Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, dan sepertinya hari itu akan menjadi hari yang terik karena matahari sudah sangat terik memancarkan sinarnya. Semua orang sudah memulai aktifitas kesehariannya, seorang pedagang sudah mulai menggelar dagangannya, guru sudah mulai memberikan ilmu bagi murid-muridnya dan pegawai negeri sudah mulai menyeduh kopi kemudian membaca Koran di kantornya masing-masing atau mungkin baru sampai ke kantornya.

Pun demikian dengan bang Abeng, salah satu penjual nasi uduk di Jalan Raya Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Bang Abeng, bukanlah penjual nasi uduk biasa yang sering di temui di pasar-pasar atau di perkampungan-perkampungan di daerah Jakarta. Dia mempunyai latar belakang sebagai seorang aktivis organisasi mahasiswa Islam yakni HMI.

Ya….alumni HMI yang berprofesi sebagai penjual nasi uduk. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi bang Abeng. Bang Abeng, adalah salah satu kader HMI Cabang Jakarta angkatan tahun 1985 yang pernah kuliah di Institut Habibie Jakarta dan Universitas Indonesia meski hanya sampai semester satu.

Dalam aktivitas ke-HMI-annya, Bang Abeng pernah menjadi ketua Komisariat Habibie dan pernah menjadi pengurus HMI Cabang Jakarta.  Selain itu, dalam pendidikan formal ke-HMI-an, beliau sudah melewati jenjang pendidikan Latihan Kader dua (LK II).

Menurut Bang Abeng, menjual nasi uduk adalah profesi yang tanpa resiko, tanpa stres dan tidak ada tekanan. “kalau jualan nasi uduk itu, santai, tidak capek dan tak ada tekanana. Kalau tidak laku, ya dimakan sendiri” tutur Bang Abeng.

” Saya dulu pernah jadi asistennya anggota DPR, pernah juga jadi pekerja professional, dan pernah jadi guru sekolah. Jadi saya sudah puaslah bekerja sebagai pekerja professional. Selain itu, saya ingin membuktikan bahwa menjadi kader HMI itu tidak harus berorientasi jadi politisi, karena yang terjadi dari dulu kader HMI itu hanya tertarik pada politik saja” demikian Bang Abeng menuturkan.

Itu lah cerita seorang alumni HMI yang berjualan nasi uduk. Bertemu alumni HMI yang menjadi anggota DPR merupakan hal yang lumrah, apa lagi bertemu dengan menteri, pejabat lembaga negara, pengusaha sukses, pegawai negeri, pegiat LSM, atau mungkin guru. Namun, bagaimana halnya jika seorang kader HMI bertemu dengan alumninya yang berprofesi sebagai penjual nasi uduk? (Sunardi Panjaitan)