Satu lagi karya fiksi bernuansa pendidikan mencoba menyusul kesuksesan Laskar Pelangi dan tetraloginya. Bila tantangan pendidikan yang dihadapi oleh anak-anak Laskar Pelangi adalah keterbatasan kehidupan dan kemiskinan, maka Negeri 5 Menara menggambarkan suatu tantangan lain yang tidak kalah berat yang dialami oleh anak-anak muda dalam suatu proses meraih mimpi. Tantangan itu berada dalam suatu tradisi dan kehidupan yang bernama pesantren.

Istilah pesantren memang bukan hal yang aneh dan sudah populer di telinga masyarakat Indonesia. Ia adalah sebuah tradisi yang mengawali proses perjalanan pendidikan di Indonesia. Jauh sebelum adanya sistem pendidikan modern seperti sekarang, pesantren telah memainkan perannya dalan transformasi keilmuan seiring dengan transformasi ajaran Islam di Indonesia. Meski demikian, bukan berarti semua kehidupan dan tradisi dalam pesantren dikenal dan diketahui oleh masyarakat luas.

Tentu kita masih ingat dengan fenomena kontroversi film Perempuan Berkalung Surban yang mengguncang dunia pesantren. Dalam film tersebut diungkap salah satu sudut fakta pesantren yang dianggap oleh sebagian kelompok sebagai tradisi pesantren, seperti poligami, diskriminasi terhadap perempuan, kuno, ketinggalan zaman, tradisional, dan kesan-kesan negatif lainnya. Tentu saja tidak semua gambaran itu bisa dibenarkan. Karena bagaimanapun, peran dunia pesantren dalam pembentukan generasi-generasi unggul di negeri ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Salah satu fakta penting pesantren dalam pembentukan karakter generasi muda, begitu apik disajikan oleh novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Dalam karyanya, Fuadi banyak mengungkap fakta penting yang selama ini menurut sebagian orang masih teka-teki. Ia misalnya mengungkap tradisi sebagian pesantren yang mewajibkan setiap santrinya untuk bisa menguasai bahasa Inggris dalam waktu tiga bulan. Pesantren juga menerapkan tradisi disiplin tinggi yang tidak kalah dengan tradisi disiplin militer. Melalui karya ini pula, Fuadi mencoba menghilangkan kesan pesantren yang kuno dan ketinggalan zaman. Dan dari karya ini juga terungkap, bahwa kelompok santri yang terkesan kolot dengan simbol sarungan ternyata tidak serta merta ketinggalan zaman.

Kisah dalam novel ini berisi tentang semangat tinggi, motivasi kuat, dan optimisme yang keras enam anak muda dalam memperjuangkan cita-cita mereka. Dengan kekuatan pandangan hidup, kekuatan ikhlas, dan perasaan prasangka baik kepada Tuhan, keenam anak muda ini berusaha mencapai prestasi serta mimpi tinggi. Kisah ini semakin lengkap dengan kisah kasih dari hubungan persahabatan yang kokoh, kasih sayang antara anak dan ibu, dan juga kasih hangat murid dan guru.

Sekali lagi kekuatan mimpi itu terbukti, siapapun mereka yang bermimpi. Anak-anak muda dari berbagai pelosok negeri, bahkan dari pelosok terpecil sekalipun mampu meraih mimpi-mimpi mereka dengan kerja keras dan semangat juang yang luar biasa. Mantera mereka yang sangat terkenal, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, senantiasa memotivasi mereka, dan juga pasitnya para pemimpi-pemimpi lain dalam peraihan mimpi-mimpinya.

Kisah ini menjadi menarik karena seperti halnya Laskar Pelangi, kisah yang diceritakan berdasarkan kisah nyata. Dari dasar ini, pembaca seolah-olah diajak ke suatu daerah di pelosok desa di Jawa Timur dengan ragam kehidupan nyata di dalamnya dengan elaborasi-elaborasi apiki layaknya karya fiksi lainnya. Kisah yang tertulis juga terkesan mengalir, tidak menggurui, dan ringan, namun tetap mampu menyampaikan pesan-pesan utamanya, yaitu suatu realita dunia pesantren yang indah dan menantang. Dan akhirnya kehidupan yang penuh teka-teki itupun terungkap. (Zuhriyyah)