etriptips.com

Dengan dibalut jas dan sorban khas Thailand Selatan yang melingkar di leher, Dr. A. Halim Dinnah dari Prince of Songkla University, Thailand, masuk ke sekretariat PB HMI yang sangat sederhana di kawasan Manggarai, Jakata Selatan pada selasa malam (22/12). Malam itu, dia didaulat untuk berbicara tentang islam di Thailand dalam diskusi terbatas yang digelar PB HMI MPO.

Mahasiswa dari Thailand yang tengah belajar di Jakarta juga hadir dalam forum. Saya sendiri tidak tahu darimana mereka mendapat kabar diskusi ini, tiba-tiba saja mereka nongol berempat dari kegelapan lorong masuk sekretariat PB HMI yang menyelinap. Bagi yang belum pernah ke markas PB HMI rasanya susah menemukannya. Kalau tidak tersesat, pastilah ia akan pulang kembali kecuali meminta penghuni menjadi pemandu yang setia. Ini juga yang dilakukan terhadap Dr. A. Halim, kita jemput di seberang jalan besar dan dipandu menyelinap ke markas PB dibawah temparam lampu yang tertutup daun lebat.

Dr. A Halim orangnya hangat, tenang, sedikit kurus namun urat mukannya menampakan kematangan dalam hidup.  Suaranya pelan, namun mengena. Datar namun mendalam. Aksentuasinya jelas, dan pemikirannya jernih.Sepertinya dia sudah tahu banyak tentang HMI, maka tidak heran diawal paparannya langsung bertanya, ” Ini HMI Islam?” Ia banyak mengenal tokoh-tokoh Islam, khususnya dari HMI. Maklum saja puluhan tahun silam, Halim sempat berjibaku dengan aktifis gerakan Islam di Indonesia. Sebut saja nama-nama tokoh DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia). Di jogja ia juga berkelana dan menjalin pertemanan dengan Amien Rais, Alm. Syahirul Alim, Emha, dan Said Tuhuleley.

Mengkonsolidasikan Perjuangan
Menurut Dr. A. Halim, ada tiga strategi utama dalam mengkonsolidasikan perjuangan Islam terutama di kalangan aktifis gerakan muda Islam. Pertama  menguatkan fondasi dasar. Fondasi yang harus dibenahi adalah menguatkan tauhid dengan secara intensif menjalankan hal-hal yang disunahkan oleh Rasul, terutama sekali adalah shalat jamaah di masjid. “Apakah tempat ini (markas PB) deket masjid?,”tanya Halim agak menyelidik.

Menurut  Dr. A. Halim hikmah dari shalat di masjid bukan hanya soal pahala, namun memiliki fungsi sosial memahami dinamika masyarakat. Dengan berjamaah di masjid, maka kita berjumpa dengan masyarakat, mengenal mereka dan memahami dinamika mereka. Selain menegakan shalat jamaah di masjid, perlu juga aktifis HMI merutinkan ibadah-ibadah sunah seperti shalat witir, tahajud, rawatib dll.. Sebuah kebiasaan yang sebenarnya pernah diajarkan dalam Batra, namun memang perlu direvitalisasi kembali. Sederhana, namun tidak banyak orang yang bertahan. Terlalu banyak godaan, dan terlalu berseliweran segala urusan.

Dr. A. Halim menyakini tanpa fondasi tersebut perjuangan akan hampa dan mudah ditelikung oleh lawan lewat godaan kekuasaan, kemasyhuran, dan kekayaan di tengah jalan. Lagi-lagi sebelum sampai tujuan, sudah berantakan ikrar yang telah diteriakan. Fondasi ini juga yang akan menguatkan ketika menghadapi kesusahan, kesempitan dan kegagalan. Hati akan selalu mendapat cahaya rahmat meski tengah dirundung malang.

Kedua, setelah fondasi terbangun dengan kokoh, maka membangun jaringan internal di negeri dalam. Ada dua jaringan internal yang harus dibangun, yaitu jaringan kampus melalui para intelektual muslim dan jaringan media untuk publisitas. Mengapa jaringan kampus dan bukan jaringan kampong?. Karena masyarakat terdidiklah yang bisa menghasilkan ide dan gagasan dan menggerakan perubahan. Selalu ada aktor terdidik yang menunggangi kerumunan yang dimobilisasi. Oleh karena itu penting sekali HMI memperkuat kembali basis-basisnya di kampus terutama membangun perjalinan intelektual dengan para profesor dan doktor sehingga intelektualitas HMI tidak tercerabut. Terkait dengan soal publisitas sebenarnya lebih pada upaya membangun eksistensi dan pengakuan, bukan untuk menjadi takabur dan mabuk keterkenalan.

Ketiga, setelah bangunan jaringan internal kokoh, meskipun tidak mudah, barulah membangun jaringan eksternal lebih luas terutama di kawasan nusantara.  Kawasan nusantara yang dimaksud adalah Indonesia, Malaysia, Brunai hingga Thailand. Jadi ingat epos Arus Balik dengan tokoh Wiranggaleng karya Pramudya yang berupaya membangun kesatuan nusantara sampai negeri di atas angin, atau legenda Gadjah Mada soal sumpah Palapanya yang sampai kini masih kontroversi. Ada dua jalur yang beliau tawarkan untuk membangun jaringan kawasan Asia Tenggara ini, terutama di Thailand. Pertama tentu saja lagi-lagi lewat jaringan Universitas. Jaringan yang dibangun bukan hanya jaringan formal justu informal melalui pertautan individual intelektual muda muslim di kawasan. Untuk membuka jaringan ini, Dr. Halim menawarkan PB HMI terlibat aktif dalam “Forum Komunikasi Intelektual Muda” (FORKIM) Kawasan Asia Tenggara Indonesia-Malaysia dan Thailand yang kebetulan beliau sendiri bertindak selaku penggagas. Tahun 2010 mulai Januari sampai Juli FORKIM sudah memiliki agenda kegiatan seminar, wokrshop dan training di Singapura, Malaysia dan Indonesia. Kedua khusus untuk Thailand beliau menganjurkan membangun jaringan dengan pesantren yang menurut perspektifnya masih komit dengan perjuangan dan selaras dengan aqidah umat. Ada kekhawatiran kesalahan membangun jaringan eksternal di Thailand akan berakibat fatal bagi perjuangan saudara-saudara muslim di Thailand.

Membaca Selatan Thailand Dari Dalam
“Selatan Thai tidak butuh merdeka, kita sudah merdeka di tempat kita berada”, ungkap Dr. A. Halim penuh semangat mengawali kisahnya soal kondisi politik di Thailand Selatan. Dr. A. Halim tidak pernah menggunakan istilah “Thailand Selatan”, tapi selalu “Selatan Thailand”. Istilah Thailand Selatan adalah milik Thailand yang merasa bahwa wilayah muslim Pattani bagian dari mereka, sementara secara kultural dan politik muslim Pattani tidak pernah merasa bagian dari Thailand. Mereka punya wilayah sendiri yang kebetulan secara geografis berada di “Selatan Thailand”. Jadi istilah “Thailand Selatan” bermakna politis dan simbol penaklukan, oleh karena itu mereka mengubahnya menjadi sekedar istilah geografis menjadi “Selatan Thailand”. Soal identitas memang menjadi hal yang sangat penting dalam proses perjuangan gerakan-gerakan semacam ini, seperti muslim moro di Philipina Selatan, Muslim Aceh ato Gerakan Papua.

Mereka juga tidak mau disebut sebagai “Muslim Thai” yang gencar dikampanyekan oleh pemerintah Thailand. Sebagai perlawan simbolik mereka menyebut dirinya sebagai “Pattani Melayu”. Secara etnicity mereka adalah orang melayu dan orang melayu pastilah muslim. Istilah muslim thai sebenarnya istilah yang diintroduksi pemerintah thailand untuk mengintegrasikan melayu patani kedalam identitas nasional thailand. Jawaban Dr. A. Halim cukup unik, “Melayu dan Thailand dua bangsa yang berbeda mana mungkin disatukan, Thai adalah bangsa siam dan makan babi”.

Mengapa Selatan Thailand tidak butuh merdeka? dan mengapa mereka merasa sudah merdeka? Dari dulu rakyat Selatan Thailand tidak pernah diurus oleh pemerintah dan memang mereka juga tidak membutuhkan pemerintahan. Sekolah, masjid, jalan mereka bangun sendiri. Perekonomian juga mereka ciptakan sendiri. Mereka tidak butuh polisi, karena mereka bisa jaga kampung sendiri. Yang dibutuhkan oleh Selatan Thailand sekarang adalah pendidikan agar sedikit bisa bersaing dengan orang Siam. Bukan menyokong kemerdekaan. Karena gerakan kemerdekaan adalah skenario pemerintah agar menarik perhatian dunia sehingga menjadikan kawasan Selatan Thailand dikesankan sebagai basis Islam ekstrim dan bagian dari jaringan terorisme. Dr. A. Halim termasuk orang yang tidak mau masuk dalam skenario itu.

Selatan Thailand menjadi perhatian dan perebutan kepentingan pemerintah karena di kawasan ini menurut keterangan Dr. A. Halim menyimpan potensi minyak yang sangat besar lebih besar dari yang ada di Indonesia, Malaysia dan Brunei karena belum tergali dan tereksplorasi. Maka dari itu Pemerintah dengan bantuan kekuatan “asing zionis” berusaha sedapat mungkin menciptakan kawasan Selatan Thailand dalam ketidakstabilan. Mereka tidak senang orang Pattani hidup tenang dalam kecukupan, tinggi secara pendidikan, dan punya kedekatan dengan Saudara muslim lainnya di kawasan Asia Tenggara. Maka diciptakanlah teror, sehingga kabar yang keluar Selatan Thailand basis pembrontakan Muslim yang berupaya melakukan gerakan separatisme.

Dalam membangun pendidikan di Selatan Thailand, Dr. Halim telah berupaya memfasilitas pengiriman mahasiswa-mahasiswa Thailand untuk belajar di Indonesia dan Malaysia. Setiap tahunnya ada ratusan mahasiswa Thailand yang dikirim ke Indonesia tersebar di Sumatera dan Jawa.

Imam Subhan
Ketua Komisi Hubungan Internasional PB HMI MPO, Jakarta