Mahasiswa harus siap  demonstrasi lagi. Itu himbauan Alumnus angkatan 89 Universitas Indonesia,  Muhammad Nasir dalam diskusi “Peran Gerakan Mahasiswa Pada Masa Transisi” yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, di Jakarta, Jumat (9/10).

Menurut Nasir, suksesnya gerakan mahasiswa dalam menggulirkan era reformasi tahun 98 lalu adalah karena masing-masing gerakan mahasiswa disatukan oleh satu musuh bersama, yaitu Soeharto. Agenda yang disampaikan oleh masing-masing gerakan mahasiswa pun sama, yakni berantas KKN dan turunkan harga kebutuhan pokok serta “HarGa’ (soeHarto & keluarGa) dari tampuk kekuasaan.

Selain itu, kata Nasir gerakan mahasiswa pada waktu itu juga disatukan oleh alat-alat komunikasi, yakni TV, radio, dan media massa. Internet pun juga berperan meski kurang signifikan.

Kekuatan lain menurut Sekjen Aldera (Aliansi Demokrasi Rakyat) tersebut, adalah gerakan mahasiswa pada dasarnya tidak bisa dipatahkan, karena tidak ada koordinasi langsung atau tiadanya kepemimpinan tunggal. “Namun setelah Soeharto ‘turun’, maka agenda jadi berantakan, karena ada kepentingan masing-masing,” sesalnya.

Ditambahkannya, pada masa transisi ini mahasiswa juga harus turut mengontrol pemerintah agar tidak kembali lagi kepada sifat-sifat otoriter. “Bila perlu, mahasiswa harus siap demonstrasi lagi kalau masih ada peraturan warisan peningggalan rezim otoriter, misalnya mahasiswa dilarang melakukan demo terhadap pemerintah,”, katanya.

Natsir tidak sepekat kalau gerakan mahasiswa adalah gerakan moral, bukan politik. Justru menurutnya secara faktual gerakan mahasiswa adalah gerakan politik. “Tepatnya, saya melihat gerakan mahasiswa adalah gerakan politik yang mengambil isu-isu moral,” ujarnya. (Rita Z)