwa dia mau terjun di dunia kesenian. Baru Seniman, orang yang telah diakui karya-karyanya dan loyalitasnya dalam hal kesenian. Namun ada lagi yang paling tinggi derajatnya Yaitu Senimang, orang orang seperti ini adalah orang-orang yang telah diakui karya karyanya dan mereka mengabdikan hidupnya hanya untuk kesenian dan pengembangan budaya, orang-orang seperti ini nyaris tidak akan kita temui di masa sekarang.

Dalam prespektif kapitalistik, produk kesenian bukan lagi bertujuan pengembangan dan keberpihakan kepada nilai-nilai seni. Kesenian telah berubah bentuk menjadi sebuah alat produksi seni demi mencapai keuntungan materi. Hal ini menimbulkan reorientasi masyarakat seni dalam berkreasi. Berkarya bukan lagi sebuah ekspresi tetapi berkarya didasari untuk mengejar label pribadi, yang bertujuan menjadikan sebuah karya seni akan akan dapat diperhitungkan jika kreator seni telah mempunyai gelar-gelar seperti diatas. Tanpa peduli dengan hak hidup karya itu sendiri. Kasus seperti ini membuat nilai sebuah karya seni mengalami penurunan drastis. Hak dari sebuah karya seni adalah mempunyai kehidupan sendiri tanpa adanya keterkaitan dengan sang kreator. Seperti halnya manusia dengnan Tuhan. Misalnya, sebuah lukisan tetaplah sebuah lukisan yang menggambarkan tentang kehidupan dari dunia lukis itu. Lukisan yang di buat oleh Van gooh akan sama nilainya dengan lukisan yang diciptakan Nasrul Sani (mungkin hanya saya dan beberapa teman yang kenal) ketika dalam proses penciptaannya sama-sama memberikan jiwa dan kehidupan pada karyanya. Jiwa pada sebuah karya akan sangat terasa walau oleh orang yang tak berkecimpung dalam dunia seni. Seharusnya sudah tidak ada kalimat ‘inilah karyaku’ tetapi seharusnya ‘inilah karya itu’.

Dalam perkembangan dunia seni yang memprihatinkan itu, sebagian besar para ‘seniman’ sudah tidak lagi berpihak pada dunia seni yang mereka ciptakan. Kesenian hanya dijadikan keledai tunggangan untuk mencapai tujuan pribadi sang kreator, jangankan untuk keseniannya bahkan untuk para penikmat senipun mereka tak peduli, yang penting sang kreator bisa eksis.

Dengan demikian kesalahan tafsir tentang seniman dan kesenian, dikarenakan tidak adanya batasan antara dunia riil kreator dengan dunia riil sebuah karya. Maka jika ada lagi pertanyaan “ dimana tempat nongkrong para seniman?” jawabnya “ di langit ke tujuh”. (Ayat Muhammad)