Soe Hok Gie (Gie) adalah sosok aktivis mahasiswa UI yang meninggal 40 tahun lalu, namun namanya sampai sakarang masih di kenal. Gie, yang harus pergi dalam usia belia (27 tahun), adalah sosok aktivis tulen yang independen, lugas dan “tidak pandang bulu” dalam mengkritik. Baginya, mengkritik penguasa adalah bagian dari tugas suci gerakan mahasiswa, yang sampai kapanpun musti diperjuangkan.

Sewaktu rezim orde lama berkuasa, Gie memimpin mahasiswa melakukan protes terhadap rezim  Sukarno yang dianggapnya telah menyengsarakan rakyat. Pun ketika Sukarno akhirnya tumbang oleh gerakan mahasiwa, Gie tidak serta merta ikut bergabung dengan arus besar eksponen ’66 melakukan bulan madu dengan penguasa Orde Baru. Ia tetap konsisten melakukan kritik terhadap kekuasaan Suharto. Satu tahun semenjak Suharto mulai berkuasa (1968), ia kembali mengorganisir mahasiswa menentang pemerintah yang akan melakukan kooptasi terhadap siaran radio di kampus UI. “Bung karno telah menyengsarakan rakyat, tapi bukan berarti semua penentang Bung Karno adalah pahlawan pembela rakyat; banyak diantara mereka yang bajingan dan oportunis”, katanya. Itulah karakter Gie yang independen, berani, dan bersih.

Mengawali tahun 1998, mahasiswa kembali turun ke jalan menentang Orde Baru yang sudah berkuasa selama 32 tahun. Meski Gie tidak bisa bergabung dalam gerakan mahasiswa ’98, tetapi ruh Gie merasuk ke dalam jiwa para aktivis gerakan mahasiswa dalam melakukan aksi  di berbagai daerah. Puncaknya, Suharto tumbang oleh desakan arus besar gerakan reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa. Seperti pada fase ’60-an, arus besar bulan madu dengan penguasa baru terjadi secara massif. Mantan aktivis, pengusaha, dan para  oportunis berkelindan dalam sebuah persekongkolan besar membentuk  kekuasaan baru. Sebagian mahasiswa yang tidak masuk dalam pusaran kekuasaan baru kembali ke barak, menyelesaikan tugas-tugas akademik yang tertunda. Untuk sementara, gerakan mahasiswa diam dan menjadi penonton perdebatan senior-senior mereka yang berdebat soal pembagian kue kekuasaan di etalase-etalase halaman koran dan siaran TV.

Tapi akankah mahasiswa mereka akan diam selamanya? Akankah tradisi bangkitnya ruh Gie ketika negara dalam keadaan genting tidak akan terjadi lagi? Jawabannya tentu tidak. Ruh Gie akan selamanya merasuki para aktivis gerakan mahasiswa dan akan bangkit ketika negara dalam keadaan genting. Ketika keadilan dicabik-cabik, ketika hukum diperjual belikan, ketika korupsi merajalela di segala bidang, dan ketika penguasa dengan pongahnya mencabik-cabik rasa keadilan hati nuarni rakya, maka saat itulah ruh Gie akan bangkit dan merasuki para aktivis di kampus-kampus.

Hakikat ruh Gie adalah hakikat kebenaran, suara ruh Gie adalah suara hati nurani rakyat yang gemar akan kebenaran dan gandrung akan keadilan. Saat ini, di mana rasa keadilan rakyat permainkan oleh para bandit Kepolisian dan Kejaksaan, saat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mustinya menyuarakan suara rakyat justru malah mengingkari suara hati nurani rakyat, maka ruh Gie akan bangkit kembali. Meski skalanya belum terlalu besar, ruh Gie sudah menyebar ke para aktivis gerakan mahasiswa yang aktif bergerak turun ke jalan-jalan menentang kepongahan lembaga Polri dan Kejaksaan beberapa minggu ini. Dan sebentar lagi, ribuan mahasiswa yang terasuki ruh Gie akan turun ke jalan menuntut penyelesaian kasus Bank Century yang telah merugikan negara sebanyak 6,7 trilyun rupiah. Mereka akan kembali bersuara lantang menyuarakan hati nurani rakyat menentang penguasa yang zalim. Bersediakah Anda bergabung bersama kami?

M. Chozin Amirullah
Ketua Umum PB HMI